Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IAEA Sebut Reaktor Rahasia Suriah Era Assad untuk Senjata Nuklir
ilustrasi senjata nuklir (unsplash.com/Moslem Danesh)
  • IAEA menyatakan reaktor rahasia di Deir ez-Zor, era Bashar al-Assad, dirancang efisien menghasilkan material fisil untuk senjata nuklir sebelum dihancurkan serangan Israel pada 2007.
  • Inspektur IAEA menemukan sekitar 73 ton uranium alam berbentuk batang bahan bakar di dua lokasi Suriah, setelah otoritas baru Damaskus membuka akses penyelidikan pada Agustus.
  • IAEA memasang kamera dan menempatkan material uranium di bawah pengawasan; Dewan Gubernur menyiapkan resolusi untuk menuntaskan penyelidikan Suriah yang berlangsung sejak 2011.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengungkapkan bahwa reaktor nuklir era Bashar al-Assad di Suriah dirancang untuk memproduksi bahan pembuat senjata nuklir. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyampaikan temuan tersebut dalam pertemuan rutin Dewan Gubernur di Wina pada Senin (7/9/2026).

Fasilitas yang sempat dirahasiakan oleh rezim terdahulu itu telah hampir selesai sebelum akhirnya dihancurkan oleh serangan jet tempur Israel. Temuan ini terungkap setelah otoritas baru Suriah membuka akses penyelidikan kepada badan atom PBB tersebut.

1. Reaktor rahasia Suriah dirancang hasilkan bahan bom nuklir

ilustrasi bahaya radiasi nuklir (unsplash.com/ Kilian Karger)

Grossi menjelaskan bahwa konfigurasi dan fitur dari fasilitas di Deir ez-Zor sangat mumpuni dalam menghasilkan material fisi.

"Melihat konfigurasi dan karakteristik teknisnya, reaktor ini sangat efisien memproduksi bahan fisil yang dapat digunakan langsung untuk pembuatan senjata nuklir," kata Grossi, dilansir Al Jazeera.

Pemerintah Suriah sebelumnya selalu membantah keberadaan instalasi tersebut dan tidak pernah mendaftarkannya ke IAEA. Grossi menduga otoritas saat itu sengaja memicu ledakan untuk mengaburkan barang bukti dan menghambat penyelidikan internasional.

Pembangunan reaktor di wilayah timur Suriah itu terhenti setelah dihancurkan oleh serangan udara militer Israel pada 2007. Israel baru mengakui pengeboman tersebut pada 2018, meski pejabat Amerika Serikat (AS) telah mengungkapnya ke publik sejak 2008.

2. IAEA temukan 73 ton uranium di Suriah

Dierektur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi (IAEA Imagebank, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Tim inspektur IAEA mendatangi dua lokasi di Suriah pada Agustus lalu setelah menerima laporan dari Damaskus. Kunjungan tersebut berhasil membuktikan keberadaan sisa material radioaktif yang tersimpan rahasia selama belasan tahun.

Para pemeriksa harus merobohkan dinding bangunan dan menyusuri lorong sempit untuk menemukan tumpukan kotak bahan bakar yang berserakan. IAEA mengonfirmasi temuan sekitar 73 ton logam uranium alam dalam bentuk batang bahan bakar berkelongsong di lokasi itu.

Uranium alam memang tidak dapat langsung digunakan sebagai senjata nuklir. Namun, material tersebut dapat dialihkan untuk diproses lebih lanjut menjadi plutonium hulu ledak nuklir. Lembaga riset Nuclear Threat Initiative menyarankan agar seluruh material radioaktif itu segera dipindahkan ke negara ketiga demi keamanan.

"Sama seperti pengangkutan material nuklir lainnya, proses pemindahan ini membutuhkan pengamanan ketat dari pencurian atau sabotase," kata Direktur Keamanan Material Nuklir Nuclear Threat Initiative Logan Mintz, dilansir The Guardian.

3. Material uranium Suriah kini berada di bawah pengawasan IAEA

tentara Suriah menjaga pos keamanan (U.S. Army photo by Staff Sgt. Fred Brown, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kemajuan penyelidikan ini bermula saat pemerintahan baru Suriah mengirim surat kepada IAEA pada Juli lalu. Rezim baru tersebut mengundang pengawas PBB untuk memeriksa seluruh lokasi yang dicurigai.

Grossi memuji keputusan Damaskus yang bersedia bersikap transparan dalam menyelesaikan berbagai masalah nuklir masa lalu. IAEA kini telah menempatkan seluruh material tersebut di bawah pengawasan ketat dengan memasang kamera pemantau. Lembaga itu menegaskan keputusan pemindahan bahan nuklir ke luar negeri tetap berada di tangan pemerintah Suriah.

Dewan Gubernur IAEA kini menyiapkan rancangan resolusi untuk menuntaskan berkas penyelidikan Suriah sejak 2011. Pemungutan suara terkait penutupan penyelidikan dijadwalkan berlangsung pada sidang berkala pekan ini di Wina.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article