Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
China Vonis Mati 3 Bos Sindikat Penipuan Online di Myanmar
bendera China (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)
  • Pengadilan Fujian menjatuhkan hukuman mati kepada Wei Huairen, Chen Dawei, dan Liao Jingfang atas pengoperasian pusat penipuan lintas batas di Kokang yang menyebabkan empat warga China tewas.
  • Sindikat keluarga Wei mengelola 14 kompleks di Laukkai, menjerat ribuan warga China dengan janji kerja, lalu memaksa mereka melakukan penipuan daring disertai kekerasan dan penyiksaan.
  • China memperluas penindakan terhadap empat klan Kokang; sejak akhir 2023, hampir 60 ribu tersangka penipuan dipulangkan, sementara anggota klan Ming dan Bai juga telah dieksekusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pengadilan di Provinsi Fujian, China, menjatuhkan vonis mati kepada tiga tokoh utama sindikat kejahatan keluarga Wei pada Selasa (13/10/2026). Ketiga terdakwa tersebut adalah pemimpin sindikat Wei Huairen, keponakannya Chen Dawei, serta rekan mereka Liao Jingfang. Mereka terbukti mengoperasikan jaringan pusat penipuan telekomunikasi lintas batas di wilayah Kokang, Myanmar, dan menyebabkan kematian empat warga negara China.

Putusan ini dibacakan oleh Pengadilan Rakyat Menengah Quanzhou dan Pengadilan Rakyat Kota Nan'an setelah persidangan berlangsung pada Mei lalu. Ketiganya merupakan bagian dari 61 anggota sindikat keluarga Wei yang didakwa sejak Oktober 2025 atas berbagai kejahatan berat. Operasi penipuan dan perjudian ilegal kelompok ini tercatat memutar dana kejahatan sekitar 1,8 miliar dolar AS (Rp32 triliun) sejak 2019.

1. Rincian vonis terhadap anggota sindikat keluarga Wei

Ilustrasi pengadilan. (unsplash.com/Tingey Injury Law Firm)

Selain tiga vonis mati, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada tiga terdakwa utama lainnya, yakni Wei Qingtao, Kang Min, dan Xiong Hengxing. Sebanyak 55 kaki tangan sindikat tersebut juga dijatuhi hukuman penjara mulai dari tiga tahun tiga bulan hingga 24 tahun. Pengadilan turut memerintahkan denda berat, penyitaan aset dalam jumlah besar, serta deportasi bagi para terpidana.

Para terdakwa dinyatakan bersalah atas tujuh dakwaan pidana, termasuk pembunuhan berencana, penipuan telekomunikasi, pemerasan, dan penahanan ilegal. Sindikat ini juga terlibat dalam perdagangan narkoba, prostitusi terorganisir, penyelundupan manusia lintas batas, serta pengelolaan kasino ilegal. Pengadilan menilai jaringan bersenjata ini menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

Keluarga Wei menyalahgunakan wewenang institusional dengan memadukan kekuatan politik, militer, dan bisnis di Kokang. Wei Huairen memanfaatkan jabatannya sebagai Ketua Komite Pengawasan Batalyon Perbatasan 1006 Kokang sekaligus pemimpin konglomerat Henry Group untuk melindungi operasi kejahatan mereka.

"Dengan menggabungkan unit penjaga perbatasan resmi dan milisi swasta, keluarga tersebut memelopori model kendali militer bersenjata yang kejam atas kompleks penipuan telekomunikasi," ungkap laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, dilansir South China Morning Post.

2. Modus operandi dan aksi kekerasan brutal di kompleks penipuan Laukkai

ilustrasi bendera Myanmar. (pixabay.com/jorono)

Keluarga Wei menggunakan pengaruh militer dan politik mereka untuk mendirikan 14 kompleks kejahatan berskala besar di Laukkai, ibu kota wilayah Kokang. Mereka menampung dan memberikan perlindungan bersenjata bagi para pemodal penipuan di pusat-pusat tersebut. Ribuan warga negara China dibujuk datang ke Myanmar melalui janji palsu berupa gaji tinggi, lalu ditahan di kompleks mirip penjara.

Para pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia ini dipaksa melakukan penipuan daring dengan sasaran warga di China dan berbagai negara lain. Mereka kerap menghadapi penyiksaan, pemukulan, dan kerja paksa selama berada di dalam kompleks. Polisi bahkan menemukan kerangka jenazah korban yang terikat rantai besi dengan lubang peluru di bagian tengkorak.

Dokumen pengadilan mengungkap bahwa sindikat keluarga Wei bersekongkol dengan operator penipuan untuk membunuh dua warga China yang melanggar aturan internal. Sementara itu, Chen Dawei yang disiapkan sebagai algojo bersenjata generasi kedua klan tersebut menggunakan milisi swasta untuk membunuh dua warga China lainnya. Dalam dokumenter televisi pekan lalu, Chen mengaku membunuh seorang korban secara acak sebagai ritual pengorbanan demi membuktikan kesetiaan kepada para pemodal penipuan.

3. China berupaya memberantas empat klan mafia Kokang

Keluarga Wei merupakan satu dari empat klan besar yang lama menguasai bisnis kejahatan di wilayah Kokang, bersama klan Bai, Liu, dan Ming. China sempat menghadapi kendala yurisdiksi saat hendak menindak mereka karena otoritas Myanmar berargumen para bos sindikat tersebut memegang kewarganegaraan Myanmar. Kebuntuan itu berakhir setelah kedua negara mencapai konsensus yang membuat otoritas Myanmar menyerahkan Wei Huairen beserta buronan lainnya kepada polisi China.

"Empat keluarga di Myanmar utara telah mencapai tahap harus dimusnahkan. Jika para pemimpin empat keluarga Kokang tidak diadili, polisi China, hukum China, dan rakyat China tidak akan menerimanya," tegas Wakil Direktur Divisi ASEAN di Biro Kerja Sama Internasional Kementerian Keamanan Publik China, Niu Jiawei.

Sejak meluncurkan kampanye penegakan hukum lintas batas pada akhir 2023, Beijing telah memulangkan hampir 60 ribu tersangka penipuan asal China. Sebelum vonis keluarga Wei, pengadilan di Provinsi Zhejiang telah mengeksekusi mati 11 anggota klan Ming pada Januari 2026, sedangkan pendirinya, Ming Xuechang, bunuh diri sebelum ditangkap. Sebulan kemudian, empat anggota inti klan Bai juga dieksekusi mati usai divonis bersalah oleh pengadilan di Shenzhen.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sindikat kejahatan di Asia Tenggara meraup puluhan miliar dolar AS per tahun dari industri penipuan siber. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat pusat-pusat penipuan di kawasan ini mempekerjakan hingga 300 ribu orang untuk menipu korban global melalui modus asmara dan bisnis. Industri ilegal yang tumbuh subur di perbatasan Myanmar sejak kudeta militer 2021 ini kini telah menyebar hingga ke Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Kepulauan Pasifik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article