Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
China: Pilot Pesawat Penabrak Gedung di Beijing Punya Masalah Mental
China CITIC Tower, Beijing, China. (維基小霸王, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Pemerintah China mengungkap pilot berusia 66 tahun yang menabrakkan pesawat ke Gedung CITIC Tower memiliki gangguan mental dan bertindak karena alasan pribadi hingga menyebabkan 13 orang luka-luka.
  • Insiden ini memicu sorotan terhadap sistem pengawasan udara Beijing yang dikenal sangat ketat, mengingat lokasi gedung berada dekat kompleks pemerintahan Presiden Xi Jinping.
  • Otoritas segera menyensor foto dan video insiden di media sosial serta melarang warga mendokumentasikan lokasi, memperlihatkan kembali kontrol ketat pemerintah atas arus informasi publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - China mengungkapkan bahwa pilot yang menabrakkan pesawat ke gedung pencakar langit tertinggi di Beijing pada pekan lalu merupakan seorang pria berusia 66 tahun yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental. Pria bernama Liu itu diketahui kerap menuliskan keinginannya untuk mengakhiri hidup dalam buku hariannya.

Mengutip laporan The Guardian, insiden tersebut menyebabkan 13 orang mengalami luka-luka, meski tidak ada korban yang mengalami cedera yang mengancam jiwa. Beijing mengatakan, seorang korban telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Kecelakaan yang terjadi pada Jumat lalu itu membuat pecahan kaca dan puing-puing pesawat berjatuhan ke jalanan. Insiden tersebut memicu kepanikan di pusat ibu kota China sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai sistem pertahanan udara Beijing.

1. Investigasi menyimpulkan insiden dipicu alasan pribadi

Pemerintah Distrik Chaoyang, di mana Gedung CITIC Tower berdiri, menyatakan bahwa hasil investigasi menyimpulkan insiden tersebut merupakan tindakan yang membahayakan keselamatan publik akibat alasan pribadi. Menurut hasil penyelidikan, Liu diketahui menderita insomnia kronis dan gangguan kecemasan dalam waktu yang cukup lama.

Dilansir BBC, pemerintah juga mengungkapkan bahwa Liu merupakan pria yang telah bercerai dan tinggal seorang diri. Liu memperoleh lisensi sport pilot pada 2021, sebelum mendapatkan lisensi pilot pribadinya pada 2024.

Pada hari kejadian, Liu lepas landas dari bandara di Distrik Pinggu dan sempat melakukan penerbangan latihan bersama instruktur maupun penerbangan solo. Saat menjalani penerbangan solo, pria itu keluar dari area yang telah ditentukan dan kehilangan kontak dengan bandara, sebelum akhirnya menabrakkan pesawat ke gedung CITIC Tower dan meninggal dunia di tempat.

2. Insiden memicu sorotan terhadap ketatnya pengawasan udara Beijing

Kecelakaan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sistem keamanan penerbangan di Beijing, yang selama ini dikenal memiliki salah satu kebijakan pengendalian ruang udara paling ketat di dunia. Pesawat pribadi maupun drone hampir tidak pernah terlihat melintas di atas ibu kota China tanpa izin resmi dari otoritas.

China CITIC Tower adalah kantor pusat perusahaan jasa keuangan milik negara. Gedung setinggi 109 lantai yang juga dikenal dengan nama China Zun itu hanya berjarak sekitar delapan kilometer dari Zhongnanhai, kompleks pemerintahan tempat Presiden Xi Jinping tinggal dan berkantor.

Dalam beberapa tahun terakhir, Negeri Tirai Bambu menghadapi serangkaian insiden yang oleh media setempat disebut sebagai serangan balas dendam terhadap masyarakat. Serangan melibatkan aksi kekerasan mematikan yang diduga dipicu persoalan pribadi pelaku.

3. Polisi melarang warga mengambil foto dan video di lokasi

Tak lama setelah insiden terjadi, foto dan video kecelakaan pesawat dengan cepat dihapus dari media sosial China. Polisi yang berjaga di lokasi juga menghentikan wartawan maupun warga yang mencoba mendokumentasikan kondisi gedung.

Gedung China Zun selama ini dikenal sebagai salah satu ikon Beijing dan oleh sebagian warga dianggap membawa keberuntungan. Namun, setelah insiden tersebut, bahkan foto maupun meme yang tidak berkaitan langsung dengan kecelakaan turut dihapus dari media sosial China.

Langkah penyensoran itu kembali memicu sorotan terhadap ketatnya pengendalian informasi oleh pemerintah Negeri Tirai Bambu, terutama terhadap peristiwa yang dianggap sensitif dan berpotensi menarik perhatian publik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article