Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jepang Buang 173 Ribu Ton Air Olahan Nuklir Fukushima dalam 3 Tahun
ilustrasi bendera Jepang (unsplash.com/HAYASHI KANNA)
  • TEPCO menyelesaikan tahun ketiga pelepasan 172.700 ton air olahan Fukushima melalui 22 gelombang sejak 2023, untuk membuka ruang pengangkatan puing bahan bakar nuklir meleleh.
  • Volume air tersimpan turun 7,6 persen menjadi sekitar 1,24 juta ton, meski pembangkit masih menghasilkan 60 ton limbah radioaktif per hari dan pembuangan ditargetkan selesai 2051.
  • Nelayan menolak kebijakan ini karena pembatasan ekspor dan penurunan harga, sementara Jepang serta IAEA menyatakan pelepasan diawasi ketat dengan kadar tritium di bawah standar nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang melalui operator Tokyo Electric Power Company Holdings Inc (TEPCO) menyelesaikan tahun ketiga pelepasan air radioaktif terolah dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik pada Senin (24/8/2026). Sebanyak 172.700 ton air olahan yang telah disaring dilepaskan secara bertahap melalui 22 gelombang pembuangan sejak proses ini pertama kali dimulai pada 24 Agustus 2023.

Langkah pelepasan air ini dilakukan untuk mengosongkan tangki penyimpanan demi menyediakan ruang bagi fasilitas pengangkatan puing bahan bakar nuklir yang meleleh akibat bencana gempa dan tsunami pada 2011. Meskipun dipantau langsung oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), kebijakan tersebut terus memicu tantangan diplomasi perdagangan serta penolakan dari komunitas nelayan lokal.

1. TEPCO kurangi volume penyimpanan air olahan di Fukushima

ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Listrik (unsplash.com/Nicolas HIPPERT)

Sejak awal pelepasan pada 24 Agustus 2023, volume air olahan yang tersimpan di area PLTN Fukushima Daiichi mengalami penurunan sebesar 7,6 persen hingga tersisa sekitar 1,24 juta ton. Dari total sekitar 1.000 tangki penampung di lokasi pembangkit, sebanyak 17 tangki penyimpanan kini telah berhasil dikosongkan dan dibongkar. Pihak TEPCO menargetkan seluruh proses pembuangan air ini selesai secara bertahap pada 2051 mendatang, selaras dengan target penonaktifan (decommissioning) total fasilitas nuklir tersebut.

Proses pendinginan bahan bakar nuklir yang meleleh pascabencana 2011 sejauh ini masih terus menghasilkan sekitar 60 ton air limbah radioaktif baru setiap harinya. Limbah cair tersebut disaring menggunakan Sistem Pemrosesan Cair Canggih (Advanced Liquid Processing System atau ALPS) untuk menghilangkan berbagai jenis radionuklida. Namun, teknologi penyaringan ALPS belum mampu memisahkan tritium yang merupakan isotop radioaktif hidrogen, sehingga air olahan harus diencerkan terlebih dahulu dengan air laut sebelum dialirkan ke samudra.

Pada tahun fiskal 2023, TEPCO melaksanakan empat tahap pembuangan air ke laut lepas. Frekuensi tersebut meningkat menjadi masing-masing tujuh tahap pembuangan pada tahun fiskal 2024 dan 2025. Memasuki tahun fiskal 2026, TEPCO menargetkan delapan gelombang pelepasan setelah menyesuaikan sistem operasional demi memungkinkan transfer air antar-tangki secara terus-menerus (nonstop), dengan empat gelombang di antaranya telah rampung dilaksanakan.

2. Dampak pembuangan air radioaktif bagi nelayan dan pasar ekspor

ilustrasi kapal nelayan (pexels.com/Nguyễn Hoàng Văn)

Pembuangan air olahan ke laut terus mendapat penolakan keras dari asosiasi nelayan domestik yang mengkhawatirkan keberlanjutan mata pencaharian mereka. Kepala Federasi Nasional Asosiasi Koperasi Perikanan (JF Zengyoren), Masanobu Sakamoto, dalam pernyataan resminya pada Minggu (23/8/2026), menegaskan penolakan kelompoknya tidak pernah berubah tanpa adanya pemahaman dan persetujuan penuh dari para nelayan serta masyarakat umum.

