Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lampaui 3.500 Kasus, Ebola di RD Kongo Jadi Wabah Terbesar Kedua di Dunia
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menginfeksi lebih dari 3.500 orang dan menewaskan 1.556 orang, menjadikannya wabah Ebola terbesar kedua yang pernah tercatat di dunia.
  • Dalam tiga bulan pertama, jumlah kematian lima kali lebih tinggi dibanding wabah sebelumnya; varian Bundibugyo yang langka belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui.
  • Pengendalian wabah terhambat konflik, serangan fasilitas kesehatan, pemotongan bantuan, serta rendahnya kesadaran dan kepercayaan masyarakat yang masih mencari pengobatan tradisional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 3.500 orang dan menewaskan 1.556 di antaranya. Angka tersebut menjadikannya sebagai wabah Ebola terbesar kedua yang pernah tercatat di dunia.

Data menunjukkan bahwa wabah yang sedang berlangsung saat ini telah melampaui wabah Ebola yang melanda DRC pada Agustus 2028 hingga Juni 2020, di mana hampir 2.300 orang tewas dari sekitar 3.500 kasus infeksi.

“Ini adalah wabah Ebola dengan penyebaran tercepat yang pernah kami saksikan. Dunia perlu memberikan perhatian yang jauh lebih besar," kata Carl Skau, pelaksana tugas Kepala Program Pangan Dunia (WFP).

1. Jumlah korban jiwa kali ini lima kali lebih banyak dibandingkan wabah-wabah sebelumnya

ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Ebola merupakan penyakit virus berbahaya dengan gejala meliputi demam, muntah, diare dan perdarahan internal. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi virus atau yang telah meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Menurut Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), dalam 3 bulan pertama sejak wabah ini dimulai, jumlah korban jiwanya lima kali lebih banyak dibandingkan wabah-wabah Ebola sebelumnya pada periode yang sama.

Sejauh ini, hanya wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014–2016 yang memiliki skala lebih besar, dengan 28.616 kasus yang dilaporkan di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

2. Vaksin masih dalam proses pengembangan

ilustrasi vaksin (unsplash.com/Mufid Majnun)

Virus yang saat ini menyebar di DRC adalah Bundibugyo, varian paling langka dari empat jenis virus Ebola yang dapat menginfeksi manusia. Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui untuk menangani varian tersebut.

Untungnya, penelitian vaksin terus menunjukkan kemajuan. Dilansir DW, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut vaksin yang dikembangkan oleh Hilleman Laboratories sebagai kandidat yang paling menjanjikan untuk melawan wabah tersebut.

Vaksin Bundibugyo lainnya juga tengah dikembangkan oleh University of Oxford. Pekan lalu, relawan pertama menerima suntikan vaksin tersebut sebagai bagian dari uji klinis yang sedang berlangsung.

3. Masalah keamanan hingga kurangnya kesadaran masyarakat menghambat upaya pengendalian wabah

ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)

Dilansir Al Jazeera, para tenaga medis menghadapi berbagai kendala di lapangan, mulai dari masalah keamanan, serangan terhadap fasilitas kesehatan di wilayah timur DRC yang dilanda konflik hingga pemotongan bantuan asing. Selain itu, rendahnya tingkat kesadaran dan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pihak berwenang juga semakin menghambat upaya pengendalian wabah.

Angele Gapio, kepala penanganan darurat organisasi amal Caritas di Kota Bunia, wilayah timur laut DRC, mengatakan bahwa kampanye untuk menyadarkan masyarakat belum membuahkan hasil, sementara para petugas di garda terdepan telah kelelahan.

"Penyakit ini kini telah menyebar luas di tengah masyarakat. Masyarakat masih terus mencari pengobatan dari tabib tradisional, sehingga rantai penularan terus berlanjut," ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article