Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korban Jiwa Ebola di Kongo Tembus 5 Ribu, Termasuk para Dokter

3 min read
Korban Jiwa Ebola di Kongo Tembus 5 Ribu, Termasuk para Dokter
ilustrasi bendera Kongo (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menewaskan lebih dari 5.000 orang dari lebih 10.000 kasus sejak Mei 2026, menjadikannya wabah terbesar kedua dalam sejarah dunia.
  • Penyebaran menjangkau 67 zona kesehatan di delapan provinsi; konflik, keterlambatan deteksi, dan fasilitas kewalahan memperburuk situasi. Di Beni, tiga dokter meninggal dalam kurang dari 72 jam.
  • Galur Bundibugyo belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi. Kasus juga terdeteksi di Nigeria, Kenya, dan Uganda, mendorong Arab Saudi memperketat perjalanan serta visa dari negara terdampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Jumlah korban meninggal akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah melampaui 5.000 jiwa berdasarkan data pemerintah yang diumumkan pada Jumat (30/10/2026). Otoritas setempat dilaporkan masih berupaya menemukan cara untuk mengendalikan wabah virus paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Wabah yang telah menginfeksi lebih dari 10 ribu orang di Kongo sejak diumumkan pada Mei 2026 ini tercatat sebagai peristiwa Ebola terbesar kedua di dunia. Kondisi tersebut dihadapi tanpa adanya vaksin maupun pengobatan resmi yang disetujui untuk melawan galur langka virus yang sedang merebak.

  1. 1. Beban layanan kesehatan dan laju penyebaran di delapan provinsi

    Petugas medis suntikkan vaksin kepada seorang pria di Kongo.
    Petugas medis suntikkan vaksin kepada seorang pria di Kongo. (European Union, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Laporan situasi National Institute of Public Health (INSP) mencatat sebanyak 10.274 kasus terkonfirmasi dengan 4.992 kematian di Kongo hingga Rabu (28/10/2026). Tingkat fatalitas kasus dari wabah tersebut mencapai 48,6 persen dan telah menjangkau 67 zona kesehatan di delapan dari 26 provinsi. Keterlambatan deteksi, konflik bersenjata, dan fasilitas kesehatan yang kewalahan membuat virus menyebar lebih cepat dibanding wabah sebelumnya.

    Tekanan berat terhadap sistem medis berlangsung di Provinsi Kivu Utara yang mencatat 2.391 kasus terkonfirmasi dan 1.341 kematian. Di wilayah tersebut, pusat perawatan Ebola beroperasi pada tingkat kapasitas 86,3 persen. Sementara itu, pemantauan terhadap kontak yang teridentifikasi baru mencapai 82,2 persen, berada di bawah target resmi sebesar 95 persen.

  2. 2. Penghormatan untuk dokter yang gugur dan situasi di Beni

    ilustrasi bunga duka cita
    ilustrasi bunga duka cita (unsplash.com/Caroline Attwood)

    Risiko tinggi bagi tenaga medis terlihat di Beni, Kivu Utara, tempat tiga dokter dilaporkan meninggal akibat Ebola dalam kurun waktu kurang dari 72 jam di pusat perawatan. Terkait situasi di kawasan timur tersebut, lembaga kesehatan benua Africa CDC memberikan penghormatan melalui media sosial X kepada Dr. Marie-France Shogogo yang meninggal akibat Ebola di Beni. Lembaga tersebut menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para pekerja kesehatan di garis depan.

    "Lindungi mereka yang melindungi kita," tulis lembaga kesehatan tersebut. Berdasarkan laporan INSP, zona kesehatan Beni mencatat total 661 kasus dengan 443 kematian, dengan tingkat fatalitas kasus menyentuh 67,0 persen.

  3. 3. Ketiadaan vaksin teruji dan perbandingan dengan epidemi masa lalu

    penyemprotan disinfektan saat wabah Ebola
    penyemprotan disinfektan saat wabah Ebola (Ethleen Lloyd, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Wabah yang secara resmi dideklarasikan pada 15 Mei 2026 ini disebabkan oleh virus Ebola galur Bundibugyo. Ketiadaan sarana medis yang disetujui ini menjadi kendala bagi pemerintah dalam menekan laju penularan.

    Dilansir Al Jazeera, lonjakan kasus tahun ini menempatkan peristiwa tersebut sebagai wabah Ebola terbesar kedua sepanjang catatan sejarah. Skala wabah ini berada tepat di bawah epidemi periode 2014 hingga 2016 di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone yang mencatat lebih dari 28.600 kasus infeksi serta merenggut lebih dari 11.000 korban jiwa.

  4. 4. Penyebaran lintas negara dan pembatasan perjalanan oleh Arab Saudi

    ilustrasi papan informasi bandara
    ilustrasi papan informasi bandara (pexels.com/AirTeo | Air Travel)

    Penyebaran virus kini telah meluas ke kawasan sekitar setelah Nigeria menjadi negara Afrika keempat yang melaporkan temuan kasus Ebola pada pekan lalu, memperluas sebaran geografis wabah ke Afrika Barat. Selain Nigeria, dua negara di kawasan Afrika Timur, yakni Kenya dan Uganda, juga telah melaporkan temuan kasus. Perluasan ini mendorong sejumlah pemerintah memberlakukan pembatasan perjalanan dan karantina bagi pelancong dari kawasan terdampak.

    Sebagaimana dilansir Al Jazeera, Arab Saudi pada Jumat (30/10/2026) menangguhkan perjalanan warganya ke Kenya dan menghentikan penerbitan seluruh jenis visa bagi pelancong asal negara tersebut. Otoritas setempat juga melarang masuk penumpang dari Kenya, termasuk penumpang transit yang sempat berada di Kenya atau wilayah terdampak Ebola lain dalam 21 hari terakhir. Tindakan ini menyusul pembekuan perjalanan yang telah diberlakukan Arab Saudi sejak Juni 2026 terhadap Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More