Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
logo Binance (unsplash.com/Kanchanara)
  • FBI menuding unit peretas Korea Utara, TraderTraitor, mencuri aset kripto senilai 6,3 miliar dolar AS dari Binance dalam serangan yang disebut terbesar sepanjang sejarah.
  • Penyidik menemukan pelaku memindahkan dana melalui 10 jaringan blockchain, mengubah banyak aset menjadi Ethereum, dan diduga akan memakai layanan DeFi untuk menyamarkan transaksi.
  • Binance menyatakan telah memulihkan 90 persen aset dengan dana internal, membekukan sebagian aset terdampak bersama mitra, serta menjanjikan pengguna tidak menanggung kerugian finansial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) pada Sabtu (31/10/2026) menuding peretas Korea Utara sebagai dalang pencurian aset kripto senilai 6,3 miliar dolar AS (sekitar Rp114,2 triliun) dari bursa kripto terbesar di dunia, Binance. Aksi peretasan pada Kamis (29/10/2026) tersebut menguras bitcoin serta mata uang digital lainnya hanya dalam hitungan menit.

Para pakar keamanan siber menyebut insiden ini sebagai pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah. Serangan tersebut mengguncang industri aset digital dan memicu penurunan harga kripto di pasar global pada Jumat. Binance sempat menghentikan sementara layanan penarikan dana pengguna setelah serangan, meski transaksi deposit tetap berjalan normal.

1. Unit peretas TraderTraitor mencuci aset curian lewat Ethereum

logo FBI. (unsplash.com/David Trinks)

FBI mengaitkan serangan siber ini dengan TraderTraitor, unit peretas elit yang disponsori pemerintah Korea Utara. Firma intelijen blockchain AS, TRM Labs, mencatat pelaku memindahkan sekitar 6,36 miliar dolar AS (sekitar Rp115,3 triliun) dari dompet Binance di 10 jaringan blockchain dalam waktu sekitar 20 menit.

Penyelidikan FBI bersama Dinas Rahasia AS (USSS) dan divisi kriminal badan pajak AS (IRS-CI) menemukan bahwa pelaku langsung mengubah sebagian besar aset curian menjadi mata uang kripto Ethereum. Pelaku diperkirakan akan mencuci dana tersebut melalui layanan keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan layanan pertukaran instan untuk menyamarkan jejak transaksi.

FBI telah meminta berbagai bursa kripto dan perusahaan analitik blockchain untuk memblokir transaksi dari alamat digital yang terafiliasi dengan pelaku. Langkah ini ditempuh untuk mencegah pencucian uang lebih lanjut dan memutus akses peretas terhadap dana curian tersebut.

"Ini adalah perampokan bank dengan kecepatan internet. Namun, kami juga dapat melacak aliran dana tersebut secara real time untuk membangun penyelidikan, mengacaukan operasi mereka, dan menyita kembali dana itu," kata Kepala Kebijakan TRM Labs, Ari Redbord, dilansir ABC News.

2. Serangan kompleks melalui peretasan laptop dan malware

ilustrasi peretasan (unsplash.com/FlyD)

Co-CEO Binance, Richard Teng, menjelaskan bahwa pembobolan ini merupakan serangan kompleks yang melibatkan laptop yang diretas. Pelaku juga menyusupkan malware untuk menghapus bukti aktivitas mereka sehingga jejak peretasan lebih sulit dilacak oleh tim penyelidik.

Penyelidikan lanjutan perusahaan turut menemukan sejumlah titik celah keamanan tambahan dalam sistem mereka. Pakar keamanan siber dan CEO NyxLab, Kok Tin Gan, menduga pelaku berhasil mendapatkan satu tanda tangan digital yang memberikan token akses penuh tanpa batas waktu ke hot wallet milik Binance.

Namun, pihak Binance membantah dugaan kebocoran kunci pribadi (private key) pada dompet digital mereka. Perusahaan yang didirikan oleh Changpeng Zhao pada 2017 ini menyatakan akan merilis rincian teknis terkait celah keamanan tersebut setelah seluruh proses investigasi selesai.

3. Binance ganti 90 persen aset yang dicuri

Pada Sabtu (31/10/2026), Binance mengumumkan telah memulihkan 90 persen aset yang dicuri dengan membeli kembali token baru di pasar. Sisa 10 persen aset lainnya terdiri dari berbagai token yang kurang likuid sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dibeli kembali.

"Kami telah memulihkan 90 persen aset yang dicuri, dan kami berkomitmen menutup sisa 10 persen lainnya. Pengguna kami tidak akan menanggung dampak finansial dari insiden ini," ujar Teng melalui platform X, dilansir NBC News.

Untuk menutup kerugian, Binance mengalokasikan dana internal sekitar 6,34 miliar dolar AS (sekitar Rp114,9 triliun) yang diambil dari kas perusahaan, dana asuransi berjangka, serta sebagian cadangan dana darurat pengguna (SAFU) yang bernilai 1 miliar dolar AS (sekitar Rp18,1 triliun). Perusahaan juga bekerja sama dengan mitra blockchain untuk membekukan sekitar 3 miliar dolar AS (sekitar Rp54,4 triliun) aset yang terdampak dan menjadwalkan pembukaan kembali layanan penarikan dana pengguna pada Minggu (1/11/2026).

Menurut Departemen Keuangan AS, unit TraderTraitor merupakan bagian dari kelompok peretas Korea Utara yang lebih luas bernama Lazarus Group. Kelompok ini juga disalahkan atas peretasan bursa kripto Bybit senilai 1,5 miliar dolar AS (sekitar Rp27,2 triliun) pada 2025, yang menurut para pakar menjadi cara rezim Pyongyang mengumpulkan mata uang asing untuk menopang ekonomi dan mendanai program nuklirnya di tengah sanksi PBB.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article