Israel Disebut Telah Mengubah Wilayah Tepi Barat Menjadi Penjara

- Mustafa Barghouti menuding lebih dari 1.300 pos pemeriksaan Israel mengisolasi kota dan desa Tepi Barat, hingga melumpuhkan ekonomi, pendidikan, serta layanan kesehatan warga Palestina.
- Barghouti menyebut penggerebekan, penangkapan massal, penghancuran rumah, dan serangan kelompok pemukim memperparah kekerasan di Tepi Barat serta mendorong perluasan permukiman.
- Ia mendesak sanksi dan boikot internasional terhadap sistem pendudukan Israel; sekitar 750 ribu pemukim tinggal di 194 permukiman dan 400 pos terdepan di wilayah pendudukan.
Jakarta, IDN Times - Pasukan Israel dituding telah mengubah wilayah Tepi Barat yang diduduki menjadi penjara-penjara yang terfragmentasi, sementara eskalasi kekerasan pemukim menjadikannya sebagai medan pertempuran. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouti, pada Kamis (22/10/2026).
Barghouti mengungkapkan bahwa pemecahan wilayah itu terjadi akibat keberadaan lebih dari 1.300 pos pemeriksaan militer yang sebagian besar ditutup, sehingga mengisolasi antarkota. Langkah pembatasan pergerakan warga tersebut dilaporkan telah melumpuhkan aktivitas ekonomi serta berbagai sektor pelayanan publik.
1. Ribuan pos pemeriksaan lumpuhkan layanan penting warga

Unjuk rasa Mustafa Barghouti di Ramallah, Tepi Barat (Dr. Abraham Weizfeld, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons) Dalam keterangannya yang dilansir Anadolu Agency, Barghouti menyebut tentara Israel memecah Tepi Barat dengan mendirikan lebih dari 1.300 pos pemeriksaan militer. Sebagian besar pos pemeriksaan tersebut berada dalam kondisi tertutup sehingga mengubah kota serta desa menjadi penjara yang terpecah-pecah. Situasi ini mengakibatkan daerah permukiman warga Palestina saling terisolasi satu sama lain.
Pemberlakuan pembatasan akses jalan tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup masyarakat setempat. Barghouti menjelaskan bahwa langkah militer Israel telah melumpuhkan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan warga secara parah.
Tekanan tersebut kian diperberat oleh penggerebekan yang terus dilancarkan pasukan militer Israel di seluruh kegubernuran Tepi Barat. Barghouti menambahkan bahwa operasi tersebut disertai dengan penangkapan massal, penindasan berkelanjutan, hingga penghancuran rumah tinggal milik warga.
2. Geng teror pemukim dituding jadi ujung tombak ekspansi

Pemukim Israel dari gerakan "Hilltop Youth" berdiri di lahan warga Palestina, Mukhmas, 2024. (מסתכלים לכיבוש בעיניים, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Barghouti menyoroti bahwa pihak pendudukan Israel memanfaatkan kelompok teror pemukim sebagai ujung tombak untuk perluasan permukiman. "Pendudukan Israel menggunakan geng-geng teror pendudukan sebagai ujung tombak untuk perluasan permukiman," kata dia. Kelompok-kelompok tersebut terus melancarkan serangan terhadap berbagai kota dan desa di seluruh penjuru Tepi Barat.
Rangkaian kekerasan yang terus terjadi itu, menurut Barghouti, telah mengubah wilayah Tepi Barat menjadi "medan tempur di mana teror tidak pernah berhenti". Barghouti menyebut tujuan dari perang teror oleh pemukim tersebut adalah untuk mengusir warga Palestina dari sebagian besar tanah mereka. Langkah itu disebut Barghouti bertujuan mencapai "mimpi ekspansionis zionis" berupa aneksasi, yahudisasi, dan pemindahan paksa.
3. Seruan boikot internasional dan keteguhan warga

Tank Israel merusak ladang di Desa Khirbet Ibziq, Tepi Barat (עארף דראר'מה, בצלם - מרכז המידע הישראלי לזכויות האדם בשטחים, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Di tengah tekanan yang terus meningkat, Barghouti menegaskan bahwa ketabahan warga bersama komite-komite populer yang menghadapi pemukim merupakan "satu-satunya faktor yang mencegah pelaksanaan rencana Israel". Dia mendesak masyarakat internasional agar berhenti menutup mata terhadap kejahatan Israel.
Barghouti meminta dunia internasional memberikan dukungan konkret terhadap keteguhan rakyat Palestina melalui penerapan sanksi tegas. Dia menekankan perlunya pemboikotan menyeluruh terhadap seluruh sistem pendudukan dan permukiman, termasuk terhadap jajaran pemerintah Israel.
4. Ratusan ribu pemukim tempati wilayah ilegal

Permukiman Israel Ma'ale Amos di Tepi Barat (Eliyau1234, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Serangan yang dilancarkan para pemukim dan tentara Israel terhadap warga Palestina dilaporkan kian meningkat bertepatan dengan musim panen zaitun. Sebagian besar petani Palestina dicegah oleh pasukan militer Israel untuk mencapai lahan mereka guna memanen zaitun.
Dilansir Anadolu Agency, sekitar 750 ribu pemukim Israel saat ini tinggal di wilayah Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur yang diduduki. Ratusan ribu pemukim tersebut mendiami 194 kawasan permukiman dan sekitar 400 pos terdepan. Seluruh permukiman Israel yang dibangun di atas tanah pendudukan Palestina tersebut dinyatakan berstatus ilegal menurut hukum internasional.





















