Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Protes Kebijakan China, Pria Tibet Bakar Diri di Dekat Markas PBB

Protes Kebijakan China, Pria Tibet Bakar Diri di Dekat Markas PBB
Ilustrasi api (Unsplash.com/Cullan Smith)
Intinya Sih
  • Seorang pria Tibet bernama Lobga Rangzen tewas setelah membakar diri di dekat Markas PBB New York sebagai protes terhadap kebijakan China di Tibet.
  • Insiden terjadi bersamaan dengan diberlakukannya undang-undang persatuan etnis baru China yang menuai kritik karena dianggap mengancam budaya minoritas seperti Tibet dan Uyghur.
  • Aksi Rangzen memicu simpati komunitas Tibet di pengasingan, namun para pemimpin mereka menyerukan perjuangan damai tanpa mengorbankan nyawa demi kemerdekaan Tibet.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Seorang pria asal Tibet meninggal dunia setelah melakukan aksi bakar diri di dekat Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (2/7/2026). Polisi segera mengamankan lokasi kejadian untuk menyelidiki insiden tersebut.

Aksi ini diduga kuat sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah China di Tibet. Peristiwa tersebut langsung memicu reaksi dari berbagai kelompok aktivis kemanusiaan.

1. Kronologi aksi bakar diri aktivis Tibet di New York

Bendera Tibet (commons.wikimedia.org/iheartvector)
Bendera Tibet (commons.wikimedia.org/iheartvector)

Kepolisian New York (NYPD) menerima laporan darurat sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Di lokasi kejadian, polisi menemukan seorang pria berusia 52 tahun bernama Lobga Rangzen dengan luka bakar parah.

Rangzen sempat dibawa ke Rumah Sakit Bellevue, namun nyawanya tidak tertolong. Di lokasi kejadian, polisi menemukan bendera Tibet dan selebaran berisi tuntutan agar China keluar dari wilayah mereka.

Sebelum beraksi, pria yang bekerja sebagai pengemudi Uber ini sempat menyiarkan langsung protesnya di media sosial. Rangzen sudah tinggal di AS selama 20 tahun dan aktif menyuarakan kemerdekaan Tibet karena keluarganya mendapat tekanan politik di kampung halaman.

"Dia sangat kecewa dengan berbagai pembatasan yang diterapkan pemerintah China terhadap warga Tibet," ujar rekan sesama pengemudi Uber, Lobsang Paljor.

2. Dampak undang-undang persatuan etnis baru China

ilustrasi warga Tibet di China
ilustrasi etnis Tibet di China (pexels.com/Zekai Zhu)

Insiden ini terjadi bersamaan dengan mulai berlakunya undang-undang persatuan etnis baru oleh pemerintah China pekan ini. Aturan tersebut bertujuan menyatukan identitas nasional bagi 55 kelompok minoritas, termasuk warga Tibet dan Uyghur.

Langkah Beijing ini menuai kritik dunia karena dinilai dapat menghapus budaya lokal secara perlahan. Amerika Serikat dan Uni Eropa juga menyatakan keprihatinan mereka atas perluasan aturan baru tersebut.

Negara-negara Barat menilai aturan ini memberi celah hukum bagi China untuk menindak aktivis minoritas, bahkan yang berada di luar negeri.

3. Reaksi keras komunitas pengasingan

Ilustrasi Markas PBB di New York, Amerika Serikat (www.instagram.com@unitednations)
Ilustrasi Markas PBB di New York, Amerika Serikat (www.instagram.com@unitednations)

Aksi Rangzen memicu simpati dari komunitas warga Tibet di pengasingan. Mereka berkumpul di depan markas PBB untuk memberikan penghormatan dan menganggap aksi tersebut sebagai pengorbanan demi menarik perhatian dunia.

Meskipun begitu, para pemimpin Tibet di pengasingan tetap meminta warganya untuk mengutamakan keselamatan jiwa. Catatan organisasi kemanusiaan menunjukkan lebih dari 150 warga Tibet telah melakukan aksi bakar diri sejak 2009 sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Beijing.

Perwakilan komunitas menegaskan perjuangan kemerdekaan harus tetap dilakukan lewat jalur dalam tanpa mengorbankan nyawa. Sementara itu, pihak PBB memastikan insiden ini tidak mengganggu jalannya pertemuan resmi mereka.

"Meskipun kami menghormati perjuangannya, nyawa manusia sangat berharga dan harus dijaga demi perjuangan jangka panjang bagi Tibet," kata kepala pemerintahan Tibet di pengasingan, Penpa Tsering, dilansir Livemint.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More