Latvia Siap Tampung Senjata Nuklir NATO

- Presiden Latvia Edgars Rinkevics menyatakan negaranya siap menampung senjata nuklir NATO bila disetujui bersama anggota aliansi, menyusul meningkatnya ancaman dan serangan hybrid Rusia di Baltik.
- Rinkevics menegaskan Konstitusi Latvia tidak melarang penempatan senjata nuklir. Latvia juga telah berada dalam sistem deterensi NATO serta perlindungan AS dan Inggris melalui Joint Expeditionary Force.
- Prancis sepakat memulai dialog dengan Latvia mengenai ekspansi deterensi nuklir dan berencana menambah personel militer di Baltik, sementara Polandia dan Lithuania juga berminat menampung senjata nuklir.
Jakarta, IDN Times - Presiden Latvia, Edgars Rinkevics mengatakan kesiapan negaranya untuk menampung senjata nuklir NATO pada Rabu (30/9/2026). Langkah ini menyusul semakin gencarnya ancaman dan serangan hybrid Rusia di kawasan Baltik.
Selain Latvia, beberapa negara Eropa berniat menampung senjata nuklir untuk menjamin keamanan dan mencegah ancaman Rusia. Negara yang tertarik menampung senjata nuklir tersebut adalah Polandia dan Lithuania.
1. Tidak ada batasan hukum untuk tampung senjata nuklir di Latvia

suasana di perbatasan Latvia-Rusia (Saeima, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Rinkevics menyampaikan bahwa pengiriman senjata nuklir ini hanya dilakukan atas persetujuan anggota NATO lainnya. Menurutnya, jika memang dibutuhkan dan keputusan kolektif sudah dibuat, maka pengiriman senjata nuklir di Latvia sangat mungkin.
Dilansir Democrata, presiden Latvia itu memastikan bahwa Konstitusi Latvia tidak melarang penempatan senjata nuklir di negaranya. Ia mengingatkan bahwa sejak bergabung dengan NATO, semua anggota harus saling menjaga keamanan secara kolektif.
2. Latvia masuk perlindungan nuklir dari AS dan Inggris

ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/cristina_glebova) Pada saat yang sama, Rinkevics menekankan bahwa Latvia sudah masuk dalam bagian sistem deterensi nuklir NATO. Negaranya sudah menjadi bagian dari perlindungan Amerika Serikat (AS) dan Inggris sebagai anggota Joint Expeditionary Force (JEF).
Seperti dilansir dari BNN, Rinkevics mengatakan, penggunaan senjata nuklir adalah pilihan terakhir. Senjata pemusnah massal tersebut dibuat hanya untuk mencegah invasi skala besar dan situasi keamanan yang tidak dapat diprediksi.
3. Prancis dan Latvia dialog soal deterensi nuklir

ilustrasi bendera Prancis (unsplash.com/alicetricky) Pekan lalu, Prancis setuju memulai dialog dengan Latvia soal ekspansi deterensi nuklir dalam menanggapi ancaman Rusia. Selain itu, Paris juga berniat meningkatkan jumlah personel militernya di negara-negara Baltik.
“Presiden Prancis, Emmanuel Macron setuju memulai negosiasi dengan Latvia mengenai partisipasi kami dalam inisiatif deterensi nuklir Prancis,” terang Perdana Menteri Latvia, Andris Kulbergs, dikutip dari Le Monde.
Sebagai informasi, Prancis sudah ambil bagian dalam patroli udara NATO di negara-negara Baltik, seperti Estonia, Latvia, dan Lithuania. Misi patroli udara tersebut sudah dibentuk sejak 2014 saat Rusia menganeksasi Krimea dari Ukraina.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















