Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melakukan pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping, di Gedung Putih, Washington D.C., pada Kamis (24/9/2026). Pertemuan itu digelar di sela-sela sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, AS.
Apa yang Dibahas Trump dan Xi dalam Pertemuan di Gedung Putih?

- Trump dan Xi memperpanjang gencatan senjata perdagangan AS-China selama dua bulan, melanjutkan penghentian perang tarif yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada November.
- Xi meminta Trump tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, sambil mengajak AS mengelola persaingan kedua negara melalui dialog damai dan kerja sama lebih luas.
- Trump meminta China membantu mengisolasi ekonomi Iran serta membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz agar pasokan minyak global yang terganggu dapat pulih.
Trump menyebut pertemuan dengan Xi sangat bermanfaat bagi hubungan AS dan China. Dalam pertemuan tersebut, ada sejumlah hal yang dibahas Trump dan Xi. Lantas, apa saja isu yang dibahas kedua pemimpin negara adidaya tersebut saat bertemu di Gedung Putih? Berikut ulasannya.
1. Trump dan Xi membahas soal perang dagang AS-China

ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan China (pixabay.com/viarami) Hal pertama yang dibahas Trump dan Xi dalam pertemuan Kamis kemarin adalah perang dagang antara AS dan China. Dalam kesempatan tersebut, kedua pihak sepakat untuk memperpanjang “Gencatan senjata perdagangan” antara Washington dan Beijing selama dua bulan. Perjanjian itu sebelumnya akan berakhir pada November mendatang.
Gencatan senjata perdagangan ini merujuk pada penghentian perang tarif dagang antara AS dan China. Sebab, sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025 silam, AS semakin intens mematok tarif impor tinggi untuk barang-barang impor dari China. Langkah ini dilakukan sebagai upaya Trump untuk melindungi pasar AS dari ketergantungan terhadap produk impor China.
2. Isu Taiwan juga jadi topik pembahasan Trump dan Xi

ilustrasi protes di Taiwan (unsplash.com/Winston Chen) Dalam pertemuan dengan Trump, Xi juga membawa isu sengketa wilayah antara China dan Taiwan. Terkait isu tersebut, Xi meminta Trump untuk jangan pernah mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Sebab, Xi menganggap Taiwan adalah salah satu wilayah yang mencoba melepaskan diri dari China untuk menjadi negara berdaulat.
Taiwan sendiri sudah lama berupaya memisahkan diri dari China. Sebab, Taipei menganggap mereka adalah negara merdeka dan bukan bagian dari Beijing. Namun, sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia, tidak mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat. Sebab, sebagian besar negara di dunia mendukung Kebijakan Satu China yang digagas Xi. Kebijakan ini menjadi propaganda diplomatik Xi untuk memberi pesan kepada dunia bahwa Taiwan adalah bagian dari China.
3. Trump dan Xi menyoroti hubungan AS-China

ilustrasi hubungan Amerika Serikat dan China (pexels.com/kaboompics) Dalam pertemuan di Gedung Putih, Trump dan Xi juga menyoroti hubungan antara AS dan China. Xi menggunakan Teori Thucydides Trap untuk menggambarkan hubungan antara Washington dan Beijing yang kerap diwarnai kompetisi. Dalam teori tersebut, hubungan dua negara adidaya yang sering diwarnai kompetisi berpotensi berubah menjadi perang.
Oleh karena itu, Xi mengajak Trump untuk menyelesaikan segala masalah antara AS dan China melalui dialog. Sebab, presiden yang kini berusia 73 tahun itu menganggap jalan damai adalah cara terbaik untuk menyelesaikan konflik. Selain itu, Xi juga mengajak Trump untuk meningkatkan kerja sama AS dan China di segala bidang.
4. Isu perang AS dan Iran juga dibahas selama pertemuan Trump dan Xi

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Terakhir, Trump dan Xi membahas soal perang antara AS dan Iran. Dalam pertemuan tersebut, Trump meminta Xi untuk membantu upaya AS mengisolasi ekonomi Iran. Langkah ini dilakukan agar kekuatan ekonomi Iran semakin hancur sehingga mereka tidak bisa lagi melanjutkan perang melawan AS. Menurut Trump, jika China ikut mengisolasi ekonomi Iran, kekuatan ekonomi Teheran akan makin jatuh. Sebab, Beijing merupakan salah satu mitra dagang terbesar Teheran.
Selain itu, Trump juga meminta Xi untuk membantu AS membuka dan mengamankan kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan agar pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke AS dan China, melalui Selat Hormuz kembali berjalan normal. Sebab, hingga saat ini, selat tersebut masih dikuasai dan ditutup oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sehingga pasokan minyak terganggu.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















