Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Daftar Negara yang Menentang Keputusan AS Tangkap Maduro

Presiden Venezuela Nicolás Maduro (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Presiden Venezuela Nicolás Maduro (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Negara-negara mengecam tindakan AS.
  • Rusia, China, Iran, dan Belarus termasuk dalam daftar tersebut.
  • Daftar negara yang menetang keputusan Trump.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Serangan AS ke Venezuela serta penangkapan presiden Nicolas Maduro dan istrinya telah memicu respons global yang beragam. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditahan di dan Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn, New York dan menghadapi berbagai tuntutan federal.

AS menangkap keduanya atas tuduhan keterlibatan mereka dalam narkoterorisme, jaringan peredaran narkoba, dan kelompok teroris untuk mengedarkan kokain. Mereka juga didakwa dengan konspirasi untuk mengimpor kokain ke AS, kepemilikan senapan mesin dan alat perusak, serta konspirasi untuk memiliki senjata terkait dengan rencana yang lebih luas.

1. Negara-negara yang mengecam tindakan AS

Bendera Indonesia (unsplash.com/@bismamahendra07)
Bendera Indonesia (unsplash.com/@bismamahendra07)

Melansir NDTV, sejumlah besar negara telah menolak operasi AS sebagai pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan Venezuela.

Negara-negara besar seperti Rusia, China, Iran, dan Belarus termasuk dalam daftar tersebut. Moskow menyebut serangan itu sebagai "tindakan agresi bersenjata," dengan alasan bahwa pembenaran yang ditawarkan oleh Washington "tidak berdasar" dan mendesak fokus segera pada dialog untuk mencegah eskalasi.

Berikut daftar negara yang menetang keputusan Trump:

  • Amerika Latin: Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Bolivia, Uruguay, Kuba
  • Asia: Indonesia, Iran
  • Eropa: Prancis, Spanyol, Britania Raya (Inggris), Norwegia, Denmark, Republik Ceko, Slovakia
  • Eurasia: Rusia, Belarus, China
  • Kelompok regional: Uni Eropa
  • Badan internasional: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

2. Negara-negara yang mendukung

Benjamin Netanyahu (Chatham House, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Benjamin Netanyahu (Chatham House, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengucapkan selamat kepada Presiden AS Donald Trump atas apa yang disebutnya sebagai “kepemimpinan yang berani dan bersejarah,” memuji “tekad yang tegas” dari pasukan Amerika.

Somaliland, wilayah yang memproklamirkan diri sebagai wilayah merdeka dan hanya diakui oleh Israel, telah mendukung tindakan AS. Kementerian Luar Negerinya mengatakan bahwa wilayah tersebut “menegaskan keselarasan prinsipilnya dengan Amerika Serikat dalam mendukung tindakan internasional yang terukur untuk menegakkan tatanan konstitusional dan supremasi hukum di Venezuela, dan untuk mendukung transisi damai yang dipimpin Venezuela.”

Berikut daftar negara yang dilaporkan mendukung AS:

  • Amerika: Amerika Serikat
  • Amerika Latin: Argentina, El Salvador, Ekuador
  • Eropa: Italia, Albania, Makedonia Utara, Kosovo
  • Timur Tengah: Israel

3. Dunia terbelah dalam menyikapi langkah AS

Presiden Donald Trump menyampaikan pidato pelantikan (The Trump White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Presiden Donald Trump menyampaikan pidato pelantikan (The Trump White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Banyak negara menyoroti aspek hukum internasional dalam menanggapi langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela, terutama terkait prinsip kedaulatan dan larangan penggunaan kekuatan. Sejumlah pernyataan merujuk langsung pada Piagam PBB sebagai landasan utama dalam menjaga ketertiban global. Peran Dewan Keamanan PBB kembali disorot sebagai forum utama untuk merespons krisis internasional secara kolektif.

Di sisi lain, dinamika ini turut memengaruhi hubungan diplomatik antarnegara, baik di kawasan Amerika Latin maupun di tingkat global. Perbedaan sikap berpotensi memperlebar jarak politik antara negara pendukung dan penentang langkah AS. Ke depan, perkembangan situasi ini diperkirakan akan menjadi ujian bagi mekanisme multilateral dan komitmen negara-negara terhadap hukum internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Kemenhut Bantah Digeledah Kejagung: Pencocokan Data Hutan Lindung

07 Jan 2026, 23:40 WIBNews