Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi penelitian tentang virus (pexels.com/Martin Lopez)
  • WHO menyetujui uji klinis dua vaksin Ebola khusus varian Bundibugyo di Kongo, dipimpin institut riset nasional DRC dengan dukungan mitra internasional; hasilnya diperkirakan selesai awal 2027.
  • Varian Bundibugyo belum memiliki vaksin berizin resmi dan disebut memiliki tingkat kematian hingga 50 persen; Africa CDC mencatat 10.444 kasus terkonfirmasi serta lebih dari 5.300 kematian sejak Mei.
  • WHO menilai pembatasan perjalanan oleh Ghana dan AS dapat menghambat respons wabah, sementara Inggris mengevakuasi tenaga kesehatan terinfeksi dari DRC dalam kondisi stabil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menyetujui uji klinis bagi dua vaksin Ebola anyar yang dirancang secara khusus untuk melawan virus Bundibugyo. Langkah strategis ini direkomendasikan kelompok ahli WHO guna meredam wabah terbesar dalam sejarah Republik Demokratik Kongo (DRC)

Rangkaian uji coba ini rencananya bakal dipimpin langsung oleh Institut Nasional untuk Penelitian Biomedis DRC dengan menggandeng dukungan penuh dari WHO beserta berbagai mitra internasional. Vaksin tersebut merupakan hasil pengembangan kolaboratif antara Universitas Oxford, Serum Institute of India, serta Moderna, di mana hasil akhirnya diprediksi bakal rampung pada awal 2027.

Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa kehadiran vaksin mutakhir ini tidak serta-merta menggantikan langkah-langkah penyelamatan mendasar yang sudah berjalan di lapangan.

“Vaksin adalah alat yang ampuh, tetapi vaksin bukanlah pengganti langkah-langkah terbukti yang dapat menyelamatkan nyawa sekarang: perawatan dini, pelacakan kontak, isolasi, pemakaman yang aman dan bermartabat, serta pelibatan yang tepercaya dengan masyarakat,” ujar Tedros, dikutip Al Jazeera.

1. Varian Bundibugyo memicu darurat kesehatan skala besar di Kongo

ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)

Varian Bundibugyo mendadak menjadi sorotan tajam lantaran belum memiliki satupun vaksin yang mengantongi izin edar resmi. Tedros memaparkan bahwa tingkat kematian akibat galur ini mencapai angka mengkhawatirkan hingga 50 persen, sementara vaksin Ervebo yang sempat diuji coba bulan lalu ternyata hanya memperoleh izin untuk galur Zaire saja.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), tercatat sebanyak 10.444 kasus terkonfirmasi dengan korban jiwa melampaui 5.300 orang sejak Mei lalu. Dilansir Euro News, wilayah DRC tercatat sebagai episentrum utama dengan menyumbang 5.103 kematian, disusul oleh Kenya yang melaporkan sembilan kasus termasuk dua kematian, Nigeria dengan satu kasus, serta beberapa kasus lainnya di Uganda.

2. Polemik pembatasan perjalanan internasional di tengah upaya penanganan wabah

ilustrasi pesawat terbang (pexels.com/Pixabay)

Tedros turut menyoroti kebijakan pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh Ghana dan Amerika Serikat (AS) terhadap para pelancong asal DRC. Kebijakan tersebut dinilai justru merugikan efektivitas respons wabah karena dianggap menghukum semangat keterbukaan suatu negara.

Di sisi lain, WHO menyatakan komitmennya untuk terus mendampingi serta mendukung negara-negara tetangga DRC agar siap siaga menghadapi potensi penyebaran lintas batas. Langkah mitigasi regional ini dipandang krusial guna membendung eskalasi penularan yang lebih luas di kawasan Afrika.

3. Pemerintah Inggris lakukan evakuasi medis bagi tenaga kesehatan terinfeksi

ilustrasi baju APD (pexels.com/Gustavo Fring)

Sementara itu, seorang tenaga kesehatan asal Inggris yang terjangkit virus di DRC akhirnya dievakuasi kembali ke tanah airnya guna mendapatkan perawatan medis spesialis. Juru bicara pemerintah Inggris menyampaikan bahwa kondisi pasien saat ini sudah berada dalam status stabil dan segera dipindahkan ke unit khusus penanganan penyakit infeksi konsekuensi tinggi.

Pihak berwenang juga berupaya meredakan kekhawatiran publik dengan memastikan bahwa ancaman penularan di tingkat domestik masih berada pada level yang rendah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article