Lithuania Peringatkan Agar Uni Eropa Tidak Dekat dengan China

- Pemulihan hubungan diplomatik China dan Lithuania harus diinisiasi oleh kedua pihak, bukan hanya satu pihak saja.
- PM Lithuania mengakui kesalahan membuka Kantor Perwakilan Taiwan tanpa koordinasi dengan UE dan AS.
- Lithuania tidak bersedia memenuhi permintaan China untuk memulihkan hubungan, namun tetap mengirim proposal untuk mengembalikan relasi.
Jakarta, IDN Times - Presiden Lithuania, Gitanas Nauseda, mengungkapkan bahwa China memiliki sistem pemerintahan otoriter dan berbeda dengan Uni Eropa (UE). Menurutnya, China memiliki sistem pemerintahan yang sama seperti Belarus.
“Lithuania melihat risiko jika UE terlalu dekat dengan rezim China. Sebab China sudah menyuplai teknologi ganda ke Rusia dan mendukung pengalihan sanksi dan mendukung Moskow dalam perang,” tuturnya, dikutip dari LRT, Rabu (4/2/2026).
Beberapa tahun terakhir, hubungan bilateral China dan Lithuania turun ke level terendah. Buruknya hubungan kedua negara disebabkan pembukaan Kantor Perwakilan Taiwan di Vilnius.
1. Sebut pemulihan hubungan harus diinisiasi Lithuania dan China
Nauseda menyatakan, pengembalian hubungan diplomatik China dan Lithuania harus dilakukan oleh kedua pihak. Pemulihan tidak dapat dilakukan hanya dari satu pihak saja.
“Lithuania tidak menyambut baik fakta bahwa hubungan diplomatik dengan China tidak ada secara praktiknya. Hubungan ini sudah diturunkan ke level terendah, tapi pemulihan harus diinisiasi oleh kedua negara,” katanya.
Hubungan China-Lithuania memburuk sejak 2021 setelah Vilnius bersedia membuka Kantor Representatif Taiwan. Namun, kantor tersebut dinamai Taiwan bukan Taipei yang menimbulkan kemarahan dari Beijing.
2. PM Lithuania sebut negaranya sudah salah langkah
Di sisi lain, Perdana Menteri (PM) Lithuania, Inga Ruginiene mengungkapkan bahwa Lithuania sudah salah langkah karena membuka Kantor Perwakilan Taiwan. Tindakan itu tidak dikoordinasikan dengan UE dan Amerika Serikat (AS).
“Saya pikir Lithuania sudah terjun dari kereta api dan tersesat. Ini adalah kesalahan besar jika kami bertindak sendiri. Kami mencoba, kami memiliki kantor Taiwan, tapi dunia tidak mengapresiasinya. Tidak ada yang mengapresiasinya,” ujarnya.
Ruginiene menyebut, pendekatan Lithuania kepada China seharusnya didasarkan pada posisi Eropa. Selain itu, berpegang teguh pada kepentingan nasional dibanding lainnya.
3. Lithuania tidak bersedia penuhi permintaan China
Pada Desember 2025, Kepala Penasehat Luar Negeri Lithuania, Asta Skaisgirytė, mengungkapkan, tidak ada keinginan untuk memenuhi kondisi yang diminta China. Namun, ia tidak menjelaskan apa syarat yang diminta Beijing untuk memulih hubungan.
Sebelumnya, Lithuania sudah mengirimkan proposal untuk mengembalikan hubungan dengan China. Namun, Beijing masih belum bersedia merespons proposal tersebut. Sedangkan di bawah pemerintahan PM Ruginiene, ia berniat mengembalikan relasi dengan China setingkat dengan relasi China dengan negara Eropa lainnya.


















