Jakarta, IDN Times - Sejumlah negara berkembang di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin mendesak peran yang lebih besar dalam perumusan aturan tata kelola kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tuntutan tersebut mengemuka dalam rangkaian debat diplomasi tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada September 2026.
Para pemimpin dari kawasan belahan bumi selatan tersebut memperingatkan bahwa AI berisiko memperdalam ketimpangan global apabila pengembangan dan pengaturannya hanya terpusat di negara-negara kaya. Kekhawatiran para pemimpin tersebut mencuat menyusul terjadinya sejumlah pelanggaran keamanan, serta adanya peringatan dari peneliti terkemuka bahwa teknologi AI berpotensi memusnahkan umat manusia.
