Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

22 Ribu Warga Palestina di Gaza Butuh Perawatan Medis di Luar Negeri

22 Ribu Warga Palestina di Gaza Butuh Perawatan Medis di Luar Negeri
ilustrasi dirawat di rumah sakit (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Otoritas Gaza menyebut 22 ribu warga Palestina, termasuk ribuan anak, membutuhkan perawatan medis di luar negeri karena sakit dan luka akibat serangan serta keterbatasan fasilitas rumah sakit.
  • Kepala Kantor Media Otoritas Gaza Ismail Al-Thawabteh menuduh Israel memalsukan data korban dan menghambat evakuasi medis melalui isolasi Gaza; ia meminta 1.000 pasien segera dipindahkan.
  • Serangan Israel di Gaza dilaporkan masih berlanjut, termasuk di Beit Lahiya yang menewaskan empat anggota keluarga; total korban tewas disebut telah melampaui 73 ribu orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sebanyak 22 ribu warga Palestina yang tinggal di Gaza saat ini membutuhkan perawatan medis di luar negeri. Data tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Media Otoritas Gaza, Ismail Al-Thawabteh, pada Kamis (10/9/2026). 

Al-Thawabteh mengatakan, warga Gaza yang kini membutuhkan perawatan medis di luar negeri adalah mereka yang sakit dan terluka karena serangan Israel. Namun, fasilitas kesehatan di rumah sakit yang ada di Gaza tidak lengkap sehingga mereka harus dibawa ke rumah sakit di luar negeri agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik. 

  1. 1. Israel memalsukan data soal jumlah korban di Gaza

    Korban tewas.
    ilustrasi korban tewas (pexels.com/Mario Wallner)

    Dalam pernyataannya, Al-Thawabteh juga menuduh Israel telah memalsukan data soal jumlah korban di Gaza. Menurutnya, jumlah data korban yang selama ini disampaikan Israel tidak sesuai kenyataan di lapangan. Padahal, realita di lapangan justru lebih pahit. Sebab, ada puluhan ribu warga Gaza yang kini sedang kritis dan membutuhkan penanganan medis di luar negeri. 

    “Angka-angka yang dipublikasikan oleh pendudukan Israel tentang kepergian 10.000 warga Palestina dan kembalinya 6.000 lainnya sejak Oktober sangat buruk dan tidak memenuhi tingkat minimum kebutuhan kemanusiaan yang sangat mendesak di Jalur Gaza. Angka-angka tersebut merupakan upaya untuk memperindah kenyataan pahit di Gaza, di mana 22.000 orang yang terluka dan sakit membutuhkan perawatan di luar negeri, termasuk ribuan anak-anak yang kondisi kesehatannya memburuk setiap hari,” kata Al-Thawabteh kepada kantor berita Anadolu Agency.

  2. 2. Israel membuat warga Gaza yang terluka mati perlahan

    Warga Palestina di Gaza.
    potret warga Palestina di Gaza (pexels.com/Musa Alzanoun)

    Lebih lanjut, Al-Thawabteh juga mengatakan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sering kali menghambat proses evakuasi medis untuk warga Gaza yang membutuhkan perawatan. Sebab, Israel kini mengisolasi Gaza dari akses ke luar. Inilah yang akhirnya membuat warga Gaza tidak bisa dibawa atau dipindahkan ke rumah sakit yang lebih bagus. 

    Menurut Al-Thawabteh, tindakan seperti ini merupakan upaya Israel untuk membunuh warga Gaza yang sedang sakit atau terluka secara perlahan. Oleh karena itu, Al-Thawabteh mendesak Israel agar segera berhenti mengisolasi Gaza dari akses ke luar. Langkah ini bertujuan agar 1.000 warga Gaza yang terluka bisa dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik untuk mendapatkan perawatan intensif.

  3. 3. Israel masih menyerang Gaza hingga saat ini

    Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur lebur akibat serangan Israel.
    Sejumlah bangunan di Jalur Gaza hancur lebur akibat serangan Israel. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

    Hingga saat ini, Israel masih menyerang Gaza. Serangan terakhir IDF ke wilayah tersebut terjadi pada Kamis malam waktu setempat. Dilansir Al Jazeera, ketika itu, IDF menyerang Kota Beit Lahiya di Gaza utara hingga menewaskan sebuah keluarga yang beranggotakan empat orang. 

    Sejauh ini, korban tewas imbas serangan Israel di Gaza sudah berjumlah lebih dari 73 ribu orang. Jumlah ini diprediksi akan terus bertambah jika Israel terus menggempur Gaza. Sejumlah pihak, termasuk Amerika Serikat (AS), sebetulnya sudah mendesak Israel untuk berhenti menyerang wilayah tersebut. Namun, Tel Aviv tidak peduli. Oleh karena itu, serangan masih berlanjut hingga saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More