Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hadapi Tarif Dagang AS, Vietnam dan Blok EFTA Teken Perjanjian Dagang
Bendera Vietnam (unsplash.com/Sam Williams)
  • Vietnam dan empat negara EFTA meneken perjanjian perdagangan bebas di Hanoi untuk memperluas pasar di tengah ketidakpastian rantai pasok global akibat lonjakan tarif AS.
  • Pakta menargetkan penghapusan bea masuk penuh pada 2028, mencakup barang, jasa, hak kekayaan intelektual, serta akses pasar UMKM; perdagangan bilateral bernilai sekitar 2 miliar dolar AS per tahun.
  • Kesepakatan mengakhiri negosiasi 14 tahun dan diharapkan memberi kepastian aturan bisnis, membuka akses pasar Norwegia, serta menarik investasi baru ke Asia Tenggara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Vietnam dan empat negara anggota Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA), yaitu Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss, resmi meneken perjanjian perdagangan bebas di Hanoi, pada Minggu (18/10/2026). Langkah strategis ini ditempuh guna memperluas pasar dagang di tengah ketidakpastian rantai pasok global akibat lonjakan tarif Amerika Serikat.

Penandatanganan pakta ekonomi tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Vietnam, To Lam, beserta delegasi tingkat tinggi EFTA. Melalui kesepakatan ini, kedua belah pihak setuju memangkas hingga menghapus bea masuk beragam komoditas, mulai dari produk industri, perikanan, hingga pertanian.

1. Rencana pembebasan bea masuk komoditas secara bertahap

Perjanjian dagang ini mengatur penghapusan bea masuk bertahap yang ditargetkan berlaku penuh pada 2028 usai diratifikasi seluruh negara anggota. Melalui skema ini, sekitar 50 persen ekspor Norwegia ke Vietnam akan langsung bebas bea masuk, dan diproyeksikan melesat hingga melampaui 98 persen dalam kurun tujuh tahun. Nilai perdagangan bilateral kedua belah pihak sendiri tercatat stabil di kisaran 2 miliar dolar AS (Rp36 triliun) per tahun dengan pertukaran barang yang saling melengkapi.

Dalam kemitraan ini, Vietnam menjadi pemasok utama produk perikanan, alas kaki, tekstil, mesin, serta komponen elektronik. Sebaliknya, blok EFTA menyuplai mesin industri, perangkat teknologi tinggi, bahan kimia, dan produk farmasi.

Tak hanya memangkas tarif barang, pakta ini turut memperluas akses sektor jasa, memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual, serta mempermudah penetrasi pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

2. Perjalanan panjang perundingan dagang selama 14 tahun

Kesepakatan ini resmi mengakhiri perjalanan panjang perundingan yang sudah dimulai sejak 2012 lalu. Pembicaraan kedua pihak sempat mandek pada 2018, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali pada September 2025 dan tuntas di pertengahan 2026.

Situasi politik dunia yang memanas serta aturan tarif dagang yang menekan pasar global membuat kedua pihak bergerak cepat untuk memperluas jaringan rekan dagang baru.

"Vietnam merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia. Perjanjian ini memberikan kepastian akses pasar bagi pelaku usaha Norwegia, sekaligus membantu membuka lebih banyak lapangan kerja baru," kata Menteri Perdagangan dan Industri Norwegia, Cecilie Myrseth, dilansir Channel News Asia.

3. Kepastian hukum bagi kerja sama investasi jangka panjang

Acara peresmian kerja sama di Hanoi ini dihadiri langsung oleh sejumlah petinggi negara mitra. Di antaranya adalah Presiden Swiss Guy Parmelin, Perdana Menteri Liechtenstein Brigitte Haas, Menteri Luar Negeri Islandia Þorgerður Katrín Gunnarsdóttir, serta utusan dari pemerintah Norwegia. Sementara itu, Vietnam diwakili oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan Le Manh Hung yang menandatangani berkas kesepakatan.

Lewat kerja sama ini, aturan bisnis diharapkan menjadi lebih jelas dan pasti, sekaligus mampu menarik lebih banyak modal usaha baru ke Asia Tenggara.

"Kerja sama selalu memberi hasil yang jauh lebih baik daripada menutup diri, dan kemakmuran bersama bisa dicapai lewat keterlibatan aktif," kata Presiden Swiss, Guy Parmelin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article