Mojtaba Khamenei Peringatkan Hasil Pemilu AS Tak Ubah Sikap Washington

- Mojtaba Khamenei menegaskan hasil pemilu sela AS tidak akan mengubah kebijakan Washington terhadap Iran, serta memperingatkan serangan baru akan dibalas dengan respons lebih luas.
- Analis menilai kekalahan Partai Republik menekan Donald Trump mencari jalan keluar perang, tetapi kewenangan militernya sebelum Kongres baru bertugas membuat kemungkinan serangan lanjutan tetap terbuka.
- Sejumlah pejabat Iran menyambut kemenangan Demokrat di Kongres AS sebagai penolakan publik terhadap perang, sementara menilai hasil itu memperkuat posisi Iran dalam menghadapi Washington.
Jakarta, IDN Times - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan bahwa hasil pemilihan umum (pemilu) sela Amerika Serikat (AS) pada Rabu (4/11/2026), tidak akan mengubah sikap Washington terhadap negaranya. Ia juga menegaskan bahwa setiap serangan baru AS akan dibalas dengan respons yang jauh lebih luas.
Beberapa analis menilai hasil pemilu dapat meningkatkan tekanan terhadap Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran. Namun, kemungkinan AS melancarkan serangan baru belum sepenuhnya tertutup. Sementara itu, para pejabat Iran menyambut positif kekalahan Partai Republik dalam pemungutan suara di berbagai negara bagian AS tersebut.
1. Khamenei tegaskan AS tidak akan mengubah kebijakan terhadap Iran

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (x.com/MKhamenei_ir) Dilansir Al Jazeera, Khamenei mengatakan bahwa pihak yang berharap pergantian partai atau faksi di AS dapat mengubah sikap Washington terhadap Iran telah keliru. Pernyataan tersebut disampaikan melalui pesan tertulis yang dipublikasikan di situs resminya.
"Siapa pun yang masih menyimpan secercah harapan bahwa perilaku sistem hegemonik dapat berubah melalui pergeseran partisan atau faksional, atau membayangkan bahwa memberikan konsesi kepada AS dapat menghalanginya untuk memusuhi bangsa Iran, adalah pihak yang benar-benar keliru," demikian pernyataan Khamenei.
Ia juga mengeklaim kendali Iran atas Selat Hormuz telah menghancurkan mitos mengenai ketakterkalahkan AS. Khamenei menegaskan Iran harus terus memperkuat diri untuk mencapai daya tangkal mutlak. Ia memperingatkan serangan baru AS akan dibalas dengan respons yang jauh lebih luas.
Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan Hari Nasional Perlawanan terhadap Arogansi Global yang diperingati setiap 4 November. Tanggal itu diperingati bermula dari peristiwa penyerbuan Kedutaan Besar AS di Teheran oleh mahasiswa pro-revolusi Iran pada 1979 silam.
Kala itu, mereka menyandera puluhan diplomat dan staf AS selama 444 hari sebagai bentuk protes terhadap keputusan Washington yang memberikan suaka kepada mantan penguasa Iran, Shah Mohammad Reza Pahlavi. Krisis tersebut berakhir usai kedua negara menyepakati Perjanjian Aljazair yang ditandatangani pada 19 Januari 1981.
Di tengah ketegangan terkait Selat Hormuz saat ini, Washington masih terus menekan Teheran melalui blokade laut, sanksi, dan gangguan perdagangan.
2. Analis nilai serangan baru AS masih mungkin terjadi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/WhiteHouse) Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, Sanam Vakil, menilai kekalahan Partai Republik akan meningkatkan tekanan terhadap Trump untuk mengakhiri perang. Akan tetapi, hasil pemilu tersebut tidak menutup kemungkinan AS melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran.
"Dia membutuhkan kemenangan diplomatik atau setidaknya jalan keluar dari konflik. Namun, ketika menghadapi kekalahan, ia mungkin enggan terlihat lemah," kata Vakil kepada Al Jazeera.
Sementara itu, analis senior Iran dari International Crisis Group, Hamidreza Azizi, menilai kemenangan Demokrat dapat membuat para pengambil keputusan di Iran kian teguh mempertahankan tuntutan. Hal ini mencakup tujuh syarat untuk membuka kembali sebagian Selat Hormuz serta tuntutan agar AS mengambil langkah pertama. Ia juga memperkirakan peluang Iran memberikan konsesi dalam persoalan nuklir bisa makin kecil dari sebelumnya.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan baru AS turut disampaikan peneliti senior Stimson Center, Barbara Slavin. Ia memperingatkan bahwa Trump masih punya kewenangan besar sebagai panglima tertinggi militer, terutama sebelum anggota Kongres baru mulai bertugas pada Januari 2027.
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, juga memperingatkan bahwa periode sebelum anggota Kongres baru mulai bertugas berpotensi menjadi masa yang tidak stabil. Menurutnya, Trump dapat meningkatkan serangan terhadap Iran sebagai bentuk pembalasan dendam usai kekalahan Partai Republik.
Trump sendiri mengakui agresi AS-Israel terhadap Iran kemungkinan turut memengaruhi buruknya hasil pemilu bagi Partai Republik. Akan tetapi, ia berpendapat kenaikan harga bensin lebih menjadi perhatian pemilih ketimbang perang. Ia mengatakan kepada Fox News bahwa para pemilih mungkin mendukung kebijakannya terhadap Iran, tetapi tidak bersedia membayar lebih mahal untuk bensin.
3. Pejabat Iran sambut kekalahan Partai Republik
Berbeda dengan Khamenei, sejumlah pejabat Iran menunjukkan sikap lebih optimistis setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dengan mengambil alih kendali kedua kamar Kongres AS. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama negaranya dengan Washington, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai hasil pemilu tersebut mencerminkan penolakan masyarakat AS terhadap perang.
"Entah karena hati nurani atau biaya hidup, rakyat Amerika mengatakan TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini," tulis Ghalibaf melalui X.
Ia juga memperingatkan pemerintah AS agar tidak mengabaikan kehendak rakyatnya demi kepentingan pihak lain (Israel).
"Apabila pemerintah AS mengkhianati kehendak rakyat demi melayani pihak-pihak internasional yang membayar dan memerasnya, mereka akan mengetahui bahwa kata TIDAK dari kami akan mendatangkan mimpi buruk," pungkas Ghalibaf.
Penasihat Khamenei, Mohammad Mokhber, turut menanggapi hasil pemilu tersebut. Ia menyebut Trump telah mendapat tamparan dari rakyatnya sendiri. Mokhber juga menilai Iran menjadi pemenang karena berhasil mengalihkan biaya perang kepada AS.
Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung Iran Gholam-Hossein Mohseni-Ejei berujar bahwa Trump telah kalah dalam perang maupun politik. Ia berjanji Iran akan memberikan kekalahan lebih lanjut kepada pemimpin AS tersebut.




















