Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Putin ke Beijing Usai Kunjungan Trump, Ini 3 Target Besar Rusia dari China

Putin ke Beijing Usai Kunjungan Trump, Ini 3 Target Besar Rusia dari China
ilustrasi bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)
Intinya Sih
  • Putin mengunjungi Beijing untuk menegaskan kedekatan Rusia–China dan memastikan dukungan diplomatik Beijing di tengah tekanan Barat serta perang Ukraina.
  • Rusia mengejar persetujuan proyek pipa gas Power of Siberia 2 guna memperluas ekspor energi ke China setelah pasar Eropa menurun akibat sanksi internasional.
  • Kunjungan ini juga bertujuan memperkuat kerja sama perdagangan dan teknologi, menjadikan China mitra ekonomi utama Rusia di tengah isolasi dari negara-negara Barat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke China jadi sorotan dunia internasional setelah Presiden AS Donald Trump lebih dulu datang ke Beijing. Momen ini dianggap bukan kebetulan. Sebab, Rusia ingin menunjukkan bahwa hubungan mereka dengan China masih sangat dekat.

Di tengah perang Ukraina dan tekanan sanksi Barat, Rusia memang makin bergantung pada China dalam banyak sektor. Mulai dari urusan diplomasi, energi, sampai perdagangan, semuanya jadi agenda penting dalam pertemuan tersebut. Apalagi hubungan Rusia dengan negara-negara Eropa terus memburuk sejak invasi ke Ukraina terjadi. Karena itulah perjalanan Putin ke Beijing kali ini membawa beberapa target besar yang ingin segera diamankan.

1. Memperkuat posisi Rusia di mata China

ilustrasi China atau Tiongkok
ilustrasi China atau Tiongkok (unsplash.com/Catgirlmutant)

Putin datang ke Beijing dengan misi mempertegas bahwa Rusia masih menjadi sekutu geopolitik paling dekat bagi China. Langkah ini penting karena beberapa hari sebelumnya Trump baru saja menyelesaikan kunjungan kenegaraan ke Beijing dengan membawa sejumlah kesepakatan dagang dan diplomatik. Rusia tentu gak mau posisinya tergeser oleh Amerika Serikat di mata China. Apalagi selama lebih dari satu dekade terakhir, Putin dan Presiden China Xi Jinping dikenal memiliki hubungan yang cukup erat.

Dilansir CNBC, Ed Price, peneliti senior non-residen dari New York University, menjelaskan bahwa kunjungan Putin merupakan sinyal kepada Amerika bahwa hubungan Rusia dan China jauh lebih dekat dibanding hubungan Beijing dengan Washington. Rusia juga berharap China tetap memberikan dukungan diplomatik terkait perang Ukraina. Dukungan tersebut penting karena Rusia masih menghadapi tekanan besar dari negara-negara Barat dan NATO di kawasan Eropa Timur. China sendiri dinilai ingin menjaga stabilitas hubungan dengan Rusia karena kedua negara berbagi perbatasan yang sangat panjang.

2. Mengejar proyek besar energi dari China

ilustrasi energi gas, gas pipeline
ilustrasi energi gas, gas pipeline (pexels.com/Mumtaz Niazi)

Salah satu target terbesar Putin dalam lawatan ini adalah mendapatkan lampu hijau proyek pipa gas Power of Siberia 2. Proyek tersebut nantinya akan menghubungkan Rusia dan China melalui Mongolia untuk memperbesar ekspor gas Rusia ke China. Rusia sangat membutuhkan proyek ini karena pasar energi mereka di Eropa mengalami penurunan drastis akibat sanksi internasional. Kondisi itu membuat Rusia semakin bergantung pada pembeli energi dari Asia seperti China dan India.

Sergei Guriev dari London Business School menjelaskan bahwa China sebenarnya belum terburu-buru menyetujui proyek tersebut. China merasa pasokan energinya masih aman karena sudah memiliki sumber energi yang cukup beragam. Meski begitu, Rusia tetap berharap China segera menyetujui proyek ini demi menyelamatkan ekspor gas mereka. Di sisi lain, China juga tetap membutuhkan energi Rusia untuk menjaga keamanan pasokan energi jangka panjang mereka, terutama jika konflik di Timur Tengah semakin memanas.

3. Memperluas kerja sama perdagangan dan teknologi

ilustrasi Ukraina dan Rusia
ilustrasi Ukraina dan Rusia (magnific.com/wirestock)

Selain energi, Rusia juga ingin memperluas hubungan dagang dengan China di berbagai sektor. Sebelum perang Ukraina pecah, Rusia sangat bergantung pada Uni Eropa sebagai mitra dagang utama. Namun, setelah berbagai sanksi dijatuhkan, arus perdagangan Rusia perlahan beralih ke China. Dalam empat tahun terakhir, volume perdagangan kedua negara bahkan disebut meningkat hingga dua kali lipat.

Putin mengungkapkan bahwa hubungan Rusia dan China memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Rusia kini membutuhkan banyak produk teknologi, barang manufaktur, dan barang konsumsi dari China untuk menjaga aktivitas ekonominya tetap berjalan. Sergei Guriev juga menjelaskan bahwa China sudah menjadi mitra dagang terbesar Rusia saat ini. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Rusia semakin sulit dipisahkan dari dukungan perdagangan China.

Kunjungan Putin ke Beijing kali ini sebenarnya lebih dari sekadar pertemuan diplomatik biasa. Rusia sedang berusaha memastikan bahwa China tetap berada di pihak mereka di tengah tekanan Barat dan perang Ukraina yang belum berakhir. Mulai dari dukungan geopolitik, proyek energi besar, sampai kerja sama perdagangan, semuanya menjadi kebutuhan penting bagi Moskow saat ini.

China pun berada dalam posisi strategis karena bisa menentukan seberapa besar dukungan yang ingin diberikan kepada Rusia. Hubungan kedua negara kemungkinan masih akan terus erat, meski masing-masing tetap punya kepentingan besar yang ingin diamankan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More