Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Israel Gelar Pemilu Besok, Begini Sistemnya dan Peluang Netanyahu
Poster kampanye pemilu di Israel. (AFP/Jack Guez)
  • Israel menggelar pemilu pada Selasa (27/10/2026) dengan 37 partai yang dijadwalkan berpartisipasi.

  • Warga memilih partai politik, sementara pemerintahan membutuhkan koalisi dengan sedikitnya 61 dari 120 kursi Knesset.

  • Persaingan Netanyahu dan para penantangnya dipengaruhi isu Gaza, Palestina, wajib militer, serta reformasi peradilan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
7 Oktober 2023

Serangan Hamas disebut sebagai respons atas keputusan Israel melancarkan perang di Gaza.

2025

Itamar Ben Gvir menarik diri sehingga koalisi Netanyahu mengalami perubahan.

September 2026

Bezalel Smotrich membentuk aliansi baru dengan Partai Zehut.

Senin (26/10/2026)

Elliot Abrams dikutip dari laman resmi CFR dan dilansir dari Al Jazeera terkait persoalan yang dapat mempersulit pembentukan koalisi.

Selasa (27/10/2026)

Israel akan menggelar pemilihan umum untuk menentukan komposisi Knesset dan membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Israel akan menggelar pemilihan umum untuk menentukan komposisi Knesset dan membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan berikutnya.
  • Who?
    Sebanyak 37 partai dijadwalkan berpartisipasi, termasuk Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
  • Where?
    Pemungutan suara berlangsung dalam pemilu Israel dan hasilnya menentukan kursi di Knesset.
  • When?
    Selasa (27/10/2026).
  • Why?
    Pemilu digelar untuk menentukan kekuatan partai di parlemen serta arah pembentukan pemerintahan dan perdana menteri berikutnya.
  • How?
    Warga memilih partai politik. Partai yang masuk Knesset kemudian bernegosiasi membentuk koalisi dengan sedikitnya 61 dari 120 kursi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Israel mau memilih anggota parlemen pada Selasa. Warga memilih partai, bukan perdana menteri langsung. Partai yang mendapat kursi harus bekerja sama supaya punya 61 kursi dan bisa membentuk pemerintah. Netanyahu dan para penantangnya sedang bersaing. Hasilnya akan menentukan siapa yang mendapat dukungan untuk memimpin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemilu ini memberi warga Israel kesempatan menentukan komposisi parlemen melalui pilihan terhadap partai politik. Sistem tersebut juga membuka ruang bagi negosiasi antarpihak untuk membentuk pemerintahan, sekaligus memperlihatkan isu kebijakan yang menjadi pembeda, seperti wajib militer, reformasi peradilan, dan masa depan solusi dua negara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Israel akan menggelar pemilihan umum pada Selasa (27/10/2026). Pemilu ini akan menentukan komposisi parlemen atau Knesset, sekaligus membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan dan penentuan perdana menteri berikutnya.

Sebanyak 37 partai dijadwalkan berpartisipasi dalam pemilu kali ini, termasuk Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Namun, tidak semua partai akan memperoleh kursi di parlemen karena Israel menerapkan ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen.

Pemilu Israel tidak menggunakan sistem pemilihan langsung untuk menentukan perdana menteri. Warga memilih partai politik, sementara partai-partai yang berhasil masuk parlemen akan bernegosiasi untuk membentuk koalisi pemerintahan.

Persaingan kali ini juga berlangsung di tengah ketidakpastian politik. Selain menentukan kekuatan partai di parlemen, hasil pemilu akan memengaruhi nasib koalisi Netanyahu dan peluang para penantangnya untuk membentuk pemerintahan baru.

1. Warga memilih partai, bukan perdana menteri secara langsung

Poster kampanye pemilu di Israel. (AFP/Jalaa Marey)

Berbeda dengan sistem pemilihan presiden secara langsung, warga Israel memberikan suara berdasarkan daftar partai politik. Mereka tidak memilih calon perdana menteri secara terpisah.

Setelah pemungutan suara selesai, kursi Knesset dibagikan kepada partai-partai berdasarkan perolehan suara secara proporsional. Partai yang memenuhi ambang batas parlemen berpeluang memperoleh kursi sesuai hasil pemilu.

Israel menetapkan ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen dari total suara nasional. Artinya, partai yang tidak mencapai angka tersebut tidak dapat memperoleh kursi di Knesset melalui pemilu itu.

Sistem ini membuat perolehan suara partai menjadi penting, tetapi belum cukup untuk memastikan siapa yang akan memimpin pemerintahan. Partai dengan suara terbanyak tetap perlu mencari dukungan politik dari partai lain untuk mengamankan mayoritas parlemen.

2. Partai butuh 61 kursi untuk membentuk pemerintahan

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (x.com/IsraeliPM)

Knesset memiliki 120 kursi. Untuk membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas parlemen, sebuah koalisi membutuhkan setidaknya 61 kursi.

