Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Uji Klinis Perdana Vaksin Ebola Resmi Dimulai di RD Kongo

3 min read
Uji Klinis Perdana Vaksin Ebola Resmi Dimulai di RD Kongo
Ilustrasi vaksin (magnific.com/freepik)
  • Uji klinis vaksin Ebola perdana dimulai di Bunia, RD Kongo, melalui program Tumaini untuk menekan wabah Bundibugyo yang mencatat lebih dari 9.700 kasus dan 4.600 kematian.
  • Tahap awal menguji Ervebo guna menilai kekebalan silang terhadap Bundibugyo, dengan prioritas bagi kontak erat, kelompok berisiko tinggi, ibu hamil, serta anak usia 12 tahun ke atas.
  • WHO dan mitra menyiapkan dua kandidat vaksin Bundibugyo dari Oxford dan Moderna, di tengah wabah yang telah menyebar ke empat negara Afrika dan memicu darurat kesehatan global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Uji klinis perdana vaksin Ebola resmi dimulai di Republik Demokratik Kongo pada Jumat (23/10/2026). Langkah medis ini diambil untuk menekan laju wabah terburuk dalam sejarah negara tersebut yang telah mencatat lebih dari 9.700 kasus dan merenggut lebih dari 4.600 korban jiwa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Kementerian Kesehatan RD Kongo memimpin langsung penelitian ini di wilayah pusat penularan. Selama ini, penanganan darurat di lapangan terkendala oleh belum tersedianya obat maupun vaksin resmi untuk menangkal virus Ebola jenis Bundibugyo yang memicu krisis kesehatan tersebut.

  1. 1. Pelaksanaan uji klinis perdana vaksin Ebola di Kota Bunia

    Rangkaian uji klinis diawali dengan penyuntikan dosis pertama kepada relawan di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri di wilayah timur laut RD Kongo. Penelitian ini dijalankan melalui program riset bernama Tumaini, yang berarti "harapan" dalam bahasa Swahili.

    "Ilmu pengetahuan memberi kita harapan karena hari ini peserta pertama di Bunia telah menerima suntikan dalam uji klinis vaksin Ebola baru bernama Tumaini," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dilansir Al Jazeera.

    Tahap awal penelitian ini menguji vaksin Ervebo, yang sebelumnya telah disetujui untuk menangkal virus Ebola jenis Zaire, guna melihat kemampuannya dalam membentuk kekebalan silang terhadap jenis Bundibugyo. Penyuntikan diprioritaskan bagi kontak erat pasien dan warga yang berisiko tinggi tertular, termasuk kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak berusia 12 tahun ke atas.

  2. 2. Persiapan dua kandidat vaksin khusus untuk melawan virus Bundibugyo

    Berbeda dengan jenis Zaire yang sudah memiliki standar pengobatan resmi, karakteristik virus Bundibugyo menuntut pengujian medis secara menyeluruh di lapangan. Oleh karena itu, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Chikwe Ihekweazu, menjelaskan bahwa program Tumaini dirancang untuk menguji keamanan, respons kekebalan tubuh, dan kemanjuran beberapa kandidat vaksin sekaligus agar dapat melindungi kelompok berisiko tinggi.

    Saat ini, dua kandidat vaksin khusus virus Bundibugyo yang sedang merampungkan uji tahap awal berskala kecil tengah disiapkan untuk masuk ke dalam program tersebut dengan dukungan lembaga internasional Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Kandidat vaksin pertama dikembangkan oleh University of Oxford dengan memanfaatkan teknologi virus pembawa ChAdOx1, sedangkan kandidat kedua menggunakan teknologi mRNA buatan Moderna.

  3. 3. Meluasnya penularan wabah Ebola ke empat negara di Afrika

    Wabah Ebola ke-17 di RD Kongo yang merebak sejak Mei 2026 ini menyebar dengan cepat dan memiliki tingkat kematian tinggi hingga mendorong WHO menetapkan status darurat kesehatan global. Penularan kali ini tercatat sebagai yang terluas di benua Afrika karena telah menjangkau empat negara di kawasan Afrika Timur, Tengah, dan Barat, sehingga pemerintah lintas negara bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) memperketat pelacakan kontak erat serta pengawasan perbatasan menyusul temuan kasus positif di Kenya dan Nigeria.

    "Uji klinis ini akan membantu kita memastikan kemanjuran kandidat vaksin khusus untuk melawan virus Bundibugyo. WHO mendukung penuh upaya pemerintah RD Kongo dalam menemukan solusi medis demi menyelamatkan nyawa masyarakat," ujar Tedros.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More