ilustrasi militer di hutan (pexels.com/Danilo Arenas)
Ketegangan geopolitik turut memuncak di Zona Demiliterisasi menyusul insiden ledakan ranjau darat yang melukai tiga tentara Korsel. Investigasi gabungan antara Seoul dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan bahwa ranjau-ranjau mematikan itu telah ditanam oleh Korut di sisi selatan Garis Demarkasi Militer sejak lebih dari setahun silam.
Pemerintah Seoul mengecam keras penanaman tersebut sebagai pelanggaran telak Perjanjian Gencatan Gersenjata sekaligus membuka pintu dialog damai. Sebaliknya, Pyongyang menolak mentah-mentah segala tuduhan dan melayangkan ancaman balasan atas setiap bentuk provokasi.
Saudara perempuan pemimpin Korut, Kim Yo Jong, mengecam tuntutan permintaan maaf yang dilayangkan Seoul serta menolak bantuan peralatan medis. Kim Yo Jong bahkan menyebut tawaran dialog dari Presiden Korsel Lee Jae Myung sebagai puncak dari lelucon politik.
Di tengah ketegangan yang membara, Seoul sebelumnya sempat mengusulkan perundingan militer guna memverifikasi titik batas wilayah serta memulihkan saluran komunikasi. Kendati demikian, Korut justru memilih mengumumkan rencana melanjutkan siaran propaganda perbatasan serta mengerahkan sistem senjata anyar tanpa memberikan tanggapan resmi kepada Seoul.