Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kapal Induk USS George Washington Tiba di Timur Tengah, Buat Apa?
USS George Washington (U.S. Navy photo by Photographer's Mate Airman Ryan T. O'Connor., Public domain, via Wikimedia Commons)
  • USS George Washington tiba di Timur Tengah pada 20 Agustus 2026 untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, di tengah ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz.
  • George Washington bergabung dengan USS George H.W. Bush untuk menjaga jalur pelayaran dan menegakkan blokade maritim Iran; CENTCOM menyebut 1.300 kapal dagang telah difasilitasi melintas.
  • USS Abraham Lincoln pulang setelah lebih dari 260 hari beroperasi. Keluhan awak soal kondisi kapal memicu desakan penyelidikan, sementara pemerintah AS menyebut laporan tersebut berlebihan dan masalah telah ditangani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Komando Pusat AS CENTCOM) mengonfirmasi bahwa kapal induk Amerika Serikat (AS), USS George Washington, telah tiba di kawasan Timur Tengah pada Kamis (20/8/2026). Kedatangan kapal perang bertenaga nuklir ini bertujuan untuk menggantikan kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah menyelesaikan masa tugas panjangnya.

Rotasi kapal induk ini berlangsung di tengah ketegangan militer antara AS dan Iran yang masih berlanjut di Selat Hormuz. Pengerahan USS George Washington ke Timur Tengah sekaligus membuat AS untuk sementara waktu tidak memiliki kapal induk yang beroperasi di wilayah Pasifik Barat.

1. USS George Washington akan menggantikan USS Abraham Lincoln

USS Abraham Lincoln (Photographer's Mate 3rd Class Jordon R. Beesley, Public domain, via Wikimedia Commons)

USS George Washington sebelumnya berpangkalan di Yokosuka, Jepang, di bawah naungan Komando Pasifik AS. Kapal induk tersebut mulai bertolak menuju wilayah operasi CENTCOM sejak akhir Mei lalu untuk menjalankan jadwal penugasan baru.

Di kawasan Timur Tengah, USS George Washington akan bergabung bersama kapal induk lainnya, USS George H.W. Bush. Kedua kapal tersebut bertugas menjaga keamanan jalur pelayaran dan menegakkan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz.

CENTCOM mengklaim telah memfasilitasi perlintasan sekitar 1.300 kapal dagang di jalur strategis tersebut. Pemerintah AS menegaskan komitmennya untuk terus mempertahankan kehadiran militer di kawasan.

2. USS Abraham Lincoln telah mulai berlayar pulang ke AS

USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

USS Abraham Lincoln telah memulai pelayaran pulang menuju pangkalan asalnya di San Diego, AS. Perjalanan pulang kapal perang yang membawa sekitar 5 ribu personel tersebut diperkirakan akan memakan waktu lebih dari satu bulan.

Kapal induk ini mencatatkan rekor operasional terpanjang dalam sejarah modern Angkatan Laut AS dengan berada di laut selama lebih dari 260 hari tanpa singgah di pelabuhan. Selama operasi militer terhadap Iran, armada ini telah menjalankan 10 ribu misi penerbangan pesawat tempur dan melepaskan 1,5 juta pon amunisi.

"Sejarah akan mencatat penugasan ini sebagai salah satu yang paling intens dan berdampak pada era modern," ujar Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, dilansir The New Arab.

Lamanya masa penugasan telah memicu keluhan dari awak kapal mengenai kondisi di dalam kapal. Keluarga para awak mengaku menerima keluhan krisis pasokan makanan, minimnya air bersih, toilet rusak, hingga tertahannya paket kiriman selama berbulan-bulan. Isolasi juga berdampak buruk pada kondisi psikologis para prajurit hingga muncul laporan adanya awak yang berupaya melompat ke laut.

"Mereka memperlakukan prajurit seperti pion di papan catur dan bukan manusia," tutur istri salah satu awak kapal USS Abraham Lincoln, dilansir The Guardian.

3. Pemerintah AS sebut laporan kondisi kapal berlebihan

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth (U.S. Secretary of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kongres AS telah mendesak dilakukannya penyelidikan resmi terkait berbagai laporan tersebut. Senator dari Partai Demokrat, Richard Blumenthal, menuntut kejelasan dari Pentagon terkait keselamatan dan keberlanjutan pola penugasan jangka panjang para prajurit.

Menanggapi kritik tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa laporan mengenai kondisi di atas kapal telah disalahartikan secara berlebihan. Pihak militer menegaskan bahwa fasilitas pendingin ruangan tetap berfungsi normal dan awak kapal selalu diberi makanan bergizi.

"Masalah terkait makanan, air panas, dan kekhawatiran lain yang muncul beberapa bulan lalu telah ditangani dan diselesaikan oleh pimpinan," kata Cooper, dilansir The Hill.

CENTCOM mengklaim USS Abraham Lincoln tetap mencatatkan tingkat pendaftaran ulang prajurit sebesar 84,4 persen yang tergolong salah satu tertinggi. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menilai masa penugasan sembilan bulan tersebut masih dalam batas wajar dan menegaskan kondisi kapal tetap terawat dengan baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article