Korsel Mau Buka Dialog dengan Korut, Ajak Baikan?

- Pemerintah Korea Selatan menegaskan niat memperbaiki hubungan dengan Korea Utara melalui dialog damai, tanpa tindakan permusuhan atau upaya reunifikasi dengan kekerasan.
- Kim Jong Un menolak ajakan tersebut dan menyebut Korsel sebagai musuh utama, memilih memperkuat hubungan dengan Rusia serta China yang mendukung program nuklir Korut.
- Ketegangan Korsel-Korut berakar sejak Perang Korea 1950–1953 yang berakhir tanpa perjanjian damai, membuat konflik terus berlanjut hingga kini.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menegaskan niatnya untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara (Korut). Sebab, hubungan kedua negara belakangan ini terus memanas.
Oleh karena itu, Korsel akan mengajak Korut untuk melakukan dialog bersama agar mau memperbaiki hubungan di antara kedua negara.
"Seperti yang telah berulang kali ditegaskan oleh pemerintahan saya, kami menghormati sistem Korea Utara dan tidak akan terlibat dalam tindakan permusuhan apa pun maupun mengejar reunifikasi melalui kekerasan. Kami juga akan melanjutkan upaya kami untuk berdialog dengan Korea Utara," kata Presiden Korsel, Lee Jae Myung, dalam pidatonya di upacara peringatan 107 tahun Hari Gerakan Kemerdekaan Korsel di ibu kota Seoul, Minggu (1/3/2026), sebagaimana dilansir CNA.
1. Korut tidak mau memperbaiki hubungan dengan Korsel

Permintaan ini muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden Korut, Kim Jong Un, pada pekan lalu. Saat itu, Kim menolak untuk memperbaiki hubungan dengan Korsel.
Dalam pidatonya di kongres partai di Pyongyang pada Kamis (26/2/2026) lalu, Kim bahkan menyebut Korsel sebagai musuh utama Korut. Oleh karena itu, hubungan kedua negara tidak bisa diperbaiki lagi untuk alasan apa pun.
“Korea Utara sama sekali tidak punya urusan dengan Korea Selatan. Mereka adalah entitas yang paling bermusuhan (dengan Korea Utara). Oleh karena itu, kami akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori warga negara,” ujar Kim dilansir NK News.
2. Korut lebih pilih menjalin hubungan dengan Rusia dan China ketimbang Korsel

Dalam pidatonya, Kim menjelaskan dirinya lebih memilih menjalin hubungan dengan Rusia dan China daripada dengan Korsel. Sebab, kedua negara tersebut mendukung seluruh program senjata nuklir yang dimiliki Korut.
Oleh karena itu, Kim menegaskan akan terus menganggap Korsel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS), sebagai musuh besar bagi Korut. Sebab, Kim menilai kedua negara tersebut akan terus melakukan konfrontasi agar bisa menghentikan program nuklir yang dimiliki negaranya.
“Masa depan hubungan AS-Korea Utara sepenuhnya bergantung pada sikap AS, baik itu untuk hidup berdampingan secara damai atau konfrontasi abadi. Kami siap untuk segalanya,” tegas Kim.
3. Hubungan Korsel dan Korut sudah memanas sejak dahulu

Hubungan antara Korsel dan Korut sebetulnya sudah memanas sejak dahulu. Hal ini disebabkan cerita sejarah yang melatarbelakangi pendirian kedua negara.
Jadi, pada akhir Perang Dunia Ke-2, Semenanjung Korea terbagi menjadi dua wilayah, yakni wilayah selatan dan utara. Bagian selatan dikuasai pasukan Amerika Serikat, sedangkan bagian utara dikuasai pasukan Uni Soviet (sekarang Rusia). Inilah yang membuat Semenanjung Korea terpisah menjadi dua negara, yakni Korsel dan Korut.
Pada 1950, wilayah Korut yang saat itu dipimpin Kim Il Sung melakukan invasi militer ke wilayah Korsel. Serangan ini menjadi awal mula perang saudara antara Korsel dan Korut yang disebut dengan Perang Korea. Dalam perang ini, Korsel dibantu oleh AS, sedangkan Korut dibantu oleh Uni Soviet dan China.
Perang Korea ini berakhir pada 1953 tanpa perjanjian damai dari Korsel dan Korut. Inilah yang membuat hubungan kedua negara masih memanas hingga sekarang. Saat ini, konflik antara Korsel dan Korut juga diperparah karena program senjata nuklir Korut dan upaya Korsel untuk melakukan reunifikasi.

















