Netanyahu Diam-Diam Temui MBZ di Abu Dhabi, Dikonfirmasi UEA

- Presiden UEA MBZ dan PM Israel Benjamin Netanyahu bertemu tertutup di Abu Dhabi untuk membahas penguatan hubungan bilateral, menjelang pemilihan Knesset Israel pada Oktober 2026.
- Kunjungan Netanyahu dikaitkan dengan permintaan kepada MBZ untuk membantah isu peringatan dini ancaman keamanan; publikasi agenda memicu keberatan Shin Bet terkait keselamatan perdana menteri.
- Hubungan UEA-Israel berkembang sejak Abraham Accords 2020, di tengah perselisihan soal dugaan peringatan sebelum serangan serta eskalasi militer Israel di Gaza.
Jakarta, IDN Times – Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (MBZ) dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bertemu secara tertutup di Abu Dhabi pada Minggu (27/9/2026). Emirates News Agency (WAM) mengonfirmasi pertemuan tersebut pada Senin (28/9/2026) malam setelah media Israel lebih dulu memberitakannya.
“Selama pertemuan, kedua belah pihak membahas hubungan bilateral antara UEA dan Israel serta cara untuk memperkuat dan mengembangkannya,” menurut lapor WAM, dikutip Al Jazeera.
Pertemuan mendadak itu menjadi perhatian karena berlangsung menjelang pemilihan Knesset Israel pada Oktober. Posisi Netanyahu di pemerintahan terancam setelah elektabilitasnya menurun dalam jajak pendapat domestik dan berada di bawah mantan kepala militer Gadi Eisenkot.
1. Netanyahu meminta MBZ membantah isu peringatan

bendera Israel (pexels.com/Leon Natan) Kunjungan Netanyahu ke UEA disebut berfokus pada permintaan agar MBZ membantah isu mengenai peringatan dini ancaman keamanan. Kementerian Luar Negeri UEA tak memberikan tanggapan langsung atas tuduhan tersebut, tetapi memastikan komunikasi dan pertukaran intelijen yang relevan dengan Israel tetap berlangsung.
Publikasi agenda pertemuan itu memicu ketegangan internal di Israel. Lembaga intelijen Shin Bet menyampaikan keberatan resmi kepada sensor militer karena menilai pemberitaan perjalanan tersebut dapat membahayakan keselamatan perdana menteri sekaligus membocorkan metode operasional.
2. Laporan Haaretz memuat isu peringatan MBZ

Bendera Uni Emirat Arab (pexels.com/Suji Su) Isu peringatan dini tersebut berkaitan dengan laporan Haaretz mengenai telepon MBZ kepada Netanyahu sekitar 10 hari sebelum serangan, yang disebut berisi peringatan mengenai ancaman dari pemimpin Hamas saat itu, Yahya Sinwar, setelah informasi tersebut lebih dulu disampaikan kepada Shin Bet. Netanyahu membantah laporan itu dengan menyebutnya “dibuat-buat” dan “bermotif politik” serta menyatakan akan menuntut media yang menerbitkannya.
Selain UEA, Mesir juga disebut terkait dengan dugaan peringatan awal tersebut. The Wall Street Journal melaporkan kepala intelijen Mesir Abbas Kamel sempat melakukan kunjungan rahasia ke Israel dua minggu sebelum peristiwa tersebut untuk memperingatkan adanya sinyal serangan dari Gaza, meski tak disertai rincian mengenai tanggal, target, ataupun skala serangan.
3. Abraham Accords memperkuat kemitraan UEA-Israel

ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto) Perselisihan tersebut berakar pada serangan yang menewaskan sedikitnya 1.195 orang di Israel selatan dan membuat sekitar 250 orang disandera. Eskalasi militer Israel di Gaza setelah serangan itu telah menewaskan sedikitnya 73.669 warga Palestina.
Hubungan kedua negara terus berkembang sejak penandatanganan Abraham Accords pada 2020, yakni kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik yang dimediasi Amerika Serikat (AS). Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengungkapkan Israel telah menempatkan baterai sistem pertahanan udara Iron Dome beserta personelnya di UEA untuk mengantisipasi potensi serangan Iran.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





.jpg)













