Ratusan Sekolah di Prancis Tutup Imbas Eskalasi Gelombang Protes Pelajar

- Sekitar 400 sekolah Prancis diperkirakan tetap tutup dan beralih daring setelah protes pelajar meluas dari Paris, dengan 900 aksi tercatat serta akses ke sekitar 30 universitas diblokir.
- Aksi di sejumlah kota memicu pembakaran dan bentrokan; lebih dari 300 orang terluka, hampir 3 ribu siswa diamankan, sementara pemerintah menyelidiki tuduhan kekerasan berlebihan polisi.
- PM Sebastien Lecornu menggelar rapat darurat, sementara siswa menyoroti kelas padat, kekurangan guru, fasilitas buruk, dan suhu ekstrem; Menteri Pendidikan akan bertemu perwakilan terkait.
Jakarta, IDN Times - Sekitar 400 sekolah di Prancis diperkirakan akan melanjutkan penutupan dan beralih ke pembelajaran daring pada Jumat (2/10/2026). Penutupan tersebut menyusul gelombang protes pelajar yang memanas dan berubah menjadi kekerasan di sejumlah lokasi.
Pemerintah Prancis memperingatkan bahwa gelombang protes siswa sekolah menengah telah berkembang pesat dan berubah menjadi kekerasan perkotaan. Aksi protes tersebut bermula di wilayah Paris pada pekan lalu dan dengan cepat meluas ke seluruh penjuru negeri.
Menurut pihak kepolisian, sekitar 900 aksi demonstrasi, pemblokiran, dan insiden terkait sedang berlangsung di luar sekolah-sekolah menengah di berbagai wilayah Prancis. Selain itu, akses menuju sekitar 30 universitas juga diblokir pada Kamis, termasuk di Paris dan Marseille, dikutip dari The Guardian.
1. Gelombang protes pelajar meluas di sejumlah kota di Prancis

Arc de Triomphe, Paris, Prancis. (unsplash.com/Rodrigo Kugnharski) Para siswa yang melakukan protes dilaporkan membakar tempat sampah di beberapa sekolah menengah pada Kamis. Aksi pembakaran tersebut menyebabkan sejumlah guru secara tidak sengaja terkena cipratan bensin di kota Marseille, wilayah selatan Prancis.
Selain itu, di Strasbourg, setidaknya satu mobil dibakar oleh massa aksi protes. Pejabat pemerintah setempat mengatakan bahwa layanan trem telah dihentikan sementara guna membatasi pergerakan para perusuh dan pengunjuk rasa, dilaporkan oleh France24.
Lebih dari 300 polisi serta puluhan petugas pemadam kebakaran, guru, dan siswa dilaporkan mengalami luka-luka. Cedera tidak hanya disebabkan oleh lemparan benda-benda, tetapi juga proyektil pengendali massa yang ditembakkan oleh polisi.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mengumumkan penyelidikan internal kepolisian menyusul tuduhan penggunaan kekuatan berlebihan dan tindakan brutal oleh petugas terhadap tiga orang siswa. Pihaknya juga melaporkan bahwa hampir 3 ribu siswa sekolah menengah atas berusia 15 hingga 18 tahun telah diamankan sejak awal protes.
2. PM Prancis gelar rapat kabinet darurat untuk atasi gelombang protes

Bendera Prancis (unsplash.com/Anthony Choren) Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, menggelar rapat kabinet darurat pada Kamis menyusul gelombang protes yang memanas. Lecornu juga menginstruksikan para menteri untuk membatalkan rencana perjalanan guna menangani aksi unjuk rasa tersebut.
Pemerintah Prancis menuding partai sayap kiri radikal La France Insoumise (LFI) sebagai pihak yang mendorong aksi protes tersebut. Sejumlah anggota parlemen dan wali kota dari LFI, termasuk Bally Bagayoko, seorang wali kota Saint-Denis yang berasal dari LFI, terlihat memberikan dukungan dalam aksi unjuk rasa tersebut.
Anggota parlemen dari LFI, Louis Boyard, membantah tuduhan tersebut. Sementara itu, kandidat presiden LFI untuk pemilu 2027, Jean-Luc Mélenchon, menegaskan bahwa partai yang mengusungnya itu mendukung metode perjuangan tanpa kekerasan.
3. Sejumlah isu terkait pendidikan dikeluhkan para siswa

bendera Prancis (pixabay.com/jackmac34) Keluhan para siswa mencakup berbagai hal, mulai dari jadwal pelajaran yang terlalu padat dan kelas yang penuh sesak hingga kekurangan guru serta suhu udara yang tak tertahankan saat gelombang panas melanda awal tahun ini. Polisi antihuru-hara telah dikerahkan untuk menghadapi aksi protes yang kian menjurus pada kekerasan.
"Ada 35 siswa di setiap kelas. Jumlah toilet tidak memadai, dan ada kebocoran air di beberapa ruangan. Kondisi bangunan sudah rusak parah, sementara kantinnya terlalu kecil. Tidak ada anggaran maupun sumber daya sama sekali," ungkap seorang siswa berusia 17 tahun asal Strasbourg, dikutip dari Al Jazeera.
Menteri Pendidikan Prancis, Edouard Geffray, menyatakan dirinya akan menemui perwakilan serikat pekerja serta asosiasi orangtua dan siswa pada Jumat. Situasi tersebut juga telah terseret ke dalam persaingan untuk menggantikan Presiden Emmanuel Macron pada pemilu Mei mendatang.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















