Trump Beri Selamat Terpilihnya Pemimpin Separatis di Quebec Kanada

- Donald Trump mengucapkan selamat kepada Paul St-Pierre Plamondon usai kemenangan Partai Quebecois di Quebec, tindakan tidak lazim karena menyasar pemimpin provinsi dan terkait isu separatisme.
- Trump juga memberi selamat kepada premier British Columbia Lorne Doerkson, tetapi pengamat menilai ia salah memahami politik konservatif Kanada; Doerkson kerap mengkritik tarif Trump.
- Plamondon menjanjikan konsultasi kemerdekaan Quebec, namun menunda referendum selama Trump menjabat hingga 2029 dan memprioritaskan layanan publik, biaya hidup, perumahan, serta tunawisma.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengucapkan selamat atas kemenangan Paul St-Pierre Plamondon di pemilihan umum (pemilu) Provinsi Quebec, Kanada pada Rabu (28/10/2026). Pernyataan ini disampaikan 3 pekan usai dinyatakan politikus dari Partai Quebecois (PQ) itu menang.
Pernyataan Trump ini tidak umum karena presiden AS hanya mengucapkan selamat kepada pemimpin negara lain yang menang pemilu bukan kepala pemerintahan provinsi setingkat gubernur. Selain itu, komentar ini juga menyinggung kabar St-Pierre Plamondon yang mendorong Quebec memisahkan diri dari Kanada.
1. Trump ucapkan selamat terpilihnya politikus konservatif di British Columbia

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Pada saat bersamaan, Trump juga mengucapkan selamat kepada Lorne Doerkson yang terpilih menjadi kepala pemerintahan atau premier di British Columbia. Menurutnya, hasil ini adalah kemenangan besar karena paham konservatif semakin menguat di Kanada.
Menurut ilmuwan politik di Universitas Toronto, Nelson Wiseman, dilansir The Globe and Mail, Trump salah paham soal Partai Konservatif Kanada. Sebab, Doerkson sendiri kerap mengkritik Trump mengenai kebijakan tarifnya kepada Kanada dan punya hubungan baik dengan Perdana Menteri (PM) Kanada, Mark Carney.
Wiseman menilai bahwa popularitas Carney mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir imbas perang dagang. Alhasil, dukungan kepada Carney akan semakin melonjak jika Trump terus menyerangnya.
2. Plamondon tidak akan selenggarakan referendum Quebec selama Trump masih menjabat

Premier Quebec, Paul St-Pierre Plamondon. (UnPingouin, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Pada Agustus, St-Pierre Plamondon mengatakan bahwa pemerintahan PQ tidak akan mengadakan referendum hingga Trump masih menjabat. Ia menekankan terdapat prioritas lain untuk warga Quebec hingga 2029.
“PQ akan berkonsultasi dengan warga Quebec soal kemerdekaan Quebec pada periode pertama ini jika terpilih. PQ memastikan tidak akan menyelenggarakan referendum kemerdekaan Quebec selama Donald Trump masih jadi presiden AS,” tegasnya, dikutip dari Global News.
Plamondon memastikan PQ akan berfokus pada mengembalikan keteraturan layanan publik dengan mengurangi birokrasi. Selain itu, menekan biaya hidup secara efektif dan merespons krisis rumah, serta mengurangi tunawisma di Quebec.
3. Plamondon sebut Quebec alami krisis eksistensi

ilustrasi bendera Quebec (unsplash.com/hspink) Dalam kampanyenya pada April 2026, Plamondon menekankan bahwa Quebec sudah mengalami krisis eksistensi. Pemimpin PQ itu menjanjikan referendum kemerdekaan Quebec yang ketiga kalinya untuk memisahkan diri dari Kanada.
Politikus berusia 47 tahun itu kerap terlibat perselisihan dengan Carney. Ia menilai pemerintah federal Kanada sudah menggerus yurisdiksi Quebec, termasuk dalam sektor perumahan dan kesehatan yang terdampak kelangkaan.
Sebelumnya, provinsi yang didominasi penutur bahasa Prancis itu sudah mengadakan referendum pada 1980 dan 1995. Namun, mayoritas dari warga Quebec memilih tetap bergabung dengan Kanada.





















