Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Korban Tewas Gempa M 7,1 di Jepang Bertambah Jadi 30 Orang
Tim penyelamat gempa Kumamoto, Jepang. (消防庁 Fire and Disaster Management Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Gempa magnitudo 7,1 di Prefektur Kumamoto, Jepang, menewaskan 30 orang. Ribuan personel masih mencari korban di lokasi terdampak, termasuk mal Aeon dan pabrik Nippon Paper.
  • Kerusakan meluas meliputi bangunan roboh, jembatan rusak, kebakaran, serta gangguan listrik dan air. Sekitar 15 ribu warga mengungsi di hampir 400 penampungan amid lebih dari 100 gempa susulan.
  • Operasi penanganan menghadapi suhu hingga 39 derajat Celsius. Pemerintah mengirim 300 pendingin udara, sementara puluhan ribu rumah masih mengalami pemadaman listrik dan gangguan air bersih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times Jumlah korban tewas akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang barat daya, bertambah menjadi 30 orang pada Kamis (30/7/2026). Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan tim penyelamat masih terus melakukan pencarian korban selamat di sejumlah lokasi terdampak.

Dilaporkan oleh BBC, ribuan personel telah dikerahkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Salah satu fokus utama berada di pusat perbelanjaan Aeon di Kota Kashima, yang mengalami kerusakan paling parah setelah sebagian lantai duanya runtuh akibat gempa.

Tim penyelamat juga terus menyisir pabrik Nippon Paper di Kota Yatsushiro. Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas setelah sebagian bangunan pabrik ambruk akibat gempa. Perusahaan menyatakan sebanyak 11 pekerja sempat terjebak di dalam bangunan. Hingga Rabu, tujuh orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.

Gempa yang terjadi pada Selasa lalu telah menyebabkan kerusakan luas, mulai dari rumah-rumah yang roboh, jembatan rusak, kebakaran, hingga memutus pasokan listrik dan air bersih bagi puluhan ribu warga. Lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat sejak guncangan utama terjadi. Banyak warga memilih bermalam di dalam mobil karena khawatir akan gempa susulan.

1. Pengungsi dan tim penyelamat hadapi suhu ekstrem

Tim penyelamat gempa Kumamoto, Jepang. (防衛省(Ministry of Defense, Japan), CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Para pengungsi dan tim penyelamat di lapangan menghadapi ancaman suhu udara yang sangat tinggi. Badan Meteorologi Jepang memperkirakan suhu di Kumamoto dapat mencapai 39 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah mengimbau warga dan tim penyelamat agar mewaspadai risiko serangan panas atau heatstroke.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengumumkan pengiriman 300 unit pendingin udara. 150 unit di antaranya diperuntukkan bagi pusat-pusat evakuasi di Kumamoto.

Mengutip The Guardian, pemerintah daerah Kumamoto menyebut sekitar 15 ribu orang mengungsi di hampir 400 lokasi penampungan. Di sebuah pusat komunitas di Kota Uki, ratusan warga lanjut usia terlihat beristirahat di atas tikar tipis di lantai keras untuk menghindari suhu panas.

Hingga Kamis pagi, sekitar 22.670 rumah dan fasilitas masih mengalami pemadaman listrik. Sementara itu, sekitar 84 ribu rumah juga masih menghadapi gangguan pasokan air bersih. Rekaman televisi lokal memperlihatkan warga mengantre untuk memperoleh bahan bakar dan air minum.

2. Pusat perbelanjaan Aeon dipenuhi ribuan pengunjung saat terjadi gempa

Pusat perbelanjaan Aeon di Kota Kashima, Jepang. (Sanjo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Sekitar 170 petugas penyelamat dikerahkan untuk menyisir puing-puing di pusat perbelanjaan Aeon di Kota Kashima, yang saat gempa terjadi dipenuhi ribuan pengunjung. Manajemen Aeon mengatakan bahwa sekitar 3 ribu pengunjung berhasil dievakuasi ke area parkir sebelum terjadi ledakan di bagian lain gedung.

Sebanyak 12 orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan pusat perbelanjaan tersebut. Namun, enam di antaranya meninggal dunia. Aeon mengatakan seluruh korban tewas merupakan karyawan toko yang kembali memasuki gedung setelah proses evakuasi selesai.

Presiden Aeon membungkuk untuk menyampaikan permintaan maaf pada Rabu. Pihaknya mengaku telah gagal mengantisipasi ledakan tersebut. Pemimpin itu mengatakan bahwa ledakan yang terjadi kemungkinan besar berasal dari gas, meski penyebab pastinya masih diselidiki.

Rekaman media Jepang dari dalam gedung memperlihatkan sebagian plafon runtuh, sementara potongan logam, kabel yang menjuntai, dan puing-puing bangunan berserakan di berbagai sudut pusat perbelanjaan. Petugas penyelamat dengan pakaian pelindung oranye dan helm putih terlihat menyisir gedung untuk mencari korban.

3. Letak geografis membuat Jepang menjadi langganan gempa

bendera Jepang (unsplash.com/Romeo A)

Jepang merupakan salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia karena berada di atas empat lempeng tektonik utama yang membentang di kawasan Cincin Api Pasifik. Kepulauan Jepang yang dihuni sekitar 125 juta penduduk mengalami ratusan gempa setiap tahun dan menyumbang sekitar 18 persen dari total gempa bumi di dunia, dilansir CNA.

Prefektur Kumamoto pernah dilanda dua gempa besar pada 2016 yang menewaskan 273 orang dan melukai lebih dari 2.800. Sejumlah warga mengatakan gempa pada Selasa merupakan guncangan terbesar yang pernah mereka rasakan sepanjang hidup. Otoritas Informasi Geospasial negara itu melaporkan beberapa permukaan tanah bergeser hingga 87 sentimeter akibat gempa tersebut.

Negeri Sakura juga masih dibayangi tragedi gempa berkekuatan magnitudo 9,0 pada 2011 yang memicu tsunami besar. Bencana tersebut menyebabkan sekitar 18.500 orang hilang serta mengakibatkan krisis di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article