Dino Patti Djalal Peringatkan Bahaya Otoritarianisme Massa, Apa itu?

- Otoritarianisme tak lagi hanya negara, tapi juga massa yang mengintimidasi orang berpikir berbeda.
- Kritik terhadap pejabat dibalas dengan intimidasi, Dino menekankan pentingnya merespons kritik secara dewasa dan elegan.
- Dino berharap para pejabat publik dapat merespons kritik dengan sikap yang tidak defensif dan reaktif untuk menjaga kesehatan demokrasi.
Jakarta, IDN Times - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, memperingatkan munculnya fenomena mass authoritarianism atau otoritarianisme massa yang dinilai semakin mengancam ruang kebebasan berpikir dan perdebatan sehat. Tak hanya terjadi di luar negeri, tapi juga Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Dino saat menerima penghargaan Inspiring Newsmaker in Public Diplomacy Literacy Leadership dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 oleh IDN Times, Kamis (15/1/2026).
1. Otoritarianisme tak lagi hanya negara

Dino menjelaskan, selama ini dunia kerap fokus pada state authoritarianism atau otoritarianisme negara. Namun kini, bentuk lain yang tak kalah berbahaya justru datang dari massa. Fenomena ini, menurut Dino, membuat ruang logika, kewarasan, dan perdebatan sehat semakin menyempit.
"Di banyak tempat, termasuk Indonesia, ada yang namanya mass authoritarianism. Massa yang mengintimidasi orang dengan pikiran berbeda," ujarnya.
2. Kritik dibalas intimidasi

Sebagai contoh, Dino membagikan pengalaman pribadinya saat mengkritik seorang pejabat melalui media sosial. Dia kemudian menerima respons bernada menyerang. Dia memilih menjawab dengan sederhana tanpa defensif.
"Terima kasih atas kritiknya, sukses selalu," katanya.
Respons singkat tersebut, menurut Dino, adalah pesan penting tentang bagaimana kritik seharusnya disikapi dalam demokrasi.
3. Pesan untuk pejabat publik

Dino berharap para pejabat negara, baik menteri, anggota parlemen, maupun pejabat publik lainnya, dapat merespons kritik secara dewasa dan elegan.
"Kalau dikritik, cukup dua kalimat, terima kasih atas kritiknya, sukses selalu. Tanpa 'tapi', tanpa marah, tanpa menyerang balik," ujarnya.
Dia menilai sikap defensif dan reaktif terhadap kritik justru memperkuat budaya otoritarianisme massa dan merusak kesehatan demokrasi. Menurut Dino, jika Indonesia ingin tetap sehat dan solid di tengah dunia yang semakin tidak waras, maka ruang kritik, perbedaan pendapat, dan perdebatan rasional harus terus dijaga.

















