Bendera Irlandia (pexels.com/Mathias Reding)
Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin, menyebut rangkaian ancaman tersebut sebagai insiden yang sangat mengkhawatirkan. Ia menyampaikan bahwa Garda, Pasukan Pertahanan, otoritas siber, dan sektor penerbangan tengah bekerja bersama mitra Eropa untuk mengidentifikasi pihak di balik aksi tersebut, sekaligus meminta organisasi penerima pesan serupa segera melapor kepada polisi.
Martin juga memperingatkan bahwa ancaman semacam ini dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan memicu keresahan meski tak melibatkan serangan fisik.
“Hal ini menggambarkan betapa relatif sederhananya hal tersebut untuk menyebabkan gangguan dan melemahkan jalannya normal masyarakat melalui kegiatan tidak konvensional semacam ini, yang dirancang untuk menyebabkan gangguan, dirancang untuk menyebabkan ketakutan dan kecemasan,” kata Martin menurut laporan RTÉ, dikutip BBC.
Martin turut mengaitkan kejadian tersebut dengan dugaan upaya terkoordinasi yang sebelumnya mengganggu lalu lintas penerbangan di Eropa. Rangkaian teror bom palsu itu telah menyasar 21 penerbangan, termasuk milik Ryanair dan Aer Lingus, sementara identitas pelakunya masih belum dapat dipastikan, baik individu maupun jaringan terorganisir.
Ia juga menyoroti kebutuhan pengamanan KTT UE di Dublin yang akan dihadiri jumlah kepala pemerintahan terbanyak sepanjang sejarah. Kondisi tersebut membuat Irlandia harus mempersiapkan operasi keamanan dalam skala sangat besar untuk menyambut para pemimpin negara Eropa.
Wakil Perdana Menteri, Simon Harris, menyampaikan kepada Cork 96FM bahwa aparat terus memantau perkembangan ancaman yang dinilainya serius. Ia juga menyinggung kemiripan insiden tersebut dengan teror terhadap sejumlah maskapai sebelumnya. Ia memastikan pakar keamanan siber Irlandia dan Eropa sedang bekerja sama menangani persoalan itu.
“Kita belum tahu apakah ini adalah seorang individu yang berada di balik upaya ini, atau suatu bentuk upaya terkoordinasi,” katanya, dikutip DW.