ilustrasi Beijing, China (vecteezy.com/Sumeth Anusornkamala)
Menurut Ja Ian Chong, profesor madya ilmu politik di National University of Singapore, kejadian di Seoul lebih tepat dilihat sebagai gejala dari ketegangan yang sudah berlangsung. Artinya, perselisihan tersebut bukanlah penyebab utama memburuknya hubungan China dan Filipina.
Manila diperkirakan tetap akan mempertahankan posisinya dalam sengketa Laut China Selatan, tapi masih membuka peluang untuk melakukan pembicaraan dengan Beijing. Sikap seperti ini membuat jalur diplomasi tetap terbuka meskipun hubungan kedua negara sedang penuh gesekan.
Di sisi lain, Chong menilai China juga belum punya alasan kuat untuk mengubah strategi terhadap Filipina karena Beijing memiliki kemampuan yang lebih besar. Kondisi tersebut membuat China masih bisa menghadapi situasi memalukan secara terbuka seperti yang terjadi di Seoul tanpa harus mengubah kebijakan besarnya.
Jadi, kalau kamu melihat perkembangan ini, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya perang kata-kata antara pejabat kedua negara. Hal lebih penting adalah apakah ketegangan di Laut China Selatan terus meningkat hingga memengaruhi hubungan diplomatik dan aktivitas kedua negara di lapangan.
Pada akhirnya, insiden di Seoul memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan China dan Filipina saat ini. Pernyataan keras Teodoro memang memicu respons dari Beijing, tapi akar masalahnya jauh lebih panjang dan berkaitan erat dengan sengketa Laut China Selatan.
Kedua negara tampaknya masih berusaha menjaga agar perselisihan gak berubah menjadi konflik militer terbuka. Namun, selama klaim wilayah dan aktivitas di kawasan sengketa terus menjadi sumber gesekan, hubungan keduanya kemungkinan masih akan menghadapi banyak ujian.