Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Dana, Ini Hambatan Krisis Iklim Menurut Dino Patti Djalal
Founder FPCI Dino Patti Djalal dalam INZS 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Dino Patti Djalal menegaskan hambatan utama menuju net zero emission bukan dana atau teknologi, melainkan kurangnya kemauan politik untuk menjalankan komitmen iklim secara nyata.
  • Ia mendorong Indonesia mempercepat transisi energi bersih dengan merealisasikan target pembangunan 100 gigawatt energi terbarukan agar menjadi inspirasi bagi dunia internasional.
  • Dino mengajak generasi muda memimpin perjuangan menghadapi krisis iklim karena dampaknya akan paling dirasakan oleh mereka yang hidup di masa depan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dino bilang dunia mau bikin udara bersih tapi susah karena banyak pemimpin belum sungguh-sungguh mau jalanin janji. Katanya uang dan alatnya sudah ada, cuma niatnya yang kurang. Ia juga bilang Indonesia bisa cepat pakai energi dari matahari dan angin kalau semua kerja sama. Dino minta anak muda bantu jaga bumi supaya masa depan tetap baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai tantangan terbesar dalam mewujudkan target net zero emission bukan terletak pada keterbatasan pendanaan maupun teknologi. Menurutnya, hambatan utama justru berasal dari kurangnya kemauan politik untuk menjalankan berbagai komitmen yang telah disepakati.

Dino mengatakan berbagai negara sebenarnya telah memiliki sumber daya yang cukup untuk mempercepat transisi menuju energi bersih. Teknologi terus berkembang, dukungan lembaga internasional semakin besar, dan pendanaan untuk proyek-proyek hijau juga tersedia.

Namun, ia menilai berbagai peluang tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena banyak pemerintah masih menempatkan isu perubahan iklim di bawah kepentingan lain, seperti geopolitik dan keamanan.

1. Dino sebut kemauan politik menjadi tantangan terbesar

Dino Patti Djalal dalam Ngobrol Seru IDN Times membahas perubahan iklim. (IDN Times/Fauzan)

Dino mengatakan dunia sebenarnya tidak kekurangan modal untuk mempercepat upaya menekan emisi karbon. Menurutnya, berbagai solusi untuk mengatasi perubahan iklim sudah tersedia.

“Kalau ditanya apa hambatan terbesar menuju net zero, jawabannya bukan uang dan bukan teknologi,” kata Dino dalam program Ngobrol Seru IDN Times.

Ia menegaskan dana untuk mendukung transisi energi sebenarnya tersedia. Hal itu terlihat dari besarnya anggaran yang dapat disiapkan berbagai negara ketika menghadapi situasi perang maupun krisis keamanan.

“Uangnya ada. Teknologinya juga ada. Lembaga internasional ada, platform kerja sama ada, dan solusi-solusinya juga sudah tersedia. Yang kurang adalah kemauan untuk benar-benar menjalankannya,” ujarnya.

Menurut Dino, tanpa kemauan politik yang kuat, berbagai target pengurangan emisi hanya akan menjadi komitmen di atas kertas tanpa implementasi nyata.

2. Indonesia dinilai perlu mempercepat implementasi energi bersih

Dino Patti Djalal dalam Ngobrol Seru IDN Times membahas perubahan iklim. (IDN Times/Fauzan)

Dino menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat transisi energi apabila seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah merealisasikan target pembangunan pembangkit energi terbarukan.

Ia menyinggung rencana pembangunan pembangkit energi terbarukan berkapasitas 100 gigawatt yang pernah disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, target tersebut perlu segera diterjemahkan ke dalam langkah-langkah konkret.

“Saya berharap komitmen membangun 100 gigawatt energi terbarukan benar-benar diwujudkan. Kalau itu terlaksana, Indonesia bukan hanya akan menjadi contoh di dalam negeri, tetapi juga inspirasi bagi dunia internasional,” katanya.

Dino juga mengungkapkan FPCI pernah menggelar diskusi untuk mengidentifikasi berbagai hambatan implementasi target tersebut, mulai dari persoalan regulasi, infrastruktur, teknologi, hingga koordinasi antarlembaga, yakni Indonesia Net Zero Summit 2026 yang akan digelar pada 1 Agustus mendatang.

“Kami menyampaikan berbagai masukan itu bukan untuk mengkritik pemerintah, tetapi karena kami ingin pemerintah berhasil menjalankan agenda transisi energi,” ujarnya.

3. Anak muda diminta memimpin perjuangan melawan krisis iklim

Founder FPCI Dino Patti Djalal dalam INZS 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Selain menyoroti pentingnya kemauan politik, Dino juga mengajak generasi muda mengambil peran lebih besar dalam menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, setiap generasi memiliki tantangan sejarahnya masing-masing.

Ia mencontohkan generasi 1908 yang melahirkan semangat kebangkitan nasional, generasi 1945 yang memperjuangkan kemerdekaan, hingga generasi Reformasi 1998 yang mendorong demokrasi. Sementara itu, generasi muda saat ini dinilai memiliki tanggung jawab menghadapi krisis iklim.

“Kalau kalian mencari apa misi terbesar generasi ini, saya kira jawabannya adalah perubahan iklim. Karena isu ini akan menentukan politik, ekonomi, kesehatan, infrastruktur, hingga masa depan kehidupan manusia,” katanya.

Dino mengingatkan bahwa dampak perubahan iklim akan paling banyak dirasakan oleh generasi muda yang akan hidup puluhan tahun ke depan. Karena itu, ia berharap anak-anak muda tidak bersikap apatis terhadap persoalan tersebut.

“Ini adalah perjuangan kalian. Kalian yang akan hidup di masa depan itu. Mudah-mudahan kalian tidak lari dari kenyataan ini, tetapi justru menjadi generasi yang mampu mencari solusi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim,” ujar Dino.

Di akhir wawancara, Dino mengungkapkan harapannya agar dalam lima tahun ke depan Indonesia dapat menunjukkan kemajuan nyata dalam transisi energi. Ia ingin melihat semakin banyak kendaraan listrik di jalan, pembangunan transportasi publik yang semakin baik, bertambahnya gedung ramah lingkungan, restorasi hutan, hingga terwujudnya pembangkit energi bersih dalam skala besar.

“Kalau semua itu tercapai, saya yakin Indonesia bisa menjadi negara pelopor dalam ekonomi hijau dan penanganan perubahan iklim,” tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article