ilustrasi spionase siber (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)
Aktivitas peretasan dan spionase siber turut terdeteksi menyasar lebih dari 20 lembaga pertahanan, kedutaan, serta produsen drone di Ukraina dan Eropa oleh aktor berbahasa Rusia. Pelaku memanipulasi catatan DNS Wi-Fi hotel untuk menyebarkan perangkat perusak, mengakses akun WhatsApp pejabat, serta mencuri ratusan ribu data kependudukan dari lembaga pemerintah di Afrika Utara. Di China, dua mahasiswa universitas memanfaatkan AI untuk rekayasa balik firmware dan pengumpulan data intelijen yang menyusup ke sekitar 50 organisasi global.
Anthropic juga menghentikan sedikitnya sembilan operasi pengaruh yang melibatkan Rusia, China, Iran, Bangladesh, dan Kenya. Pemanfaatan model ini mencakup pembuatan konten propaganda politik hingga penyiapan dokumen palsu. Di ranah komersial, lebih dari 20 aplikasi kencan palsu di China memanfaatkan lebih dari 4.700 personas Claude untuk mengirim 2,36 juta pesan ke sedikitnya 25.000 pengguna asli. Sindikat siber lain yang terafiliasi dengan ShinyHunters dilaporkan mengunduh 1,8 juta paket aplikasi Android guna mencari data kredensial rahasia.
Selain itu, sejumlah pengembang asal China seperti Moonshot AI dan DeepSeek dituduh mengekstraksi respons Claude tanpa izin untuk melatih model mereka sendiri melalui teknik distilasi. Anthropic mencatat, "Dalam satu kasus, selama sepuluh hari, Moonshot meneruskan hampir 300.000 permintaan pelanggan ke Anthropic" melalui jaringan 5.380 akun palsu yang sebagian besar berlokasi di Singapura dan Jepang. Menanggapi seluruh temuan ini, Anthropic langsung memblokir akun-akun yang terbukti menyalahgunakan sistem dan memperketat proses verifikasi identitas guna mencegah ancaman serupa.