Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendapat apresiasi langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump di BoP (setneg.go.id)
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan kesiapan Presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi penengah. Dino mempertanyakan kematangan rencana ini. Sebagai mantan diplomat, ia melihat hambatan besar dari sisi psikologis negara adidaya.
"Sebagai political scientists yang independen dan juga sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan, karena sangat tidak realistis," kata dia.
Menurut Dino, Amerika Serikat memiliki ego tinggi dan jarang mau menerima mediasi pihak ketiga saat sedang melancarkan serangan.
"Ego Amerika sebagai negara super power terlalu tinggi untuk menerima itu, dan saya juga meyakini Presiden Trump kali ini tidak mau Indonesia ikut campur karena moodnya pada saat ini sedang gelap mata untuk menumbangkan pemerintah Iran," ucap dia.
Selain faktor Amerika, Dino menyoroti posisi Israel. Menjadi mediator berarti harus berkomunikasi dengan semua pihak, termasuk Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Hal ini dinilai mustahil dilakukan oleh Presiden Indonesia karena alasan politik dan diplomatik.
"Upaya mediasi berarti Presiden Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri israel Netanyahu sebagai pihak yang paling utama menyerang Iran dan ini kan secara politik, diplomatik dan juga logistik tidak mungkin terjadi. Dan ini akan menjadi political suicide dan bunuh diri politik bagi presiden Prabowo di dalam negeri," ujar dia.
Dino juga membedah realitas hubungan bilateral kedua negara. Selama 15 bulan terakhir, belum ada pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo dengan Presiden Iran. Menteri Luar Negeri Sugiono pun tercatat baru sekali bertemu Menlu Iran di Jenewa.
Kondisi ini menandakan belum terbangunnya kepercayaan mendalam atau trust dari Teheran kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Dalam 15 bulan terakhir, Presiden Prabowo tidak pernah bertemu dengan Presiden Iran dan juga tidak pernah mengunjungi Iran, dengan kata lain belum ada suatu kedekatan atau trust dari pemerintah Iran terhadap pemerintah Indonesia sekarang ini," ungkap pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) tersebut.