Dalam kesempatan tersebut, Trump dan Netanyahu dikabarkan membahas rencana serangan baru ke Iran. Sebelumnya, Trump juga sudah melakukan diskusi dengan Netanyahu soal serangan ke Iran. Kendati demikian, keduanya hingga saat ini belum memutuskan apa pun soal rencana tersebut.
Trump Telepon Netanyahu, Bahas Rencana Serangan Baru ke Iran

Donald Trump menelepon Benjamin Netanyahu untuk membahas kemungkinan serangan baru ke Iran, tetapi keduanya belum mengambil keputusan.
Trump menyatakan ingin menargetkan fasilitas nuklir Iran di Gunung Pickaxe, yang menurut laporan sedang dibangun kembali setelah serangan sebelumnya.
Sebelum percakapan dengan Netanyahu, Trump membahas risiko serangan bersama petinggi militer AS dan meminta penundaan aksi hingga pemilu sela selesai.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikabarkan telah menelepon Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Sabtu (31/10/2026) pagi waktu setempat. Kabar itu pertama kali disampaikan oleh Wall Street Journal (WSJ) berdasarkan keterangan sejumlah pejabat AS.
1. Trump ingin menyerang fasilitas nuklir Iran

potret sentrifugal nuklir (mehrnews.com/Majid Asgaripour via commons.wikimedia.org/Majid Asgaripour) Trump mengatakan, ia ingin menyerang fasilitas nuklir Iran di Gunung Pickaxe jika AS dan Israel melanjutkan perang dengan Iran. Sebab, Teheran saat ini dikabarkan sedang membangun kembali seluruh fasilitas nuklirnya yang hancur akibat serangan Washington dan Tel Aviv sejak 28 Februari lalu. Hal ini diperkuat dengan laporan citra satelit intelijen AS di sekitar area Gunung Pickaxe. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bisa menyerang fasilitas nuklir Iran hanya dalam waktu 10 menit.
“Kita masih harus mengurus, saya kira, satu atau dua lokasi (fasilitas nuklir Iran). Namun, kita bisa melakukannya dalam 10 menit. Anda mungkin bisa melihat Gunung Pickaxe dan Anda harus mengurusnya,” jelas Trump kepada awak media di kediamannya di Palm Beach, Florida, usai menelepon Netanyahu, seperti dilansir Times of Israel.
2. Trump menyebut Iran ingin berdamai dengan AS

ilustrasi kesepakatan damai (pexels.com/Magda Ehlers) Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut bahwa Iran ingin melanjutkan negosiasi dengan AS. Sebab, ia mengklaim Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan Negeri Paman Sam. Namun, Trump menyayangkan sikap Iran yang selalu ingkar terhadap kesepakatan yang sudah diraih sebelumnya. Sikap inilah yang membuat konflik antara Washington dan Teheran tidak kunjung usai.
"Mereka (Iran) ingin mencapai kesepakatan dan kita akan lihat apa yang terjadi. Semuanya berjalan lancar, tetapi mereka tidak benar-benar dapat diandalkan. Mereka mencapai kesepakatan lalu mengingkarinya. Mereka ingin mencapai kesepakatan dan kita akan lihat apakah mereka benar-benar menandatanganinya," lanjut Trump.
3. Trump sudah berdiskusi dengan petinggi militer AS soal serangan ke Iran

potret Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Sebelum menelpon Netanyahu, Trump dikabarkan sudah menggelar rapat dengan sejumlah petinggi militer AS. Beberapa di antaranya, seperti Komandan Komando Tengah (CENTCOM) militer AS Laksamana Brad Cooper, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dan Kepala Staf Gabungan Militer AS Jenderal Dan Caine.
Dalam kesempatan itu, Trump membahas rencana serangan baru ke Iran beserta semua risikonya. CENTCOM mengatakan siap melakukan serangan baru ke Iran kapan pun dan di mana pun. Kendati demikian, Trump dikabarkan telah meminta CENTCOM dan sayap militer AS lainnya untuk jangan menyerang Teheran sampai pemilihan umum sela AS selesai digelar pada Selasa (3/11/2026) mendatang.





















