Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kelompok HAM: Otoritas Iran Intimidasi Keluarga Demonstran yang Tewas

demonstrasi solidaritas terhadap Iran
demonstrasi solidaritas terhadap Iran (Ted Eytan from Washington, DC, USA, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Pemakaman korban dilaksanakan di bawah pengamanan ketat
  • Kelompok HAM sebut korban jiwa mencapai lebih dari 6 ribu orang
  • Para tenaga medis yang rawat demonstran ikut ditangkap
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kelompok hak asasi manusia menuduh otoritas Iran melakukan taktik intimidasi dan pemerasan terhadap keluarga demonstran yang tewas dalam protes antipemerintah. Otoritas juga dituding memaksa keluarga korban mengklaim bahwa para demonstran yang tewas merupakan anggota aparat keamanan, dan mencegah mereka menggelar pemakaman yang layak.

Hossein Mahmoudi, misalnya, tewas ditembak oleh pasukan keamanan pada 8 Januari di Falavarjan, di luar kota Isfahan, tapi jenazahnya baru ditemukan oleh keluarganya 8 hari kemudian. Pihak berwenang akhir menyerahkan jenazahnya setelah mengancam pihak keluarga agar tidak buka suara mengenai kasus tersebut dan memaksa mereka membayar sejumlah uang setara Rp46 juta.

"Kerabat diberi tahu bahwa jenazah orang-orang yang mereka cintai akan ditahan kecuali mereka membayar sejumlah uang yang sangat besar, menandatangani surat pernyataan, atau membuat pernyataan publik yang secara palsu menyebut bahwa anggota keluarga mereka yang meninggal merupakan anggota Basij,” kata Amnesty Interasional. Basij adalah paramiliter sukarelawan yang beroperasi di bawah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Kelompok itu juga mencatat sedikitnya satu kasus di mana sebuah keluarga belum dapat mengambil jenazah kerabat mereka karena tidak mampu membayar uang tebusan, dilansir dari The New Arab.

1. Pemakaman korban dilaksanakan di bawa pengamanan ketat

Kelompok hak asasi manusia Hengaw juga menyoroti kasus Ali Taherkhani, yang diduga ditembak dan dipukuli oleh pasukan keamanan di kota Takestan, barat laut Teheran. Keluarga baru menerima jenazahnya setelah dipaksa membayar uang sekitar Rp360 juta dan menyingkirkan spanduk-spanduk ucapan belasungkawa.

Prosesi pemakaman Taherkhani dilakukan di bawah pengamanan ketat, dengan hanya empat anggota keluarga yang diizinkan hadir. Otoritas disebut berupaya memastikan pemakaman para korban tidak berubah menjadi ajang protes.

“Banyak keluarga baru dapat mengidentifikasi jenazah orang-orang yang mereka cintai setelah berhari-hari mencari di antara sejumlah besar mayat di fasilitas penyimpanan dingin kamar jenazah,” tambah Hengaw.

Amnesty International juga menerima laporan mengenai pemakaman massal yang dilakukan untuk mencegah dilakukannya pemakaman secara individual.

2. Kelompok HAM sebut korban jiwa mencapai lebih dari 6 ribu orang

Demonstrasi di Iran pertama kali pecah di ibu kota, Teheran, pada 28 Desember 2025, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi. Aksi ini kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh negeri dan berubah menjadi salah satu kerusuhan antipemerintah yang paling mematikan dalam sejarah Republik Islam tersebut.

Belum diketahui pasti berapa jumlah korban dalam protes tersebut, mengingat pemadaman internet di Iran masih berlangsung dan sebagian besar organiasi media Internasional dilarang meliput di sana.

Pemerintah menyatakan lebih dari 3.100 orang tewas selama kerusuhan, dengan sebagian besar korban merupakan aparat keamanan atau warga yang diserang oleh para perusuh. Jumlah ini jauh lebih rendah dari yang dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia.

Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS, sedikitnya 6.301 orang telah dikonfirmasi tewas, termasuk 5.925 pengunjuk rasa, 112 anak-anak, dan 214 orang yang berafiliasi dengan pemerintah. Kelompok itu juga juga sedang menyelidiki laporan mengenai 17.091 kematian lainnya.

3. Para tenaga medis yang rawat demonstran ikut ditangkap

Laporan juga menyebutkan bahwa pasukan keamanan menangkap para demonstran yang terluka dari rumah sakit. Bahkan, tenaga medis dan pihak lainnya yang merawat mereka juga menjadi sasaran.

Pekan lalu, Hak Asasi Manusia Iran (IHR) mengatakan sumber-sumbernya di lapangan melaporkan penangkapan lima dokter dan seorang relawan pertolongan pertama.

“Sepertinya aparat keamanan bertujuan mengintimidasi publik dan menghalangi penanganan terhadap demonstran yang terluka dengan menangkap dokter serta menyerbu tempat penampungan medis darurat,” kata organisasi yang berbasis di Norwegia itu, dikutip dari BBC.

Pekan ini, Alireza Golchini, seorang ahli bedah dari kota utara Qazvin, juga dipukuli di rumahnya oleh aparat keamanan saat ditangkap karena merawat demonstran yang terluka. Laporan menyebutkan bahwa Golchini dituduh melakukan “moharebeh” (permusuhan terhadap Tuhan), sebuah pelanggaran yang dapat dijatuhi hukuman mati menurut hukum Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Jerman Tolak Percepatan Masuknya Ukraina ke Uni Eropa

30 Jan 2026, 07:09 WIBNews