Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cetak Sejarah, Jepang Kirim Wahana untuk Ambil Sampel Bulan Mars

4 min read
Cetak Sejarah, Jepang Kirim Wahana untuk Ambil Sampel Bulan Mars
sebuah roket di Pusat Antariksa Tanegashima, Jepang (NASA Goddard Space Flight Center from Greenbelt, MD, USA, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • JAXA meluncurkan wahana MMX dengan roket H3 menuju Phobos pada 20 Oktober 2026, menandai misi pertama dunia untuk membawa sampel bulan Mars ke Bumi.
  • MMX dijadwalkan tiba pada Agustus 2027, memakai penjelajah Idefix untuk mencari lokasi aman, lalu mengambil minimal 10 gram debu dan batuan Phobos.
  • Sampel Phobos diharapkan mengungkap asal-usul bulan Mars dan material Mars yang murni; kapsul direncanakan mendarat di Australia Selatan pada 2031.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) meluncurkan wahana antariksa tanpa awak Martian Moons eXploration (MMX) menuju bulan milik planet Mars, Phobos, pada Selasa (20/10/2026). Roket H3 yang membawa wahana tersebut lepas landas dari Pusat Antariksa Tanegashima di barat daya Jepang pada pukul 04.41 waktu setempat. Misi pertama di dunia ini bertujuan membawa pulang sampel batuan dan tanah dari satelit alami Mars tersebut ke Bumi.

Satu jam setelah mengudara, wahana MMX berhasil memisahkan diri dari roket peluncur dan mulai memasuki jalur perjalanan menuju sistem orbit Mars. Pusat kendali JAXA mengonfirmasi penerimaan sinyal normal dari wahana tersebut tak lama setelah pelepasan. Proyek lima tahun senilai 578 juta dolar AS (Rp10,3 triliun) ini melibatkan kolaborasi lima lembaga antariksa, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Eropa, serta sejumlah universitas dan perusahaan teknologi.

  1. 1. Proses pendaratan dan pengambilan sampel di Phobos

    ilustrasi wahana MMX menuju Phobos
    ilustrasi wahana MMX menuju Phobos (NASA, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Wahana MMX dijadwalkan tiba di orbit Mars pada Agustus 2027 dan menyelaraskan gerakannya dengan orbit Phobos. Sebelum mendaratkan wahana utama, MMX akan menerjunkan penjelajah beroda empat buatan Prancis-Jerman bernama Idefix untuk memetakan permukaan bulan tersebut. Penjelajah itu akan memantul selama beberapa menit akibat gravitasi Phobos yang hanya seperseribu gravitasi Bumi, lalu menghabiskan 100 hari guna mencari titik pendaratan dan pengambilan sampel yang aman.

    "Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Kami menjadi bagian dari misi pengembalian sampel pertama dari sistem Mars," ujar Kepala Penjelajah Badan Antariksa Jerman, Markus Grebenstein, dilansir The Guardian.

    Setelah lokasi aman ditemukan, wahana pendarat utama berkaki empat akan turun ke permukaan Phobos selama dua jam untuk mengebor dan menyedot minimal 10 gram sampel debu serta batuan. Wahana tersebut kemudian akan terbang kembali ke angkasa dan mengamati bulan Mars yang lebih kecil, Deimos, dalam beberapa kali penerbangan lintas tanpa mendarat di sana. MMX dijadwalkan meninggalkan orbit Mars pada November 2030 dan menjatuhkan kapsul berisi sampel ke gurun Woomera, Australia Selatan, pada 2031.

  2. 2. Mengungkap asal-usul bulan Mars dan potensi jejak kehidupan

    ilustrasi wahana rover MMX
    ilustrasi wahana rover MMX (DLR, CC-BY 3.0, CC BY 3.0 DE , via Wikimedia Commons)

    Para ilmuwan berharap sampel murni dari Phobos dapat memecahkan misteri pembentukan Mars beserta dua bulannya yang berbentuk menyerupai kentang tersebut. Selama ini terdapat dua teori utama mengenai asal-usul Phobos dan Deimos, yaitu hipotesis tumbukan besar yang menyebut keduanya terbentuk dari puing tabrakan benda langit dengan Mars, serta hipotesis tangkapan yang menyatakan keduanya adalah asteroid yang tertarik gravitasi Mars. Penentuan teori yang tepat akan membantu peneliti memahami proses munculnya lingkungan layak huni di planet berbatu seperti Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.

    Selain meneliti komposisi mineral dan kimia bulan tersebut, tim peneliti memperkirakan sampel Phobos turut menyimpan butiran material dari permukaan Mars. Letak Phobos yang mengorbit hanya sekitar 6 ribu kilometer di atas Mars membuat serpihan batuan planet merah akibat hantaman asteroid berpotensi menempel di permukaan bulan itu. Berbeda dengan meteorit Mars langka yang jatuh ke Bumi dan telah terkontaminasi udara maupun air, sampel bawaan MMX akan tetap murni.

    "Sampel dari MMX akan menghadirkan ilmu pengetahuan yang mengubah paradigma tentang sistem Mars bagi generasi mendatang, terutama saat NASA bersiap mengirim manusia pertama ke Mars," kata Administrator Direktorat Misi Sains NASA, Nicky Fox, dilansir Channel News Asia.

  3. 3. Persaingan membawa pulang sampel Mars ke Bumi

    Selain tujuan ilmiah, JAXA menjadikan misi pulang-pergi pertama ke wilayah Mars ini sebagai uji coba teknologi untuk misi berawak pada masa depan. Badan antariksa tersebut turut mengkaji potensi pemanfaatan Phobos sebagai stasiun antariksa alami bagi para astronaut yang melakukan perjalanan ke planet merah. Selama setengah abad terakhir, AS telah mendaratkan sembilan wahana di permukaan Mars dan China berhasil menyusul pada 2021, tetapi belum ada satu pun negara yang pernah mendarat di Phobos maupun Deimos.

    Di sisi lain, AS dan China tengah bersaing menjadi negara pertama yang membawa pulang sampel batuan langsung dari permukaan planet Mars ke Bumi. Penjelajah Perseverance milik NASA sebenarnya telah mengumpulkan dan menyimpan sampel batuan di permukaan Mars sejak 2021. Namun, misi pengambilan kapsul sampel tersebut dibatalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump menyusul pemungutan suara Kongres AS pada Januari 2026.

    Sementara itu, China berencana meluncurkan wahana antariksa Tianwen-3 pada 2028 untuk mengambil sampel langsung dari permukaan Mars. Misi milik China tersebut ditargetkan kembali ke Bumi paling cepat pada 2031.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More