Gempa M 7,1 di Jepang Tewaskan Bertambah Jadi 13 Orang

- Gempa magnitudo 7,1 di Kumamoto, Jepang, menewaskan 13 orang, melukai ratusan warga, dan memaksa 9.186 orang mengungsi ke 506 pusat evakuasi di lima prefektur.
- Pencarian korban terus dilakukan, termasuk di pabrik kertas Yatsushiro dengan sembilan pekerja hilang; militer mengerahkan 3.600 personel dan 20 pesawat untuk tanggap darurat.
- Lebih dari 60 gempa susulan tercatat, sementara pemadaman listrik, krisis air bersih, gangguan transportasi, telekomunikasi, serta kerusakan jalan dan bangunan melanda wilayah terdampak.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 13 orang meninggal dunia setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang bagian selatan, Selasa (28/7/2026). Gempa tersebut juga menyebabkan ratusan orang terluka, memicu kerusakan infrastruktur, serta memaksa ribuan warga mengungsi.
Pemerintah Jepang menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung, karena sejumlah orang dilaporkan masih terjebak di lokasi-lokasi terdampak. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan waktu menjadi faktor yang sangat menentukan dalam proses evakuasi korban.
“Masih ada orang-orang yang menunggu untuk diselamatkan, dan ini adalah perlombaan melawan waktu. Kami akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menemukan dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang,” katanya, dikutip dari Japan Times, Rabu (29/7/2026).
Gempa terjadi pada Selasa sore dan mencapai intensitas maksimum 7 pada skala seismik Jepang (shindo), yang menunjukkan guncangan sangat kuat. Hingga Rabu pagi, lebih dari 9.000 warga mengungsi ke 506 pusat evakuasi yang tersebar di lima prefektur, termasuk Kumamoto dan Fukuoka.
1. Ratusan korban terluka, ribuan rumah kehilangan listrik

Juru Bicara Pemerintah Jepang Minoru Kihara mengatakan tujuh orang mengalami luka berat, dan sedikitnya 29 lainnya mengalami luka ringan. Sementara itu, lebih dari 350 orang telah mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Kami menerima laporan tujuh orang mengalami luka serius dan 29 orang mengalami luka ringan. Selain itu, hingga pukul 07.00 pagi hari ini, sebanyak 9.186 orang telah mengungsi ke 506 pusat evakuasi di lima prefektur, termasuk Kumamoto dan Fukuoka,” ujar Kihara.
Tim penyelamat masih melakukan pencarian di sejumlah lokasi, termasuk sebuah pabrik kertas di Kota Yatsushiro yang cerobongnya runtuh akibat gempa. Dua pekerja ditemukan dalam kondisi henti jantung dan telah dilarikan ke rumah sakit, sementara sembilan pekerja lainnya masih dinyatakan hilang.
Ledakan juga terjadi di pusat perbelanjaan Aeon di Kumamoto sesaat setelah gempa. Dua perempuan berusia 20-an tahun dilaporkan meninggal dunia, sementara seorang korban lainnya mengalami henti jantung. Pihak Aeon menyatakan seluruh pengunjung dan karyawan telah dievakuasi setelah gempa pertama terjadi, sedangkan penyebab ledakan masih diselidiki.
Militer Jepang mengerahkan sekitar 3.600 personel dan 20 pesawat untuk mendukung operasi tanggap darurat. Ratusan petugas penyelamat dari prefektur tetangga juga diterjunkan ke wilayah terdampak.
2. Puluhan gempa susulan terjadi dan menyebabkan gangguan infrastruktur

Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperingatkan potensi gempa susulan kuat masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. Hingga Rabu pagi, lebih dari 60 gempa susulan telah tercatat dengan magnitudo berkisar antara 1 hingga 4.
JMA sebelumnya sempat mengeluarkan peringatan tsunami setelah gempa utama terjadi. Namun, peringatan tersebut dicabut sekitar dua jam kemudian setelah tidak ditemukan gelombang tsunami yang membahayakan.
Gempa juga menyebabkan sekitar 50.000 rumah tangga mengalami pemadaman listrik dan sekitar 140 ribu rumah kehilangan pasokan air bersih. Suhu yang diperkirakan mencapai lebih dari 35 derajat Celsius meningkatkan risiko serangan panas bagi warga yang mengungsi tanpa akses pendingin ruangan maupun air bersih.
Layanan kereta cepat Shinkansen dan kereta lokal di Kyushu sempat dihentikan untuk pemeriksaan keselamatan, sementara Bandara Kumamoto menutup landasan pacunya sehingga sejumlah penerbangan dibatalkan atau dialihkan. Gangguan juga terjadi pada layanan telekomunikasi akibat terputusnya pasokan listrik dan jaringan transmisi.
3. Jepang waspadai gempa susulan

Meski berkekuatan besar, jumlah bangunan yang runtuh relatif terbatas karena Jepang menerapkan standar konstruksi tahan gempa yang ketat. Teknologi bangunan modern dinilai mampu mengurangi dampak guncangan dan menekan jumlah korban jiwa.
Namun demikian, sejumlah rumah dilaporkan ambruk, jalan dan jembatan mengalami kerusakan, serta kebakaran terjadi di beberapa lokasi. Rumah sakit di wilayah terdampak juga menghadapi gangguan akibat kebocoran air, padamnya listrik, dan kerusakan peralatan medis.
“Kami sudah menerima laporan adanya korban luka. Di beberapa daerah terjadi pemadaman listrik dan kebakaran, serta kerusakan jalan, jembatan, dan runtuhnya bangunan. Saya meminta semua orang mengambil langkah untuk melindungi diri, termasuk mengungsi ke tempat yang aman,” kata Takaichi.
Gempa kali ini kembali membangkitkan trauma warga Kumamoto yang pernah dilanda gempa besar pada 2016. Bencana tersebut menewaskan ratusan orang dan merusak ribuan bangunan, termasuk Kastel Kumamoto yang menjadi salah satu ikon wisata Jepang.
Jepang merupakan salah satu negara paling rawan gempa di dunia karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Sekitar 20 persen gempa berkekuatan magnitudo 6 atau lebih di dunia terjadi di wilayah Jepang.
















