Puluhan Paus Pilot Terdampar di Pesisir Selandia Baru

- Sekitar 50 paus pilot terdampar di pesisir berbatu Ngawi dekat Cape Palliser, Selandia Baru, pada 5 November 2026, dengan banyak yang terluka parah dan dehidrasi.
- DOC, Project Jonah, warga, dan Suku Maori melakukan penyelamatan; dua paus sempat dilepas tetapi kembali ke perairan dangkal, sementara empat paus terakhir kemudian mati.
- Penyebab terdamparnya kawanan ini belum dipastikan; pakar meneliti kemungkinan pengaruh arus laut, cuaca ekstrem, kebisingan kapal, serta perilaku sosial paus pilot.
Jakarta, IDN Times - Puluhan paus pilot ditemukan terdampar di sepanjang pesisir berbatu Ngawi, dekat Cape Palliser, Selandia Baru, pada Kamis (5/11/2026). Peristiwa tragis pada malam hari tersebut memicu operasi tanggap darurat gabungan antara pemerintah dan warga setempat untuk menyelamatkan mamalia laut yang masih hidup.
Departemen Konservasi Selandia Baru (DOC) langsung menerjunkan personelnya bersama komunitas relawan Project Jonah dan warga Suku Maori. Namun, pesisir pantai yang didominasi batu karang tajam membuat sebagian besar paus sudah mengalami luka parah dan dehidrasi berat sebelum bantuan tiba.
1. Kondisi tragis puluhan paus di pesisir berbatu
Petugas di lapangan mencatat ada sekitar 50 ekor paus pilot yang terhempas ke darat dan terbagi menjadi dua kelompok besar. Pantai Ngawi yang dipenuhi bebatuan kasar membuat tubuh paus-paus itu terluka parah akibat terbentur karang.
"Situasinya mengerikan sekali. Paus-paus yang masih bertahan hidup berada dalam hembusan napas terakhir mereka," ujar warga setempat, Rob Bargh.
Peristiwa terdamparnya puluhan paus di wilayah ini tergolong kejadian yang sangat langka. Andrew Sim, seorang nelayan setempat yang sudah melaut lebih dari 40 tahun, menyebutkan bahwa pesisir Cape Palliser tidak pernah mengalami fenomena serupa sejak tahun 1990-an.
"Sangat aneh mereka bisa masuk ke sini. Sejujurnya tidak ada alasan pasti. Mungkin murni nasib buruk, saya tidak tahu. Peristiwa ini jelas terjadi di tengah malam. Tidak ada seorang pun yang senang melihat ini, peristiwa ini sangat menyedihkan," tutur Sim, dilansir The Guardian.
2. Proses evakuasi darurat dan penghormatan adat suku Maori
Menghadapi kondisi kritis tersebut, tim medis khusus satwa segera bahu-membahu dengan warga setempat. Para relawan terus berusaha menjaga agar tubuh paus tetap basah dengan menyiramkan air laut dan menutupi tubuhnya dengan handuk basah. Sayangnya, saat matahari terbit, tim medis hanya menemukan empat ekor paus yang masih bernapas.
"Tenaga medis Project Jonah telah dimobilisasi dan kami bekerja sama dengan staf Departemen Konservasi serta suku Maori setempat," demikian pernyataan resmi Project Jonah.
Tim penyelamat sebenarnya sempat berhasil mendorong dua ekor paus kembali ke laut lepas saat air pasang tiba. Namun, kedua paus itu kembali terseret ke perairan dangkal, sehingga pada malam harinya keempat paus yang tersisa dinyatakan mati akibat kelelahan dan luka berat.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, staf konservasi bersama tetua adat menggelar tradisi pembacaan doa di tepi pantai. Mereka juga memberikan nama sakral bagi paus-paus tersebut, karena masyarakat Maori menganggap mamalia laut sebagai harta berharga yang sangat dilindungi.
3. Penyebab paus sering terdampar massal di perairan Selandia Baru
Kejadian paus terdampar secara massal sebenarnya cukup sering terjadi di wilayah ini karena laut dalam di sekitarnya merupakan habitat asli paus pilot. Mamalia laut ini dikenal memiliki ikatan sosial dan keluarga yang sangat kuat. Jika ada satu anggota kelompok yang tersesat akibat sakit, terluka, atau sedang menghindari predator, kawanan lainnya akan memilih ikut menyusul daripada meninggalkan rekannya sendirian.
Terkait kejadian terbaru di pesisir Ngawi, pihak berwenang belum bisa memastikan pemicu utamanya. Para pakar kelautan kini masih meneliti faktor lain yang mungkin memengaruhi, seperti perubahan arus laut, cuaca ekstrem, dan kebisingan dari baling-baling kapal pelayaran.
"Kami umumnya tidak dapat mengetahui secara pasti penyebab fenomena ini terjadi," jelas perwakilan Departemen Konservasi Selandia Baru.






















