Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
India Temukan 5 Bayi Orangutan, Diduga Korban Perdagangan Internasional
ilustrasi orangutan (pexels.com/Nadirsyah Nadirsyah)
  • Lima bayi orangutan ditemukan di hutan Odisha, India, lalu dievakuasi ke Taman Zoologi Nandankanan untuk karantina setelah diduga dibawa melalui jalur darat.
  • Pemerintah Odisha melibatkan Biro Pengendalian Kejahatan Satwa Liar, kepolisian, dan petugas kehutanan untuk menyelidiki dugaan sindikat perdagangan satwa internasional.
  • Kelima bayi berusia sekitar satu hingga dua tahun ditemukan tanpa induk di luar habitat asli; tiga spesies orangutan berstatus kritis terancam punah menurut IUCN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Penemuan lima bayi orangutan di kawasan hutan negara bagian Odisha, India, memicu penyelidikan terkait dugaan perdagangan satwa liar lintas negara. Menteri Lingkungan Odisha, Ram Singh Khuntia, menyampaikan bahwa tim penyelidik tengah menelusuri bagaimana kera langka tersebut bisa sampai ke India.

“Kami menduga ada sindikat internasional yang terlibat dalam hal ini,” kata Khuntia, dikutip The Guardian.

Orangutan merupakan satwa terancam punah dengan ciri khas bulu merah lebat yang habitat alaminya hanya ada di Pulau Kalimantan serta Sumatra. Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna yang Terancam Punah (CITES) melarang keras perdagangan komersial satwa ini. Pemerintah India sendiri memberi perlindungan penuh bagi orangutan lewat undang-undang perlindungan satwa liar di negaranya.

1. Petugas evakuasi lima bayi orangutan ke Nandankanan

ilustrasi orangutan (pexels.com/David Atkins)

Lima bayi orangutan tersebut dievakuasi oleh petugas kehutanan di Distrik Balasore pada Selasa (8/9/2026) setelah mendapat laporan dari warga sekitar. Usai menerima penanganan medis awal, seluruh satwa langsung dibawa ke Taman Zoologi Nandankanan di Bhubaneswar untuk menjalani karantina dan pengawasan ketat.

Petugas Kehutanan Distrik Balasore, Pratik Prakash Indalkar, menjelaskan bahwa kelima orangutan itu tidak mungkin tiba di lokasi secara alami. Ia menduga hewan-hewan langka tersebut sengaja dibawa lewat jalur darat.

“Lima hewan itu ditemukan di Ranakata, hutan cadangan yang diusulkan di blok Bhogarai, dekat perbatasan Bengal Barat,” kata Indalkar, dikutip BBC.

Area penemuan didominasi pohon cemara udang (casuarina) dan berdekatan dengan jalan raya provinsi, bukan merupakan kawasan hutan lebat. Petugas menduga satwa-satwa ini belum lama berada di lokasi karena penyisiran di sekitar area tidak menemukan keberadaan orangutan lain maupun petunjuk tambahan.

Pemerintah Odisha telah meminta Biro Pengendalian Kejahatan Satwa Liar India (Wildlife Crime Control Bureau) untuk mengusut tuntas kasus ini. Proses penyelidikan dilakukan secara gabungan melibatkan kepolisian, petugas kehutanan, dan tim satgas khusus.

2. Pakar soroti kondisi lima bayi orangutan tanpa induk

ilustrasi orangutan (pexels.com/Lorenza Manera)

Temuan lima orangutan muda tanpa induk ini menyita perhatian para ahli karena dinilai sangat tidak biasa. Pakar satwa liar, Biswajit Mohanty, menyebut kondisi kelima bayi orangutan ini cukup memprihatinkan. Mengutip sejumlah laporan lokal, ia memperkirakan usia mereka baru berkisar antara satu hingga dua tahun.

Di alam bebas, bayi orangutan umumnya akan terus menempel pada induknya selama beberapa tahun untuk belajar bertahan hidup. Terlebih lagi, orangutan betina memiliki masa reproduksi yang tergolong lambat dan hanya melahirkan sekali dalam delapan tahun.

Penemuan lima bayi orangutan secara bersamaan tanpa kehadiran induknya di luar habitat asli tentu memicu tanda tanya besar. Para ahli kini menelusuri modus operandi di balik penyelundupan satwa tersebut hingga bisa sampai ke Odisha.

3. IUCN tempatkan tiga spesies orangutan dalam status terancam punah

ilustrasi orangutan (pexels.com/Noel Snpr)

Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memasukkan tiga spesies orangutan yang masih hidup yakni Borneo, Sumatra, dan Tapanuli, ke dalam kategori kritis terancam punah. Masifnya pembukaan lahan, kehilangan habitat, serta perburuan liar menjadi penyebab utama merosotnya populasi mereka.

Catatan Dana Satwa Liar Dunia (WWF) menunjukkan populasi orangutan di Kalimantan dan Sumatra saat ini tersisa sekitar 104 ribu ekor, anjlok drastis dibanding satu abad lalu yang mencapai 230 ribu ekor. Sementara itu, populasi orangutan Tapanuli di alam bebas diperkirakan tinggal tersisa kurang dari 800 ekor.

Spesies Tapanuli yang mendiami Blok Barat Hutan Batang Toru kini terdesak oleh proyek pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan pembangkit listrik tenaga air skala besar. Keberadaan mereka juga makin terancam oleh bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra Utara yang sempat menyusutkan 7 persen dari total populasi.

Praktik perdagangan ilegal untuk pasar peliharaan eksotis dan kolektor pribadi terus terjadi meski aturan hukum sudah diperketat. Buntut dari kasus di Odisha ini menambah panjang rekam jejak penyelundupan orangutan ke India. Pada 2022 lalu, dua bayi orangutan juga sempat ditemukan terlantar di perbatasan Assam dan Mizoram yang diduga diselundupkan via Myanmar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article