Sebelum serangan terjadi, pasukan militer Ukraina sudah mengeluarkan peringatan serangan dari Rusia. Tidak lama setelah itu, Kota Kyiv langsung dibombardir rudal dan drone dari Rusia. Saat serangan terjadi, terdengar suara ledakan yang cukup keras dari seluruh penjuru Kyiv. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, bahkan mengatakan serangan itu “terasa sangat mengerikan”.
Kota Kyiv Ukraina Dihujani Rudal dan Drone Rusia, 4 Orang Tewas

- Kyiv diserang rudal dan drone Rusia, menewaskan 4 orang serta melukai lebih dari 50 warga, dengan sejumlah bangunan tempat tinggal ikut rusak.
- Serangan Rusia disebut sebagai balasan atas serangan Ukraina di Starobilsk yang menewaskan 18 orang, meski Ukraina membantah menyerang asrama mahasiswa.
- Upaya negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina bersama AS sudah tiga kali digelar namun gagal, sementara Putin menyatakan siap bertemu Zelenskyy untuk bahas perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Ibu Kota Ukraina, Kyiv, dihujani serangan rudal dan drone Rusia pada Sabtu (23/5/2026) malam hingga Minggu (24/5/2026) pagi waktu setempat. Menurut otoritas setempat, serangan tersebut menewaskan setidaknya 4 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya. Selain itu, serangan juga merusak beberapa bangunan tempat tinggal yang ada di Kyiv.
1. Serangan dilakukan Rusia untuk membalas Ukraina

Serangan masif yang dilakukan Rusia di Kyiv tadi diduga bertujuan untuk membalas serangan Ukraina. Sebab, Ukraina telah lebih dulu meluncurkan serangan ke sebuah asrama mahasiswa di Kota Starobilsk, salah satu wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia, pada Jumat (22/5/2026) lalu. Dilansir BBC, serangan itu menewaskan setidaknya 18 orang.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menuduh Ukraina berada di balik serangan tersebut. Namun, Ukraina membantah tuduhan itu. Pasukan militer Ukraina menjelaskan, mereka memang melakukan serangan ke Starobilsk. Namun, serangan tidak ditujukan ke asrama mahasiswa yang ada di sana, tetapi ke pangkalan militer Rusia.
2. Putin pernah menyebut perang Rusia dan Ukraina akan segera usai

Hingga saat ini, perang Rusia dan Ukraina masih berlanjut. Padahal, beberapa waktu lalu, Putin menyebut perang kedua negara yang kini sudah genap berjalan empat tahun bakal segera usai. Sebab, ia mengklaim Rusia sudah menang telak atas Ukraina.
“Kemenangan akan selalu menjadi milik kita. Hal ini (perang dengan Ukraina) akan segera berakhir,” ujar Putin dalam pidatonya di acara peringatan 81 tahun kemenangan Rusia atas Nazi Jerman yang digelar pada 9 Mei, seperti dilansir Al Jazeera.
3. Rusia dan Ukraina sudah berkali-kali melakukan negosiasi damai

Untuk mengakhiri perang, Rusia dan Ukraina sebetulnya sudah berkali-kali menggelar negosiasi damai bersama Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. Negosiasi pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, UEA, pada 23–24 Januari dan pada 4–5 Februari 2026. Namun, kedua upaya itu gagal menghasilkan perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Negosiasi damai tahap ketiga juga sudah dihelat di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari. Sayangnya, negosiasi tersebut lagi-lagi gagal menghasilkan perdamaian. Ini membuat proses perdamaian antara Rusia dan Ukraina berjalan alot. Beberapa waktu lalu Putin sempat mengatakan bahwa ia siap bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di Moskow untuk menyepakati perdamaian. Namun, hingga saat ini, belum ada kelanjutan dari rencana tersebut.



















