Dierektur Jenderal IAEA, Rafael Mariano Grossi (IAEA Imagebank, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Tim inspektur IAEA mendatangi dua lokasi di Suriah pada Agustus lalu setelah menerima laporan dari Damaskus. Kunjungan tersebut berhasil membuktikan keberadaan sisa material radioaktif yang tersimpan rahasia selama belasan tahun.
Para pemeriksa harus merobohkan dinding bangunan dan menyusuri lorong sempit untuk menemukan tumpukan kotak bahan bakar yang berserakan. IAEA mengonfirmasi temuan sekitar 73 ton logam uranium alam dalam bentuk batang bahan bakar berkelongsong di lokasi itu.
Uranium alam memang tidak dapat langsung digunakan sebagai senjata nuklir. Namun, material tersebut dapat dialihkan untuk diproses lebih lanjut menjadi plutonium hulu ledak nuklir. Lembaga riset Nuclear Threat Initiative menyarankan agar seluruh material radioaktif itu segera dipindahkan ke negara ketiga demi keamanan.
"Sama seperti pengangkutan material nuklir lainnya, proses pemindahan ini membutuhkan pengamanan ketat dari pencurian atau sabotase," kata Direktur Keamanan Material Nuklir Nuclear Threat Initiative Logan Mintz, dilansir The Guardian.