Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Israel Kembali Serang Lebanon, Gencatan Senjata Terancam
Pasukan militer Israel (IDF) sedang melakukan serangan menggunakan tank baja. (flickr.com/Israel Defense Forces via commons.wikimedia.org/Israel Defense Forces)
  • Serangan Israel di Tebnine dan Al-Mansouri, Lebanon selatan, menewaskan satu orang dan melukai 12 lainnya; pemakaman serta area permukiman terdampak, memaksa warga mengungsi.
  • Israel memberi perintah evakuasi 30 menit sebelum serangan. Insiden ini juga menewaskan dua tentara IDF dan melukai tujuh lainnya, serta dikecam Hizbullah sebagai pelanggaran gencatan senjata.
  • Gencatan senjata Juni mewajibkan Israel menarik pasukan dan Hizbullah melucuti senjata. Serangan terjadi saat negosiasi mediasi AS di Roma berlangsung, berpotensi menghambat rencana pilot zone Lebanon selatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Israel dilaporkan kembali menyerang Lebanon pada Rabu (5/8/2026) kemarin. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Lebanon, serangan itu menewaskan 1 orang dan melukai 12 lainnya. Semua korban saat ini sudah dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut. 

Kemenkes Lebanon menambahkan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyerang dua kota kecil yang ada di Lebanon selatan, yakni Tebnine dan Al-Mansouri. Di Tebnine, serangan IDF menghantam sebuah pemakaman, sedangkan di Al-Mansouri menghantam area pemukiman warga. Akibatnya, banyak warga di sana yang terpaksa mengungsi untuk mencari tempat yang lebih aman. 

1. Israel sudah memberi pengumuman 30 menit sebelum serangan

ilustrasi pengumuman (pexels.com/Markus Winkler)

Sekitar 30 sebelum melakukan serangan, Israel sudah memberi pengumuman ke warga yang tinggal di Lebanon selatan. Pengumuman itu berisi perintah kepada warga Lebanon selatan untuk segera mengungsi. Tidak lama setelah itu, IDF langsung meluncurkan serangan. Selain menewaskan dan melukai warga Lebanon, serangan itu rupanya juga menewaskan 2 tentara IDF dan melukai 7 lainnya. 

Serangan Israel ke Lebanon selatan ini akhirnya dikecam oleh Hizbullah. Hizbullah menyebut serangan IDF ke wilayah tersebut sebagai “Pelanggaran terang-terangan” terhadap aturan gencatan senjata. Padahal, Hizbullah juga sudah bersedia untuk menahan serangan ke IDF. Mereka juga menyebut serangan ini akan mengancam gencatan senjata dan bisa membuat perang kembali meletus. 

2. Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata pada Juni

potret bendera Israel (kanan) dan bendera Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)

Israel dan Lebanon sendiri sudah menyepakati gencatan senjata pada Juni lalu. Kesepakatan ini mewajibkan Israel untuk menahan serangan dan menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan. Di sisi lain, kesepakatan ini juga mewajibkan Hizbullah untuk menahan serangan ke Israel dan melucuti semua senjatanya. 

Agar gencatan senjata ini bisa berubah menjadi perdamaian abadi, Israel dan Lebanon juga telah melangsungkan negosiasi lanjutan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) di Roma, Italia. Negosiasi itu berakhir pada Rabu. Namun, di tengah negosiasi tersebut, Israel justru melakukan serangan terbaru ke Lebanon selatan.

3. IDF sudah mundur bertahap dari Lebanon selatan

potret pasukan militer Israel (IDF) (flickr.com/Israel Defense Forces via commons.wikimedia.org/Israel Defense Forces)

Saat ini, IDF sebetulnya sudah mundur secara bertahap dari Lebanon selatan. Hal ini merupakan hasil kesepakatan gencatan senjata dengan Lebanon pada Juni lalu. Usai semua pasukan IDF mundur, Lebanon selatan akan dijadikan pilot zone

Pilot zone sendiri merupakan area di Lebanon selatan yang sudah dibersihkan dari ancaman militer Hizbullah. Seluruh infrastruktur militer Hizbullah yang ada di sana sudah dihilangkan oleh pasukan IDF. Nantinya, pilot zone ini akan dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) untuk memastikan wilayah tersebut tidak lagi dihuni oleh milisi seperti Hizbullah. Namun, serangan terbaru Israel ke Lebanon selatan berpotensi menghambat rencana pembangunan pilot zone tersebut. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article