Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
China hingga Iran Diduga Manfaatkan AI untuk Spionase dan Senjata
tampilan situs AI Claude (unsplash.com/Planet Volumes)
  • Anthropic mengungkap penyalahgunaan Claude oleh aktor terafiliasi China dan Iran untuk mengawasi diaspora, pembangkang, minoritas, serta mengumpulkan dan menganalisis data intelijen.
  • Model AI itu juga diduga dipakai untuk merancang roket, rudal, drone kamikaze otonom, sistem peperangan elektronik, dan riset biologis sensitif di sejumlah negara.
  • Anthropic mendeteksi spionase siber, operasi pengaruh, penipuan komersial, serta ekstraksi respons Claude untuk pelatihan model; akun pelanggar diblokir dan verifikasi identitas diperketat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Laboratorium kecerdasan buatan asal San Francisco, Anthropic, mengungkap sejumlah temuan mengenai penyalahgunaan model kecerdasan buatan Claude milik mereka antara Desember 2025 hingga Agustus 2026. Teknologi tersebut diduga dimanfaatkan oleh aktor-aktor yang terafiliasi dengan sejumlah negara, termasuk China dan Iran, untuk melancarkan operasi spionase serta pengawasan massal.

Selain aktivitas intelijen terhadap komunitas pembangkang dan kelompok minoritas, temuan tersebut menunjukkan adanya upaya pemanfaatan model Claude untuk perancangan senjata konvensional, riset biologis berbahaya, hingga kampanye siber di tingkat global. Langkah penghentian operasional akun segera diambil setelah pengembang mendeteksi aktivitas yang melanggar batasan keselamatan sistem tersebut.

1. Claude disalahgunakan untuk spionase dan pengawasan massal

tampilan AI Claude di smartphone (unsplash.com/Aerps.com)

Dilansir Al-Monitor, Anthropic telah menghentikan serangkaian operasi pengawasan bersponsor negara yang memanfaatkan model kecerdasan buatan mereka. Operasi pengawasan tersebut menargetkan komunitas diaspora dan tokoh pembangkang politik, termasuk aktivis prodemokrasi di Hong Kong, komunitas Tibet, Falun Gong, serta penentang pemerintah Iran di luar negeri. Anthropic menegaskan bahwa "AI kini digunakan untuk menggantikan tenaga kerja teknik" dalam memfasilitasi pengumpulan informasi intelijen.

Di Iran, dua unit yang saling terhubung menggunakan 16 akun Claude untuk membuat profil dari 6.388 warga Iran selama rentang waktu satu tahun. Kelompok tersebut menganalisis 155.216 unggahan Twitter guna mengidentifikasi 39 akun oposisi dan memanfaatkan ekstensi peramban Firefox berbahaya untuk menghimpun data identitas ke dalam sistem bernama Arman. Selain itu, salah satu aktor di Iran juga dilaporkan berupaya mengidentifikasi sasaran armada angkatan laut Amerika Serikat.

Sementara itu, operasi yang terhubung dengan China terpantau memanfaatkan Claude untuk melacak, membuat profil, dan merekrut warga Uighur serta jurnalis yang memiliki relasi dengan militer Suriah. Para operator memproses data percakapan WhatsApp dan Telegram, lalu menggunakan Claude untuk penerjemahan serta pengujian skenario manipulasi komunikasi. Aktivitas pengawasan ini dilaporkan turut menyasar para kardinal Katolik dan Gereja Presbiterian di Taiwan.

2. Pengembangan senjata konvensional hingga riset biologis

ilustrasi aplikasi AI (pexels.com/Aerps.com)

Dilansir PTC News, Anthropic menemukan enam kasus upaya pemanfaatan Claude untuk pengembangan senjata konvensional yang tersebar di China, Rusia, dan Yaman. Di Yaman, sebuah kelompok memanfaatkan Claude Code untuk pekerjaan teknis roket berpemandu, rudal balistik multitahap dengan jangkauan lebih dari 2.000 kilometer, serta wahana luncur hipersonik. Kelompok tersebut sempat melakukan uji tembak roket berpemandu, tetapi uji coba tersebut dilaporkan mengalami kegagalan.

Di Rusia, operator yang terhubung dengan entitas DronDoc atau Serafim diduga menggunakan Claude Code untuk merancang kawanan drone kamikaze FPV otonom. Sistem senjata tanpa awak tersebut dirancang agar mampu menentukan target secara mandiri, termasuk manusia, serta meledak tanpa intervensi langsung operator. Pada saat yang sama, akun di China yang terindikasi terhubung dengan sektor militer memanfaatkan model ini untuk merancang sistem peperangan elektronik 16 modul yang disimulasikan terhadap 12 target nyata di Taiwan.

Perusahaan juga mendeteksi lima kasus penggunaan AI dalam riset biologis sensitif, termasuk eksperimen mutasi pada virus chikungunya dan adaptasi mamalia terhadap flu burung. Anthropic mencatat bahwa para pelaku dalam studi kasus ini merupakan ilmuwan yang masih aktif dan memiliki potensi tujuan riset sah meski berisiko ganda. Anthropic menyatakan, "Kami tidak menyatakan bahwa mereka berniat jahat, dan mengidentifikasi mereka atau laboratorium mereka dapat membuat mereka terpapar bahaya".

3. Spionase siber dan ekstraksi data kecerdasan buatan

ilustrasi spionase siber (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Aktivitas peretasan dan spionase siber turut terdeteksi menyasar lebih dari 20 lembaga pertahanan, kedutaan, serta produsen drone di Ukraina dan Eropa oleh aktor berbahasa Rusia. Pelaku memanipulasi catatan DNS Wi-Fi hotel untuk menyebarkan perangkat perusak, mengakses akun WhatsApp pejabat, serta mencuri ratusan ribu data kependudukan dari lembaga pemerintah di Afrika Utara. Di China, dua mahasiswa universitas memanfaatkan AI untuk rekayasa balik firmware dan pengumpulan data intelijen yang menyusup ke sekitar 50 organisasi global.

Anthropic juga menghentikan sedikitnya sembilan operasi pengaruh yang melibatkan Rusia, China, Iran, Bangladesh, dan Kenya. Pemanfaatan model ini mencakup pembuatan konten propaganda politik hingga penyiapan dokumen palsu. Di ranah komersial, lebih dari 20 aplikasi kencan palsu di China memanfaatkan lebih dari 4.700 personas Claude untuk mengirim 2,36 juta pesan ke sedikitnya 25.000 pengguna asli. Sindikat siber lain yang terafiliasi dengan ShinyHunters dilaporkan mengunduh 1,8 juta paket aplikasi Android guna mencari data kredensial rahasia.

Selain itu, sejumlah pengembang asal China seperti Moonshot AI dan DeepSeek dituduh mengekstraksi respons Claude tanpa izin untuk melatih model mereka sendiri melalui teknik distilasi. Anthropic mencatat, "Dalam satu kasus, selama sepuluh hari, Moonshot meneruskan hampir 300.000 permintaan pelanggan ke Anthropic" melalui jaringan 5.380 akun palsu yang sebagian besar berlokasi di Singapura dan Jepang. Menanggapi seluruh temuan ini, Anthropic langsung memblokir akun-akun yang terbukti menyalahgunakan sistem dan memperketat proses verifikasi identitas guna mencegah ancaman serupa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article