Jakarta, IDN Times – Korea Utara (Korut) mengecam hasil KTT NATO di Turki pada awal pekan ini yang kembali menyerukan denuklirisasi penuh terhadap Pyongyang. Korut justru menuding Amerika Serikat (AS) dan sekutunya memperburuk ketegangan global melalui peningkatan belanja pertahanan dan perluasan kerja sama keamanan dengan sejumlah negara di Indo-Pasifik.
Dalam KTT NATO pada Senin, para pemimpin aliansi pertahanan Barat itu mengumumkan kesepakatan pengadaan militer dan industri pertahanan senilai lebih dari 50 miliar dolar AS (setara Rp904 triliun). Kesepakatan itu dicapai saat Eropa menghadapi tekanan dari Presiden AS, Donald Trump, untuk meningkatkan belanja pertahanannya, mengutip laporan The Straits Times.
Korut menegaskan bahwa upaya Barat untuk memaksanya melepaskan senjata nuklir telah berakhir secara permanen. Pyongyang berpendapat bahwa denuklirisasi seharusnya dimulai dari Korea Selatan, Jepang, serta negara-negara anggota NATO yang ikut dalam pengaturan berbagi senjata nuklir di bawah perlindungan Washington.
Negara rival Barat itu juga menyebut NATO sebagai aliansi yang berorientasi pada perang dan konfrontasi. Aliansi tersebut disebut mengejar kepentingan geopolitik eksklusif dengan mengorbankan perdamaian dan keamanan di Eropa maupun di kawasan Asia-Pasifik.
