Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Uganda Resmi Nyatakan Wabah Ebola di Negaranya Berakhir

Uganda Resmi Nyatakan Wabah Ebola di Negaranya Berakhir
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Uganda menyatakan wabah Ebola berakhir pada 28 Juli 2026 setelah 42 hari pemantauan tanpa kasus baru, menyusul kepulangan pasien terakhir pada 16 Juni.
  • Wabah di Uganda menginfeksi 20 orang; 18 sembuh dan dua warga DR Kongo meninggal. WHO menetapkannya sebagai kedaruratan kesehatan internasional pada Mei 2026.
  • DR Kongo mencatat sedikitnya 3.262 infeksi dan 1.437 kematian. Varian Bundibugyo belum memiliki vaksin atau pengobatan disetujui, sementara Oxford menguji vaksin eksperimental.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Uganda, pada Selasa (28/7/2026), mengumumkan bahwa negara tersebut telah bebas dari Ebola. Pernyataan ini disampaikan setelah berakhirnya masa pemantauan wajib selama 42 hari menyusul dipulangkannya pasien Ebola terakhir pada 16 Juni lalu.

"Selama periode ini, Kementerian Kesehatan terus melakukan pengawasan intensif di seluruh negeri, dan tidak ada kasus Ebola baru yang terdeteksi," kata Menteri Kesehatan Uganda, Chris Baryomunsi, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Meski wabah tersebut telah berakhir, Baryomunsi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan senantiasa mematuhi langkah-langkah kesehatan.

1. 20 orang terinfeksi Ebola di Uganda

ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya
ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)

Dilansir Anadolu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Uganda sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional pada Mei 2026. Penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh virus tersebut menginfeksi 20 orang. Sebanyak 18 di antaranya dinyatakan sembuh dan dipulangkan, sementara dua lainnya meninggal dunia.

Korban meninggal merupakan warga Republik Demokratik Kongo (DR Kongo), tempat wabah tersebut berasal. Menurut Kementerian Kesehatan DRC, terdapat sedikitnya 3.262 kasus infeksi di negara tersebut, dengan 1.437 di antaranya meninggal dunia. Jumlah ini hampir menyamai wabah pada 2018-2020, yang merupakan wabah Ebola terbesar yang pernah tercatat di negara tersebut.

2. Wabah Ebola yang melanda DRC menyebar dengan sangat cepat

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Ebola merupakan penyakit virus berbahaya dengan gejala meliputi demam, muntah, diare dan perdarahan internal. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi virus atau yang telah meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa wabah Ebola kali ini merupakan wabah dengan penyebaran tercepat yang pernah tercatat. Skala sebenarnya bahkan bisa mencapai 2-4 empat kali lebih besar daripada data yang dilaporkan.

"Kita harus bertindak sekarang. Jika kita tidak menghentikannya hari ini, wabah ini akan menjadi yang terburuk yang pernah dicatat di dunia," tulis Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, dalam unggahan di media sosial X bulan ini.

3. Para ilmuwan masih berupaya mengembangkan vaksin

ilustrasi vaksin (unsplash.com/Mufid Majnun)
ilustrasi vaksin (unsplash.com/Mufid Majnun)

Adapun jenis virus yang saat ini menyebar di DRC adalah Bundibugyo, varian paling langka dari empat jenis virus Ebola yang diketahui dapat menginfeksi manusia. Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui untuk menangani varian tersebut.

Sementara itu, para ilmuwan terus berpacu menemukan cara untuk mengendalikan wabah tersebut. Pekan lalu, Universitas Oxford mengumumkan bahwa kelompok relawan pertama telah menerima vaksin eksperimental yang ditujukan untuk melawan varian Bundibugyo

"Ini merupakan tonggak penting bagi uji coba tersebut dan menandai tahap selanjutnya dalam perjalanan kolaborasi multinasional kami untuk mengembangkan vaksin virus Ebola Bundibugyo," kata peneliti utama tim Oxford, Katrina Pollock.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More