Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kopdes Merah Putih Bantu Usaha Desa Naik Kelas? Ini Faktanya

4 min read
Kopdes Merah Putih Bantu Usaha Desa Naik Kelas? Ini Faktanya
ilustrasi UMKM. (dok.123rf.com/ferli)
  • KDMP menyalurkan kebutuhan pokok langsung dari produsen dan distributor, sehingga harga seperti MinyaKita serta LPG 3 kg lebih terjangkau bagi pelaku usaha kecil.

  • KDMP berperan sebagai offtaker produk desa, menyediakan fasilitas sesuai komoditas, menyerap produk UMKM, dan mencatat ekspor kopi serta arang tempurung pada 2026.

  • Selain gerai sembako, KDMP mencakup layanan apotek, klinik, simpan pinjam, pergudangan, logistik, serta distribusi LPG 3 kg melalui 966 outlet hingga Oktober 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pelaku usaha di daerah mungkin akrab dengan persoalan bahan baku yang mahal hingga cakupan penjualannya stagnan. Rantai pasok yang panjang membuat bahan baku terlalu mahal dan hasil penjualan mentok di pasar yang itu-itu saja.

Munculnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) membantu menjawab permasalahan itu sekaligus. Pertanyaannya, bagaimana penerapannya di lapangan? Yuk, cek fakta-fakta berikut!

  1. 1. Benarkah bahan baku usaha jadi lebih murah?

    84486457_m.jpg
    ilustrasi UMKM mencari bahan baku. (dok.123rf.com/ferli)

    FAKTA: Harga kebutuhan pokok di sejumlah Kopdes tercatat lebih murah daripada harga grosir dan di bawah harga eceran tertinggi, karena KDMP mengambil pasokan langsung dari produsen dan distributor.

    Data menunjukkan, MinyaKita di gerai KDMP dijual dengan harga Rp15.700 per pouch. Selisihnya sebesar Rp5.300 jika dibandingkan harga pasaran Rp21.000. LPG 3 kg dijual Rp16.000, dan sejumlah gerai bahkan mematok harga di bawah harga grosir. Bagi pelaku usaha kecil, dua komoditas ini adalah kebutuhan dapur yang utama setiap harinya.

    Hal serupa terlihat di Jakarta Timur. Gerai Kopdes Merah Putih di kawasan tersebut ramai dikunjungi. Sejak dibuka pukul 08.00 WIB, tak sedikit yang datang membeli kebutuhan usaha mereka, bukan sekadar kebutuhan dapur. Seorang warga, Haji Alim, terlihat membeli minyak goreng kemasan untuk keperluan kegiatan keagamaan di lingkungannya.

    "Alhamdulillah, di sini harga minyak goreng jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di swalayan atau toko lainnya. Saya beli banyak untuk bagi-bagi ke warga dalam kegiatan Jumat berkah," kata Haji Alim usai berbelanja di Kopdes Merah Putih, Jumat (28/8).

    Ia berharap harga berbagai komoditas di gerai itu dapat tetap terjangkau. Sebab bagi warga, yang menentukan bukan cuma murah hari ini, melainkan apakah harganya bisa bertahan.

  2. 2. Benarkah jangkauan penjualan produk desa jadi lebih luas?

    200554515_m.jpg
    ilustrasi UMKM. (dok.123rf.com/ferli)

    FAKTA: KDMP dirancang sebagai offtaker hasil produk masyarakat desa, dan sejumlah koperasi bahkan sudah mulai menembus pasar ekspor. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan fungsi offtaker ini membedakan KDMP dari sekadar tempat belanja.

    Skemanya disesuaikan dengan komoditas masing-masing desa. Desa penghasil tanaman pangan akan dilengkapi fasilitas pengering, sementara desa penghasil sayur dan buah dilengkapi control atmosphere storage untuk mengatur suhu. Selama ini fasilitas semacam pengering dan cold storage nyaris tidak ada di level desa, padahal kualitas gabah kering panen sangat bergantung pada fasilitas itu.

