Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jepang Kirim Diplomat ke Rusia Usai Jurnalisnya Ditangkap
Bendera Jepang (unsplash.com/Roméo A.)
  • Jepang mengirim diplomat senior Kimitake Nakamura ke Moskow untuk mendesak pembebasan jurnalis Yuki Imai serta meminta akses pendampingan hukum yang belum disetujui Rusia.
  • FSB Rusia menangkap Yuki Imai di Sakhalin atas tuduhan mengumpulkan rahasia pertahanan bagi intelijen Jepang; pengadilan menahannya hingga 12 Desember dengan ancaman 20 tahun penjara.
  • Tokyo membantah tuduhan spionase, sementara Hokkaido Shimbun, CPJ, dan IFJ mengecam penahanan; kasus ini memperburuk hubungan Jepang-Rusia yang sudah tegang akibat sengketa wilayah dan sanksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang mengirimkan diplomat senior ke Moskow untuk merundingkan pembebasan jurnalis surat kabar Hokkaido Shimbun, Yuki Imai, pada Rabu (21/10/2026). Langkah ini diambil Tokyo menyusul penahanan sang wartawan oleh otoritas keamanan Rusia atas tuduhan mata-mata.

Pemerintah Jepang membantah keras tuduhan spionase tersebut dan meminta Moskow segera memulangkan Yuki Imai ke negaranya. Perselisihan diplomatik ini kian membebani hubungan bilateral kedua negara yang sebelumnya merenggang akibat sengketa wilayah perbatasan dan sanksi ekonomi.

1. Desakan pemerintah Jepang agar Rusia segera bebaskan Yuki Imai

potret bendera Jepang (unsplash.com/Alexander Grigoryev)

Pemerintah Jepang menugaskan Direktur Jenderal Biro Urusan Eropa Kementerian Luar Negeri Jepang, Kimitake Nakamura, untuk menemui pejabat Kementerian Luar Negeri Rusia, Lyudmila Vorobyova, di Moskow. Dalam pertemuan itu, Nakamura mendesak agar reporter Hokkaido Shimbun tersebut segera dibebaskan dan diberikan akses pendampingan hukum.

Tokyo menilai penahanan tanpa izin kunjungan pejabat konsuler bertentangan dengan kesepakatan bilateral, yang mewajibkan pemberian akses maksimal empat hari setelah penangkapan. Duta Besar Akira Muto telah mengajukan izin resmi sejak 19 Oktober, tetapi belum mendapatkan persetujuan dari aparat setempat.

"Hubungan Jepang dan Rusia saat ini sedang berada dalam masa sulit, sehingga kedua pihak perlu terus menjaga komunikasi dan bertukar pandangan," ujar Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, dilansir The Japan Times.

2. Penangkapan jurnalis Yuki Imai oleh FSB Rusia di Pulau Sakhalin

potret gedung pemerintahan di Pulau Sakhalin (commons.wikimedia.org/Svetlov Artem)

Yuki Imai, jurnalis berusia 34 tahun di kantor biro Yuzhno-Sakhalinsk, ditangkap oleh Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) di Pulau Sakhalin sesaat sebelum menaiki pesawat untuk keluar dari Rusia. Rekaman siaran televisi setempat memperlihatkan aparat bersenjata mengamankan Imai di kamar hotelnya sebelum ia dipindahkan ke Moskow.

Otoritas Rusia menuduh Imai mengumpulkan data rahasia pertahanan di kawasan perbatasan timur untuk kepentingan dinas intelijen Jepang. Atas tuduhan tersebut, Pengadilan Distrik Lefortovo menetapkan masa penahanan Imai hingga 12 Desember mendatang, dengan ancaman pidana spionase hingga 20 tahun penjara.

3. Kecaman organisasi jurnalis Internasional atas penahanan Yuki Imai

ilustrasi jurnalis (unsplash.com/Denissa Devy)

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa warganya tidak menjalankan aktivitas spionase dan meminta proses penegakan hukum dilakukan secara transparan. Redaksi Hokkaido Shimbun turut menegaskan status independensi mereka dari pemerintah, sementara organisasi jurnalis internasional seperti CPJ dan IFJ mengecam penahanan tersebut.

"Pemerintah Jepang memanfaatkan pekerjaan jurnalistik sebagai kedok operasi intelijen, dan insiden ini memperburuk hubungan kedua negara," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

Ketegangan diplomatik ini beriringan dengan dinamika sengketa Kepulauan Kuril Selatan yang kembali mencuat setelah Presiden Vladimir Putin mengunjungi Pulau Iturup pada Agustus lalu. Situasi geopolitik tersebut semakin membatasi dialog perjanjian damai kedua negara serta menimbulkan kekhawatiran atas kebebasan kerja jurnalis di wilayah perbatasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article