Sun Yat Sen, Presiden Republik of China, pada tahun 1912 (Public Domain Wikimedia.org)
Ketegangan terkait perayaan ini memperlihatkan kembali perbedaan pandangan sejarah yang telah berlangsung puluhan tahun di Selat Taiwan. Setelah era revolusi, Sun mendirikan Republik China (ROC) yang pemerintahannya kemudian berpindah ke Taiwan pada 1949 usai kalah dalam perang saudara melawan kubu komunis pimpinan Mao Zedong. Hingga saat ini, ROC tetap menjadi nama resmi kenegaraan Taiwan, dengan potret Sun dipajang di Istana Kepresidenan serta dihormati sebagai Bapak Bangsa, meski ajaran Tiga Prinsip Rakyat miliknya kini tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib di sekolah.
Sebaliknya, pemerintah Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang harus dipersatukan kembali dengan daratan utama. Presiden Taiwan, Lai Ching-te, bersama partainya, DPP, tetap mempertahankan jati diri masyarakat serta merujuk pada peran historis ROC yang telah berdiri sebelum berdirinya Republik Rakyat China. Kendati kerap dicap sebagai figur separatis dan jalur komunikasi resmi telah diputus oleh Beijing, Lai menegaskan bahwa masa depan Taiwan sepenuhnya harus ditentukan oleh rakyat Taiwan sendiri.