    Praktiknya sudah berjalan. KDMP Banjarsari Solo menyerap sekaligus memasarkan produk UMKM anggotanya, mulai dari batik, blangkon, tenun ikat, batik ciprat, ecoprint, sampai aneka kerajinan tangan. Sebagai offtaker, koperasi memberi kepastian pasar yang selama ini jadi masalah utama pelaku usaha kecil.

    Contoh lain datang dari KDMP Tambakrejo, Sidoarjo, Jawa Timur, yang melayani 16.216 penduduk. Gerai sembako, obat, pupuk, dan klinik tengah disiapkan, sementara persediaan kebutuhan pokok, pupuk, dan elpiji telah tersedia. Harga yang lebih terjangkau diakui Sumarti, warga Tambakrejo yang sehari-hari berjualan makanan.

    "Harga di KDMP jauh lebih murah, seperti harga grosir, meskipun kami hanya membeli sedikit. Ini sangat menguntungkan pedagang kecil seperti kami," terangnya.

    Cakupan KDMP bahkan mulai melewati batas desa dan masuk ke ranah ekspor. Kementerian Perdagangan mencatat dua Kopdes melakukan ekspor perdana pada 2026. Kopdes Sidomulyo di Jember, Jawa Timur, mengekspor 20 ton kopi ke Mesir senilai US$90 ribu atau sekitar Rp1,61 miliar. Kopdes Awunio di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, berhasil mengekspor 50 ton arang tempurung ke Tiongkok senilai Rp734,5 juta.

    Data Kemendag menyebutkan program Desa Bisa Ekspor terbuka bagi Kopdes, UMKM, koperasi, maupun BUMDes. Kuncinya ada pada akses pembeli, karena itu Kemendag memfasilitasi business matching melalui perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Saat ini ada sekitar 2.600 desa yang teridentifikasi memiliki punya potensi untuk ekspor.

    Bagi pelaku usaha, kepastian penjualan lewat KDMP penting untuk menentukan keberlanjutan bisnis. Menariknya, menjadi offtaker hanya baru satu dari sekian banyak peran yang diemban oleh KDMP.

  3. 3. Benarkah Kopdes cuma jadi gerai sembako?

    252495501_m.jpg
    ilustrasi UMKM. (dok.123rf.com/ferli)

    Faktanya tidak. Sejak awal, KDMP punya peranan luas dan tidak dirancang sebagai toko kelontong biasa. Pemerintah mengungkapkan, Kopdes memiliki peran beragam dan menyesuaikan dengan potensi desa, seperti gerai sembako, apotek desa, klinik desa, kantor koperasi, simpan pinjam, pergudangan dan logistik, serta kegiatan usaha lain.

    Peran luas ini dapat membantu usaha desa naik kelas. Sebagai contoh, KDMP tidak hanya membuka akses pasar tetapi juga kebutuhan energi kepada masyarakat. Pertamina Patra Niaga menjadi penyalur LPG di jaringan KDMP. Hingga Oktober 2026, tercatat 966 Kopdes telah menjadi outlet LPG 3 kg yang didukung 285 agen penyalur.

    "Sekitar 33.347 tabung LPG telah didistribusikan melalui jaringan KDMP," kata Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, dalam keterangannya, Jumat (15/10). 

    Dengan demikian, KDMP saat ini memiliki potensi dan peran yang luas dalam membantu usaha desa. Perannya tidak berhenti sebagai penyuplai bahan baku yang lebih terjangkau, tetapi juga memperluas pasar usaha, dan memenuhi berbagai kebutuhan lainnya.  Rangkaian peran itulah yang memberi ruang bagi usaha desa untuk naik kelas, dan dampaknya akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. (WEB)

    #2TahunPrabowoGibran

    #2TahunKomdigi.

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More