Unggahan PM Jepang soal Tidur 0-3 Jam Picu Perdebatan Budaya Kerja

- PM Jepang Sanae Takaichi mengaku rutin tidur nol hingga tiga jam sejak menjabat, karena meninjau dokumen negara, menangani ribuan email, serta mengurus pekerjaan rumah tangga.
- Pernyataan itu memicu kritik oposisi yang mengkhawatirkan dampak kurang tidur pada kesehatan dan pengambilan keputusan; mereka meminta Takaichi mendelegasikan tugas dan beristirahat.
- Pemerintah menyatakan Takaichi tidak menolak keseimbangan kerja-hidup dan telah diingatkan beristirahat, sementara respons publik terbelah antara memuji dedikasi dan mengkritik glorifikasi kerja berlebihan.
Jakarta, IDN Times - Sebuah unggahan di media sosial dari Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, yang mengeluhkan kurang tidur kronis dan beban kerja berat telah memicu perdebatan luas. Unggahan ini kembali menyoroti budaya kerja ekstrem di Jepang yang identik dengan jam kerja panjang dan beban kerja berlebihan, di tengah upaya pemerintah sendiri yang tengah mendorong reformasi keseimbangan hidup dan bekerja.
Melalui unggahanya di platform X pada 20 Juli 2026, Takaichi mengatakan bahwa sejak menjabat sebagai PM pada Oktober tahun lalu, tidur hanya nol hingga tiga jam telah menjadi rutinitas. Ia mengaku menghabiskan malam untuk meninjau dokumen kenegaraan hingga dini hari, sekaligus merangkap pekerjaan rumah tangga.
Takaichi juga mengungkapkan bahwa selama libur akhir pekan tiga hari ia kewalahan menangani ribuan email yang menumpuk. Ia juga membaca berbagai dokumen penting, termasuk rancangan kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah. Menurutnya, ia baru bisa tidur selama lima jam untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dilansir Kyodo News pada Minggu (26/7/2026).
1. Pernyataan Takaichi yang menimbulkan gejolak di antara anggota parlemen
Unggahan tersebut segera memicu reaksi dari berbagai kalangan. Banyak pihak mempertanyakan apakah seorang kepala pemerintahan seharusnya bekerja dengan pola yang berpotensi mengganggu kesehatan dan kualitas pengambilan keputusan.
Pemimpin Partai Demokrat untuk Rakyat (DPP) dari pihak oposisi, Yuichiro Tamaki, menilai Takaichi memang dikenal sebagai sosok pekerja keras. Namun, ia menegaskan bahwa seorang PM perlu mendelegasikan sebagian tugas agar dapat fokus pada tanggung jawab yang hanya bisa dijalankan oleh pemimpin negara. Tamaki juga menekankan bahwa beristirahat merupakan bagian dari tugas seorang perdana menteri.
"Lingkungan kerja Takaichi seharusnya memberikan dukungan yang lebih besar, termasuk meringankan pekerjaan administratif maupun urusan rumah tangga agar ia dapat mengambil keputusan penting dalam kondisi prima," ujar Tamaki, dilansir Mainichi.
Kekhawatiran serupa datang dari anggota oposisi lainnya. Anggota parlemen Toru Kunishige memperingatkan bahwa kurang tidur berkepanjangan dapat mengganggu kemampuan mengambil keputusan dan meningkatkan risiko dalam penanganan krisis nasional.
2. Pemerintah Jepang ingatkan Takaichi untuk luangkan waktu beristirahat

Menanggapi polemik tersebut, Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara membela PM Jepang dalam konferensi pers. Ia menegaskan bahwa PM Takaichi tidak bermaksud menolak pentingnya konsep keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Partai Demokrat Liberal (LDP), Takayuki Kobayashi, menyatakan PM tetap dalam kondisi baik. Ia mengaku telah mengingatkan Takaichi agar meluangkan waktu untuk beristirahat di tengah beban kerja yang sangat berat.
3. Cuitan Takaichi mendapat respon beragam di media sosial

Ini bukan pertama kalinya Takaichi menjadi sorotan karena pandangannya mengenai pekerjaan. Tidak lama setelah terpilih sebagai pemimpin LDP, ia pernah berjanji akan 'bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, dan bekerja'. Pernyataan tersebut sempat menjadi salah satu ungkapan paling populer di Jepang, tetapi juga dikritik karena dianggap mengagungkan budaya kerja berlebihan.
Di media sosial, tanggapan publik terbelah menyikapi curahan hati tersebut. Sejumlah pengguna memuji dedikasi tinggi Takaichi, di sisi lain ada yang menilai unggahan tersebut hanya menonjolkan citra bekerja keras tanpa memberikan contoh kepemimpinan yang sehat. Beberapa bahkan menyarankan agar Takaichi mempercayakan pekerjaan rumah tangga kepada orang lain.
Sebagian pihak menduga unggahan tersebut bermotivasi politis, guna mendulang simpati publik. Isu ini mencuat di tengah tren penurunan peringkat persetujuan kabinet, menyusul kontroversi revisi Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran baru-baru ini.




















