BMKG Prediksi Musim Hujan Akan Terus Terjadi hingga Maret 2026

- BMKG sebut modifikasi cuaca tidak membahayakan lingkungan
- Faisal menyatakan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan tidak membahayakan lingkungan dan tak merusak kualitas air secara signifikan. Bahan yang digunakan telah melalui kajian dan aman bagi lingkungan.
- BMKG sudah lakukan 83 operasi modifikasi cuaca
- BMKG telah melaksanakan 83 operasi modifikasi cuaca, terutama di wilayah barat dan tengah Indonesia untuk mencegah bencana hidrometeorologi, kebakaran hutan lahan, dan meningkatkan tampungan air di bendungan dan waduk.
- Pemprov Jakarta siap lakukan modifikasi cuaca hingga 1 Februari
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di Indonesia akan berlangsung hingga Maret 2026. Fenomena iklim global seperti La Nina maupun El Nino diperkirakan tidak akan terjadi hingga akhir tahun 2026.
"Kalau yang dimaksud Pulau Jawa, Bali dan Sumatra, (musim hujan) berakhir kira-kira di sekitar Februari sampai Maret 2026. Bulan April, Mei Juni hingga September itu masuk musim kemarau," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani pada Rabu (28/1/2026) di Jakarta Pusat.
Ia menambahkan musim hujan kembali mengguyur Tanah Air pada Oktober 2026. Faisal juga menyebut kondisi di bagian utara jalur ekuator memiliki situasi yang berbeda.
"Saya berikan contoh untuk area di Sumatra, seperti Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Di sana memiliki kondisi dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau," tutur dia.
Saat ini situasinya sudah masuk ke awal musim kemarau di daerah Aceh, Sumatra Utara, Riau dan Sumatra Barat. Kondisi di sana tidak begitu kering.
"Tetapi, karhutla (kebakaran hutan dan lahan) masih berpotensi terjadi," imbuhnya.
1. BMKG sebut modifikasi cuaca tidak membahayakan lingkungan

Lebih lanjut, Faisal mengatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan tidak membahayakan lingkungan. Hal itu tak merusak kualitas air secara signifikan. Pernyataan itu untuk merespons kritik dari kelompok masyarakat sipil yang menyebut musim hujan yang menyebabkan banjir malah dijawab dengan modifikasi cuaca.
"Perlu kami sampaikan bahwa untuk modifikasi cuaca itu, itu sebenarnya tidak membahayakan," ujar Faisal.
Ia menambahkan bahan yang digunakan untuk modifikasi cuaca telah melalui kajian. Berdasarkan kajian itu, OMC aman bagi lingkungan. Bahan yang digunakan untuk modifikasi cuaca yakni Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO).
"Penggunaan NaCl ya untuk dapat menurunkan hujannya, penggunaan kapur tohor, hingga KCl untuk flare, itu sudah terbukti tidak menimbulkan efek lingkungan yang signifikan," tutur dia.
Ia menggarisbawahi sudah memantau kualitas air di badan air dan tidak secara signifikan dapat mengurangi kualitas air.
2. BMKG sudah lakukan 83 operasi modifikasi cuaca

Faisal juga menyebut sejauh ini BMKG telah melaksanakan 83 operasi modifikasi cuaca. OMC, katanya, banyak dilakukan di wilayah barat dan tengah Indonesia. Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
"(Modifikasi cuaca) karena ada yang untuk mencegah terjadinya bencana hidrometeorologi," ujar Faisal.
Selain itu, kata dia, modifikasi cuaca juga dilakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan lahan OMC juga dimanfaatkan untuk meningkatkan tampungan air di bendungan dan waduk.
"Untuk dapat mengantisipasi terjadinya karhutla atau kebakaran hutan dan lahan, serta untuk dapat meningkatkan tampungan-tampungan di daerah, bendungan atau di daerah waduk," tutur dia.
3. Pemprov Jakarta siap lakukan modifikasi cuaca hingga 1 Februari

Sementara, banjir masih terus menghantam di wilayah Jakarta dan daerah penyangga pada Kamis (29/1/2026). Padahal, BMKG memprediksi cuaca ekstrem masih akan terjadi di area Jadebotabek hingga 1 Februari 2026. Maka, Pemprov DKI Jakarta mengaku siap untuk memperpanjang periode operasi modifikasi cuaca.
"Hasil (prediksi) BMKG memang ada kemungkinan (cuaca ekstrem) sampai tanggal 1 Februari. Sehingga, masih perlu dilakukan OMC. Anggarannya sudah dialokasikan, jadi kalau memang masih diperlukan, kami akan lakukan," ujar Pramono di Jakarta Utara pada Selasa kemarin.
Langkah itu diambil untuk mencegah dampak curah hujan tinggi yang berpotensi menimbulkan banjir seperti yang terjadi beberapa hari terakhir. Pramono menyebut OMC menjadi bagian dari penanganan jangka pendek dalam pengendalian banjir di Jakarta.
"Yang paling penting jangan sampai curah hujan tinggi ini kembali menimbulkan banjir yang besar. Itu yang kami antisipasi," tutur gubernur dari PDI Perjuangan (PDIP) itu.


