Sektor perikanan Jepang terpukul akibat pembatasan ekspor dari beberapa negara penolak, terutama China. Meskipun pemerintah China sempat menyampaikan rencana melonggarkan pemblokiran impor pada Juni 2025, pemulihan ekspor batal terwujud akibat ketegangan diplomatik pascapernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 terkait krisis Taiwan.

Sakamoto mencatat komoditas laut seperti teripang mengalami penurunan harga akibat sanksi ekspor dan menilai dukungan finansial dari pemerintah belum memadai bagi para nelayan. Menurut laporan The Japan News yang dikutip CGTN, harga grosir abalon dari Prefektur Iwate bahkan anjlok hingga 60.000 yen setara Rp6,6 juta (kurs Rp111) per 10 kilogram pada 2025—turun separuh dari harga sebelum pembuangan limbah sebesar 120.000 yen atau setara Rp13,3 juta hingga 140.000 yen atau setara Rp15,5 juta.

"Pasar yang telah hilang belum sepenuhnya pulih, dan ada kekhawatiran apakah pasar tersebut dapat dipulihkan sama sekali," kata Masanobu Sakamoto, menguraikan ketidakpastian industri perikanan.

Guna menanggulangi dampak ekonomi, TEPCO telah membayarkan kompensasi senilai 96,7 miliar yen atau sekitar 608 juta dolar AS setara Rp10,75 triliun (kurs Rp17.690) per 5 Agustus 2026. Pembayaran kompensasi tersebut mencakup sekitar 1.100 klaim kerugian bisnis, khususnya dari pelaku usaha luar Fukushima yang kehilangan akses ekspor kerang simping (scallops) dan teripang ke China serta Hong Kong. Sementara itu, nelayan lokal di Prefektur Fukushima menerima skema kompensasi terpisah atas penghentian sementara operasional mereka.

3. Prosedur keamanan pelepasan air dan pengawasan ketat IAEA

Tim peninjau dekomisioning IAEA melintasi struktur Unit 4 Fukushima Daiichi, 2015. (IAEA Imagebank, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Jepang memastikan seluruh proses pelepasan air radioaktif terolah ini memenuhi standar keselamatan internasional yang berlaku. Sebelum dialirkan ke titik pembuangan sejauh 1 kilometer dari garis pantai, air olahan diencerkan dengan air laut hingga konsentrasi tritiumnya berada di bawah seperempat puluh (1/40) dari batas aman standar nasional Jepang. Pengawasan pemantauan kualitas air laut dan produk perikanan di sekitar lokasi penampungan terus dilakukan secara rutin oleh TEPCO bersama otoritas terkait.

Hasil pengujian kadar tritium dalam air dan biota laut di sekitar pantai hingga saat ini dilaporkan tidak menunjukkan adanya kejanggalan kadar radiasi. Dilansir Japan Today, IAEA secara independen ikut memantau langsung jalannya pembuangan air radioaktif di Fukushima.

Di samping pengawasan internasional, merujuk laporan The Japan News via CGTN, asosiasi koperasi perikanan lokal di Prefektur Fukushima menetapkan standar mandiri kadar cesium radioaktif sebesar 50 becquerel per kilogram untuk produk perikanan yang siap dikirim—dua kali lebih ketat dibandingkan ambang batas aman pemerintah Jepang sebesar 100 becquerel per kilogram.

Langkah transparansi informasi dan jaminan kompensasi dijanjikan akan terus berjalan seiring operasional pelepasan air yang masih panjang. "Kami telah mampu melakukan pelepasan secara aman. Kami akan bekerja untuk menyediakan informasi yang akurat dan kompensasi yang tepat," ujar Akira Ono, Chief Decommissioning Officer TEPCO, dalam konferensi pers pada Juli 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article