Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Marty Natalegawa Pakai Diplomasi Atasi Krisis Kabut Asap

3 min read
Cerita Marty Natalegawa Pakai Diplomasi Atasi Krisis Kabut Asap
Mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam program Real Talk with Uni Lubis, Rabu (11/03 /2026). (IDN Times/Iwan Iraka)
  • Indonesia memilih mengambil inisiatif diplomasi bersama Singapura dan Malaysia untuk menangani krisis kabut asap lintas batas pada 2013.

  • Pembicaraan trilateral kemudian dibawa ke forum ASEAN dan menghasilkan gagasan pusat pendeteksian kabut asap bersama di Jakarta.

  • Pendekatan tersebut mengubah posisi Indonesia dari sumber persoalan menjadi pelopor penyelesaian serta memperkuat kerja sama kawasan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa, mengungkap pendekatan diplomasi Indonesia dalam menghadapi krisis kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2013. Dalam Saat itu, Indonesia memilih mengambil inisiatif untuk menyelesaikan persoalan bersama negara-negara tetangga, alih-alih menunggu protes dari Singapura dan Malaysia.

Marty mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika itu bahkan secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas dampak asap dari Indonesia. Presiden juga menugaskan Kementerian Luar Negeri untuk mencari solusi melalui pendekatan regional.

Menurut Marty, Indonesia kemudian menginisiasi pembicaraan trilateral bersama Singapura dan Malaysia sebelum persoalan tersebut dibawa ke pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Brunei Darussalam.

Pendekatan itu membuat Indonesia tidak hanya dipandang sebagai negara sumber masalah, tetapi juga menjadi pelopor penyelesaiannya. Marty menilai, pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana diplomasi dapat mengubah sebuah krisis menjadi momentum memperkuat kerja sama kawasan.

  1. Indonesia ambil inisiatif dekati Singapura dan Malaysia

    Mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam program Real Talk with Uni Lubis, Rabu (11/03 /2026).
    Mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam program Real Talk with Uni Lubis, Rabu (11/03 /2026). (IDN Times/Iwan Iraka)

    Marty menceritakan, pemerintah Indonesia saat itu sengaja mengambil langkah lebih awal dengan mengundang Singapura dan Malaysia untuk membahas penanganan kabut asap. Pertemuan tersebut dilakukan beberapa waktu sebelum pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN yang diikuti 10 negara anggota di Brunei Darussalam.

    Indonesia ingin membangun pendekatan bersama dengan kedua negara yang terdampak asap. Hasil pembicaraan trilateral tersebut kemudian dibawa ke forum ASEAN agar dapat menjadi landasan penyelesaian secara regional.

    “ Kami mengambil inisiatif. Jadi, beberapa saat sebelum pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN sebagai 10 negara di Brunei, kami secara khusus meminta pertemuan dengan Singapura dan Malaysia, sehingga ada pendekatan penyelesaian secara trilateral,” ujar Marty dalam POV Times IDN Times, Senin (2/11/2026).

    Ia mengatakan, Indonesia kemudian mengusulkan pendekatan yang dapat diikuti negara-negara ASEAN lainnya. Salah satu hasilnya adalah pembentukan pusat pendeteksian kabut asap ASEAN yang berlokasi di Jakarta, tetapi menjadi milik bersama seluruh negara anggota.

  2. Pusat pendeteksian asap dibangun bersama ASEAN

    Ilustrasi ASEAN. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
    Ilustrasi ASEAN. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Marty menjelaskan, salah satu persoalan utama dalam penanganan karhutla pada 2013 adalah keterbatasan teknologi untuk mendeteksi sumber kebakaran. Teknologi satelit saat itu belum secanggih sekarang sehingga pemetaan titik-titik sumber asap menjadi tantangan tersendiri.

    Dalam pembicaraan trilateral, Indonesia, Singapura, dan Malaysia juga membahas bagaimana informasi mengenai sumber kebakaran dapat dideteksi dan dibagikan kepada negara-negara tetangga. Menurut Marty, sempat terjadi perdebatan mengenai keterbukaan informasi tersebut.

    Namun, akhirnya disepakati pendekatan yang mengedepankan kesetaraan dan prinsip timbal balik atau resiprokal. Artinya, mekanisme pertukaran informasi juga harus berlaku apabila kebakaran serupa terjadi di negara tetangga.

    “Jadi, apa pun yang kita lakukan sifatnya harus resiprokal. Kalau ada kejadian serupa di negara tetangga kita, mereka juga harus melakukan hal yang sama,” katanya.

  3. Indonesia berubah dari sumber masalah jadi pelopor solusi

    Kondisi kabut asap yang melanda kota Palembang menutup ikon kota Jembatan Ampera
    Kondisi kabut asap yang melanda kota Palembang menutup ikon kota Jembatan Ampera (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Marty menilai, langkah diplomasi tersebut berhasil mengubah posisi Indonesia dalam menghadapi krisis asap. Negara yang sebelumnya menjadi sumber persoalan justru mengambil peran utama dalam mendorong penyelesaian bersama.

    Ia mengatakan, Indonesia tidak perlu bersikap defensif ketika menghadapi kritik dari negara tetangga. Sebaliknya, pemerintah harus menunjukkan bahwa Indonesia memahami persoalan dan telah menyiapkan langkah penyelesaian.

    “ Kita melucuti argumentasi mereka karena kita bilang, ya, kita tahu ini adalah masalah, dan saya punya solusinya. Solusinya adalah A, B, C, dan D,” ujar Marty.

    Menurut dia, penilaian masyarakat internasional tidak hanya ditentukan oleh bencana yang terjadi, tetapi juga bagaimana pemerintah meresponsnya. Marty menilai, pendekatan diplomasi Indonesia pada 2013 membuktikan kepentingan nasional dan kepentingan regional dapat berjalan beriringan.

Related Articles

See More