Belum pernah ada satu partai yang memenangkan mayoritas kursi tersebut sendirian. Karena itu, pembentukan pemerintahan Israel biasanya bergantung pada kesepakatan antara beberapa partai dengan agenda politik yang bisa berbeda.

Proses negosiasi dapat berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Partai-partai perlu menyepakati pembagian kekuasaan dan kebijakan yang akan dijalankan pemerintahan baru.

Peneliti Council on Foreign Relations (CFR), Elliot Abrams, menilai ada sejumlah persoalan yang dapat mempersulit pembentukan koalisi setelah pemilu.

“Ada banyak isu yang akan membuat pembentukan koalisi menjadi sangat sulit,” kata Abrams, dikutip dari laman resmi CFR, dilansir dari Al Jazeera, Senin (26/10/2026).

Salah satu persoalannya adalah apakah partai-partai Arab akan dilibatkan dalam koalisi atau justru dikucilkan. Perdebatan lain berkaitan dengan tuntutan kelompok ultra-Ortodoks yang ingin mempertahankan pengecualian dari wajib militer serta kemungkinan tokoh oposisi bergabung dengan koalisi yang dipimpin Netanyahu apabila koalisi tersebut juga melibatkan kelompok sayap kanan ekstrem.

3. Netanyahu masih kuat, tetapi penantangnya mengincar mayoritas

Gadi Eisenkot, kandidat kuat pengganti Netanyahu di Pemilu Israel. (AFP/Jack Guez)

Benjamin Netanyahu masih menjadi salah satu tokoh terkuat dalam pemilu ini. Partai Likud yang dipimpinnya memiliki basis politik yang besar, tetapi peluangnya kembali menjadi perdana menteri bergantung pada hasil pemilu dan dukungan partai lain.

Sejumlah tokoh oposisi berusaha menantang dominasi Netanyahu. Mereka antara lain Gadi Eisenkot dari Partai Yashar, mantan PM Naftali Bennett yang beraliansi dengan Yair Lapid melalui Beyachad, Yair Golan dari Partai The Democrats, serta Avigdor Lieberman dari Partai Yisrael Beiteinu.

Jajak pendapat menunjukkan hasil yang berbeda. Survei Channel 12 memproyeksikan Yashar meraih 23 kursi dan Likud 20 kursi. Sementara itu, survei Channel 14 memperkirakan Likud memperoleh 30 kursi dan Yashar 20 kursi.

Perbedaan hasil survei tersebut memperlihatkan ketidakpastian arah persaingan. Selain itu, perolehan kursi setiap partai belum menentukan hasil akhir pembentukan pemerintahan karena kesepakatan koalisi akan memainkan peran penting.

Komposisi politik menjelang pemilu juga berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Koalisi Netanyahu mengalami perubahan setelah Itamar Ben Gvir menarik diri pada 2025, sementara Bezalel Smotrich membentuk aliansi baru dengan Partai Zehut pada September 2026.

4. Palestina dan wajib militer jadi isu penting

Warga sedang berdemo menuntut Israel setop serangan ke Gaza, Palestina. (pexels.com/Mohammed Abubakr)

Selain persaingan antartokoh, sejumlah persoalan kebijakan turut membayangi pemilu Israel. Isu tersebut mencakup perang di Gaza, masa depan solusi dua negara, wajib militer bagi kelompok ultra-Ortodoks, serta reformasi sistem peradilan.

Dalam laporan Al Jazeera, para kandidat utama tidak mempertanyakan keputusan Israel melancarkan perang di Gaza sebagai respons atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sebagian besar kandidat juga tidak menawarkan jalan yang jelas untuk mewujudkan solusi dua negara bagi konflik Israel-Palestina.

Netanyahu secara terbuka menolak pembentukan negara Palestina. Gadi Eisenkot juga menyebut prinsip dua negara bagi dua bangsa sebagai sebuah kesalahan, sedangkan Bezalel Smotrich mendorong pembatalan Perjanjian Oslo.

Isu wajib militer menjadi salah satu pembeda dalam politik domestik. Netanyahu bergantung pada dukungan partai-partai ultra-Ortodoks yang menuntut perlindungan bagi pelajar seminari dari wajib militer. Sebaliknya, Eisenkot menjadikan kewajiban militer yang lebih luas sebagai salah satu agenda utamanya.

Persoalan reformasi peradilan juga menjadi titik perbedaan. Netanyahu membela kebijakan pemerintahannya untuk mengubah kewenangan lembaga peradilan, sementara Naftali Bennett berjanji membatalkan seluruh undang-undang reformasi tersebut setelah Knesset kembali bersidang.

Dengan berbagai perbedaan itu, hasil pemilu tidak hanya akan menentukan jumlah kursi masing-masing partai, tetapi juga arah negosiasi pembentukan pemerintahan. Siapa yang akhirnya menjadi perdana menteri akan bergantung pada kemampuan kandidat dan partai-partai pendukungnya mengumpulkan mayoritas di parlemen.

Curated For You

Editorial Team

Related Article